Muhammadiyah Perlu Media untuk Mencerahkan Indonesia

Pra Muktamar UMB

Bengkulu- Keberadaan media massa sangat menentukan bagi Muhammadiyah dalam upaya menjalankan misinya melakukan “gerakan pencerahan menuju Indonesia berkemajuan.” Sampai saat ini, bukan hanya warga Muhammadiyah, tetapi umat Islam secara umum belum mampu memiliki media massa yang dapat berkontribusi besar dalam mengembangkan berbagai gerak organisasinya.  Muhammadiyah ke depan harus memiliki media yang kuat dan mampu memanfaatkannya untuk kepentingan dakwah, gerakan Islam yang rahmatan lil alamin.

Demikian pandangan yang mengemuka dalam seminar Pra-Muktamar Muhammadiyah ke-47 bertajuk “Konvergensi Media dan Globalisasi Budaya, Pencerahan atau Pembodohan” yang digelar di kampus UMB (Universitas Muhammadiyah Bengkulu), Sabtu, 16 Mei 2014. Acara yang dirangkaikan dengan syukuran UMB meraih Akreditasi B ini, menampilkan pembicara Prof Dr Hardar Nashir (Ketua PP Muhammadiyah), Dr Indra J Piliang MSi (pengamat politik dan komunikasi), Dr Salahuddin Yahya (dosen UMB), Dra Eni Khairani MSi (anggota Dewan Perwakilan Daerah RI), Dr Erwin Santoso (dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Dr Usman Yatim MPd MSc (dosen Fikom Universitas Prof Dr Moestopo Beragama Jakarta), dan Dedi Wahyudi (Peraktisi Media).

Prof Dr Haedar Nashir sebagai pembicara kunci mengatakan, topik seminar yang dibahas di UMB ini termasuk masalah yang krusial. Kehadiran media, terlebih dalam era media konvergensi, suatu realitas yang tidak dapat dihindarkan. Media satu sisi dalam konteks penyebaran informasi sangat penting untuk instrumen dakwah, memberi pencerdasan dan pencerahan. Sebaliknya satu sisi yang lain, media menjadi suatu problem, seperti memunculkan realitas buatan yang berbenturan dengan persoalan moral. Ketika diperlukan sikap tabayyun, mengedepankan informasi yang benar, media sering memunculkan informasi tidak berdasar fakta, fitnah atau adu domba. Begitu pula, banyak informasi bernuansa ghibah, entertainment , semata hiburan yang jauh dari upaya mencerdaskan dan mencerahkan umat.

Menurut Haedar Nashir, Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah, mau tidak mau harus mengambil peran dalam memanfaatkan media massa. Kenyataan sekarang, apalagi dikaitkan dengan media konvergensi, harus diakui kita ketinggalan dalam kepemilikan media. “Ini persoalan Islam,” ucap Pemimpin Umum Majalah Suara Muhammadiyah ini. Media yang dimiliki Muhammadiyah saja diakui belum sepenuhnya diterima warganya. Masalah ini terkait dengan masih lemahnya rasa memiliki, sikap militansi yang perlu diperkuat. Diingatkan Haedar, ada baiknya kita meniru semangat orang Minang yang banyak sukses dalam berbisnis. Mereka itu walau boleh jadi produknya, dagangannya belum berkualitas tapi berupaya tetap mengkonsumsinya. Biarpun harganya lebih mahal karena produk sendiri tetap mau membelinya. “Kita harus punya media yang lebih kuat,” ucap Haedar, seraya mengingatkan tantangan Muhammadiyah 5 tahun ke depan akan lebih besar. Sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah harus terus membangun spirit Islam yang kosmopolitan, tidak sempit. Muhammadiyah melakukan gerakan pencerahan, perubahan. “Dakwah Muhammadiyah adalah yang membebaskan, memberdayakan, menjadikan Indonesia yang berkemajuan,” ujar Prof Haedar.

Indra J Piliang yang secara khusus membahas media sosial mengatakan, keberadaan media saat ini memang demikian berkembang pesat penyebarluasannya seiring kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. Apa dan siapa saja sekarang dapat menyebarluaskan informasi melalui media, terlebih media sosial yang dapat diakses dari perangkat telepon genggam. Globalisasi budaya terjadi berkat kemajuan pengembangan informasi yang bisa berdampak positif dan negatif. Kini pilihannya, kita harus menerima atau menolak. Dicontohkan Indra, China dalam upaya melakukan pencegahan infiltrasi asing, melarang keberadaan media sosial seperti facebook dan twitter, dan mereka memunculkan media sosial versi sendiri. “Saya mencek langsung, situs pornografi mampu diblokir di China,” ucap politisi Golkar ini.

