5 Ciri Islam Berkemajuan yang Patut Diketahui Warga Muhammadiyah

5 Ciri Islam Berkemajuan yang Patut Diketahui Warga Muhammadiyah
Ilustrasi/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq Mughni menyampaikan diterbitkannya Risalah Islam Berkemajuan pada Muktamar ke-48 di Surakarta pada November lalu menjadi penegas identitas Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid.

Menurut dia, penggunaan istilah ‘Islam Berkemajuan’ sendiri bukanlah reduksi kepada keluasan makna Islam, tapi sebuah penekanan terhadap warna Islam yang aplikatif dan bisa dibawa oleh Muhammadiyah.

Hal itu disampaikan Syafiq dalam Pengajian Ramadan 1444 H di UMY pada Sabtu (25/3).

Lebih lanjut, ia menjelaskan jika perumusan istilah ‘Islam Berkemajuan’ melalui diskusi panjang para ahli di Persyarikatan. Adapun istilah 'Islam Berkemajuan' itu sendiri memiliki lima ciri utama (al-khasaaish al-khamsah), sebagai berikut:

1. Berlandaskan Tauhid

Syafiq menjelaskan bahwa Muhammadiyah berkeyakinan tauhid itu bukan hanya sekadar keyakinan, tapi juga pengamalan. Dengan demikian, Muhammadiyah menghindari perdebatan kalam ataupun teologis.

“Oleh karena itu garis besarnya, bahwa tauhid yang jadi landasan bagi Muhammadiyah atau Islam Berkemajuan itu adalah tauhid yang punya implikasi bagi kehidupan sosial, bagi alam semesta. Juga bagaimana manusia sebagai makhluk yang tunggal itu harus dimuliakan, ditinggikan derajatnya, dicerahkan dengan dakwah penuh cinta agar mereka kembali ke jalan yang benar dan menghindari jalan yang sesat,” tuturnya.

2. Kembali Kepada Al-Quran dan Sunnah.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan Muhammadiyah menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai pedoman. Meski demikian, Syafiq menyebutkan Muhammadiyah tidak asal menelannya secara mentah-mentah (tekstual).

“Bagi Islam Berkemajuan, kembali itu tidak semata-mata bermakna tekstual bahwa semua ayat harus dimaknai apa adanya, begitu pula Hadis Nabi. Tapi ada dimensi logika, ilmu pengetahuan dan teknologi yang harus kita libatkan dalam memaknai Alquran dan Sunnah itu,” terangnya.

3. Menghidupkan Ijtihad dan Tajdid

Dalam menghidupkan Ijtihad dan Tajdid, Syafiq mengatakan Muhammadiyah berpandangan bahwa pintu ijtihad tidak akan tertutup sampai akhir zaman.

“Bagi Muhammadiyah, baik secara normatif maupun tidak, ijtihad itu tidak pernah tertutup, terus terbuka bahkan sampai ashrun (zaman) taklid pun, tetap ada orang yang berijtihad,” sebutnya.

4. Mengembangkan Wasatiyah

Dikatakan Syafiq, sikap tengahan (wasatiyah) ini diambil dari makna Surat Al-Baqarah ayat 143 untuk menjadi umat tengahan (ummatan wasathan). Dalam berbagai tafsir, ummatan wasathan diartikan sebagai umat terbaik (khairu ummah).

“Maka harus dipertahankan kewasatiyahan ini dan jangan sampai terseret ke kanan yang ekstrim atau ke kiri yang tasahul, meremehkan (syariat). Jadi tidak terlalu liberal dan tidak terlalu konservatif,” jelasnya.

5. Menunjukkan Sifat Rahmatan Lil-‘Alamin

Pada poin ini, Syafiq menerangkan sifat ini ditunjukkan kepada siapapun tanpa membeda-bedakan latar belakang, termasuk kepada yang berbeda agama, dan kepada lingkungan.

“Bagaimana kita menjadi rahmat bagi lingkungan. Ini saya kira pemahaman yang komprehensif, bukan berarti reduksionis yang menyederhanakan Islam menjadi sekadar rahmat, tapi karena memang isi dari Islam itu adalah rahmatan lil-‘alamin,” jelasnya.

“Maka menjadi tugas kita semua untuk mewujudkan lima ciri khas atau al khasaaish al khamsah ini supaya menjadi ciri dari kita baik keputusan yang diambil Tarjih, kebijakan pimpinan, maupun gerakan dan pengkhidmatan kita untuk membangun dunia yang aman dan sejahtera karena mendapat limpahan dari rahmatan lil-‘alamin,” lanjut Syafiq.

VIDEO: Kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan UMS 'Risalah Islam Berkemajuan'