Penjelasan Haedar Nashir Soal Paham Islam Berkemajuan

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan paham Islam Berkemajuan memiliki rujukan historis dari riwayat pengajaran agama yang dilaksanakan oleh KH Ahmad Dahlan.
Hal itu disampaikannya saat membuka Pengajian Ramadan 1444 H PP Muhammadiyah di Uhamka pada Jumat (31/3).
Dalam riwayatnya, ia menyampaikan KH Ahmad Dahlan diriwayatkan sering memakai kata ‘akal murni’, ‘akal suci’, ‘maju’ dan ‘berkemajuan’ untuk mendorong murid-muridnya. Misalkan untuk menjadi guru yang maju, kiai yang maju, atau orang Islam yang maju.
Secara organisasi, Haedar mengatakan frasa ‘memajukan’ juga tercatat tujuan Persyarikatan dalam Statuta Muhammadiyah tahun 1912 yang kemudian diperbaharui pada 1920 menjadi “menyebarluaskan hal ihwal agama Islam, di seluruh Hindia Timur”.
Dia menambahkan, kalimat dalam Statuta inilah yang kemudian diterjemahkan menjadi identitas gerakan Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, amar makruf nahi munkar, dan tajdid.
Usai KH Ahmad Dahlan wafat, Haedar mengatakan pemikiran maju ini diteruskan oleh para murid-muridnya, termasuk KH Mas Mansur dan Ir Sukarno.
Diceritakan Haedar, Ir Sukarno saat menggugat tabir di rapat Muhammadiyah Bengkulu, atau saat berkirim surat kepada A. Hassan terkait gagasan peremajaan Islam merupakan bekas dari pendidikan KH Ahmad Dahlan.
“Intinya Kiai Dahlan dengan istilahnya, atau yang jadi tindakannya adalah Islam yang membawa pada kemajuan hidup umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan yang nanti membawa pada peradaban,” sebutnya.
Berdasarkan perkembangan Muhammadiyah, Haedar mengatakan paham Islam Berkemajuan mulai disusun secara bertahap dari Muktamar ke-46 di Yogyakarta tahun 2010 dalam dokumen 'Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua'.
“Kesimpulannya kata ‘berkemajuan’, kata ‘maju’, ‘kemajuan’ itu sudah melekat dengan kelahiran, perkembangan dan pertumbuhan Muhammadiyah sehingga dia punya atsar (jejak) yang sah, jejak yang sahih dengan Persyarikatan Muhammadiyah. Artinya kalau ada yang berpikiran mundur, itu tidak sejalan dengan pemikiran berkemajuan,” terang Haedar.
Comments (0)