Menurut Indra, menyetop media sosial adalah pilihan ekstrim yang sulit dilakukan di Indonesia karena akan ada selalu yang baru. Diingatkannya, orang-orang kaya di dunia, seperti Bill Gates, banyak bergerak dalam pengembangan teknologi komunikasi dan informasi, sehingga perkembangannya terus berlanjut yang sulit dibendung. “Andai secara ekstrim kita stop, kita akan jadi bangsa tertutup, kembali ke zaman batu. Apa memang kita mau ke sana? Yah, sekarang kita memang lagi ramai dengan batu akik,” kata Indra yang mengaku hidup dalam keluarga Muhammadiyah ini. “Media massa, media sosial memang banyak berpengaruh, ada positif dan negatifnya. Banyak tokoh politik dikerjai media karena kepentingan pemilik media. Namun mereka juga memerlukan media untuk pencitraannya,” ujar Indra J Piliang.

Usman Yatim yang tampil di akhir seminar mengatakan, Muhammadiyah mau tidak mau perlu masuk dalam pusaran konvergensi media yang kini didominasi oleh konglomerasi media. Pengembangan dan kendali opini dalam segala bidang, apakah politik, ekonomi atau budaya, nyaris semua ditentukan oleh media massa dalam jaringan konvergensi media. Konvergensi tidak hanya menyangkut jenis media massa mainstream (cetak dan elektronik) tapi juga sekaligus media sosial. Kuatnya dominasi konglomerasi media dapat saja, organisasi semacam Muhammadiyah merasa minder, tidak berdaya sehingga tidak berupaya menjadi bagian dari salah satu pemilik. Padahal dilihat dari aset amal usahanya, jaringan yang dimiliki, Muhammadiyah punya potensi besar, dalam kepemilikan jaringan media konvergensi. “Kalau Muhammadiyah tidak mampu keluar atau memutus mata rantai kegagalan mengembangkan media, terutama media massa, maka kita akan terus mengeluh, tidak berdaya menghadapi globalisasi budaya,” ucap Usman Yatim, Kepala Media Center PP Muhammadiyah ini.

Menurut Usman Yatim, keberadaan tvMu milik Muhammadiyah dapat sebagai cikal bakal keterlibatan Muhammadiyah dalam perkembangan konvergensi media. tvMu diharapkan dapat mengembangkan jaringannya dengan melibatkan sebanyak-banyaknya amal usaha Muhammadiyah, terutama perguruan tinggi yang kini jumlahnya disebut ada 176 dan sebanyak 41 di antaranya berbentuk universitas. Besarnya jumlah warga Muhammadiyah dan terkait pula dengan amal usaha merupakan modal dasar Muhammadiyah untuk memiliki media yang handal. “Pernyataan pak Prof Haedar Nasir agar kita harus memiliki media yang kuat, warga yang merasa memiliki dan punya militansi, patut disosialisasikan,” kata Usman Yatim.

Dia menambahkan, potensi iklan yang cukup besar dari amal usaha Muhammadiyah seyogyanya dapat disalurkan ke tvMu. Hanya diingatkan, tvMu dan juga media lain yang dimiliki Muhammadiyah perlu dikelola secara profesional, sungguh-sungguh, tidak setengah hati. Komitmen kebijakan dari pimpinan Muhammadiyah dari tingkat pusat hingga daerah juga sangat menentukan. “Inilah masalah utama kita. Apakah mau serius mengembangkan kepemilikan media? Apakah nanti, justru setelah muktamar, justru tvMu jadi menghilang?” kata Usman Yatim.

Rektor UMB H Ahmad Dasan SH MA dalam laporannya mengatakan, UMB sangat senang dan bangga dengan kegiatan seminar yang dikaitkan dengan upaya menyemarakkan Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar, 3-7 Agustus 2015. Sebagai universitas yang baru saja menyandang akreditasi B, UMB akan terus mengembangkan diri. “Kini Universitas Muhammadiyah Bengkulu sudah sejajar dengan universitas terkenal yang ada di pulau Sumatera,” kata Ahmad Dasan. (muhammadiyah.or.id)

 

____________________________________________________________________________________________

Related Posts

TVMu Miliki Direktur Baru
Kenapa Dzikir dan Pikir Itu Penting, Ini Penjelasannya!
Tokoh-Tokoh Penting Jadi Pemateri Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Cirebon
Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah : Kolaborasikan Pemikiran Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wa Syahadah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>