Langkah Persyarikatan Menuju Gerakan Pencerahan

DSC_08213

 

Makassar – Gerakan pencerahan dalam organisasi Muhammadiyah sudah digulirkan sejak Muktamar Muhammadiyah ke 45 tahun 2005 silam di Malang. Kini, sepuluh tahun kemudian, gerakan pencerahan masih menjadi gerakan yang relevan untuk diaplikasikan dalam dakwah praksis Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Hal itu disampaikan Haedar Nashir, Ketua PP Muhammadiyah dalam sidang pleno Muktamar Satu Abad ‘Aisyiyah Rabu kemarin (05/08) menyampaikan bahwa gerakan pencerahan Muhammadiyah lahir berdasarkan al-Qur’an yang menunjukkan Islam sebagai Diinu Tanwir (agama pencerahan). “Ada sebanyak 49 kata ‘Nur’(cahaya) dalam al-Qur’an yang menerangkan bahwa Islam adalah agama hidayah,” ucap Haedar. Haedar menambahkan bahwa  konsep pencerahan dalam Islam berarti keluar dari era gelap menuju era cahaya yang diterjemahkan oleh Muhammadiyah menjadi gerakan pencerahan. Atas dasar ini, lebih lanjut, Haedar menambahkan bahwa gerakan pencerahan Muhammadiyah-‘Aisyiyah tidak sama dengan pencerahan (aufklarung) di Barat yang hanya  berlandaskan logika dan humanisme.

Dalam sidang yang berlangsung di Balai Prajurit Makassar tersebut, Haedar mengungkapkan bahwa untuk mewujudkan gerakan pencerahan, ada lima langkah yang harus ditempuh oleh seluruh anggota persyarikatan. Pertama, gerakan pencerahan harus tercermin dalam ideologi.  Kesungguhan  dan ketangguhan pimpinan, imbuh Haedar,menjadi hal yang utama untuk menggerakkan  para kader berkiprah di organisasi. “Pimpinan harus tahan banting, jangan aktif pas mau Tanwir, pas mau Muktamar,” Haedar memberi contoh.

Kedua, harus ada  upaya  terus menerus  memajukan  pola pikir para  warga Muhammadiyah. Di hadapan forum Haedar mengusulkan untuk menghidupkan budaya diskusi dan membaca buku di lingkungan warga Muhammadiyah agar pemikiran berkembang.

Ketiga, pencerahan tercermin dalam Networking atau kerjasama. Kerjasama yang dimaksud oleh Haedar adalah kerjasama dengan berbagai pihak yang dilakukan secara efektif, produktif, dan tidak merusak tatanan sistem ideologi yang ada di persyarikatan. Lebih lanjut Haedar menekankan bahwa  setelah hampir seratus tahun perjalanan jangan sampai rusak  dengan berbagai  kepentingan,  “Harganya (ideologi) terlalu mahal. ‘Aisyiyah berusia satu abad, jangan rusak karena uang,” tambah Haedar.

Keempat, pencerahan melalui sumberdaya termasuk sumber daya manusia. Haedar berharap ‘Aisyiyah melakukan regenerasi melalui angkatan muda yang ada di organisasi Muhammadiyah seperti Nasyiatul ‘Aisyiyah dan kader yang menempuh pendidikan di amal usaha milik Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Terakhir, pencerahan harus teraktualisasi dalam bentuk praksis. Praksis dilakukan dengan membina akar rumput dan aset yang ada seperti mushola dan forum pengajian yang merupakan kekuatan  Muhammadiyah-‘Aisyiyah   sejak awal.    Ketua PP Muhammadiyah ini mengajak warga Muhammadiyah untuk mengembangkan dakwah  berbasis komunitas , yang  pro aktif dan memberi alternatif. (muhammdaiyah.or.id)

 

_______________________________________________________________________________________

Related Posts

TVMu Miliki Direktur Baru
Kenapa Dzikir dan Pikir Itu Penting, Ini Penjelasannya!
Tokoh-Tokoh Penting Jadi Pemateri Pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah di Cirebon
Pengajian Ramadhan PP Muhammadiyah : Kolaborasikan Pemikiran Pancasila sebagai Darul ‘Ahdi Wa Syahadah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>