Eco Bhinneka Latih Kader Kemas Satu Artikel Berita Jadi Konten Multiplatform

Eco Bhinneka Latih Kader Kemas Satu Artikel Berita Jadi Konten Multiplatform
Narasumber dan peserta berfoto bersama setelah sesi “Dari Satu Informasi, Jadi Banyak Konten”, 20 Oktober 2026 di Aula Lantai 6 Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta. (Foto oleh: Fajar Firmansyah/ @ecobhinneka)

TVMU.TV - Eco Bhinneka Muhammadiyah menggelar pelatihan media bertajuk FRAME. CREATE. SPEAK: “See It. Create It. Say It” di Aula Lantai 6 Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026.

Pelatihan yang berlangsung selama dua hari (20–21 Oktober 2026) ini diikuti 40 peserta dari perwakilan majelis, lembaga, organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah, Himpunan Difabel Muhammadiyah, serta pengelola program daerah. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah keterampilan kader dalam mengolah satu artikel berita atau artikel ilmiah menjadi beragam konten media sosial yang ramah algoritma dan relevan bagi audiens.

Dalam sesi pematerian “Dari Satu Informasi, Jadi Banyak Konten”, Spesialis Media Sosial Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Hanif Indhie Pratama, menekankan bahwa kunci utama pembuatan konten visual bukan sekadar mencari isu baru, melainkan keberanian menentukan sudut pandang (angle) yang menyasar kebutuhan audiens.

“Pembuat konten perlu memahami siapa audiensnya dan apa yang penting bagi mereka. Satu informasi bisa dikembangkan menjadi berbagai konten dengan sudut pandang yang berbeda. Karena itu, kita perlu memahami apa yang terjadi, siapa yang terdampak, dan apa artinya bagi audiens,” terang Hanif di Jakarta.

Hanif membekali peserta teknik merancang pikat (hook), penyederhanaan naskah, hingga praktik langsung pembuatan konten carousel Instagram bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis riset lokal.

Sesi tersebut dipandu oleh Editor in Chief Hukamanews.com sekaligus Konsultan Media Program 1000 Cahaya Eco Bhinneka Muhammadiyah, Sukowati Utami. Ia mengingatkan para kreator muda Muhammadiyah agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) dalam memproduksi pesan-pesan edukasi.

“AI dapat membantu proses produksi konten, tetapi pemahaman terhadap isu tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada teknologi. Kreator tetap perlu memahami isu yang diangkat, menentukan pesan yang ingin disampaikan, dan menghadirkan perspektifnya sendiri. Di situlah ruh sebuah konten,” tegas Sukowati.

Perwakilan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS), Nisa, mengapresiasi alur pelatihan ini karena sangat aplikatif untuk mendukung kampanye-kampanye sosial dan keagamaan Persyarikatan di ruang digital.

“Materi seperti ini sangat dibutuhkan, terutama ketika ada kampanye. Saya jadi lebih memahami proses membuat konten, mulai dari menyusun artikel, membuat ringkasan, hingga mendesainnya agar menarik untuk dibagikan,” ungkap Nisa.

Pelatihan media ini merupakan bagian dari implementasi program SMILE (Strengthening Youth Multifaith Leader Initiative on Climate Justice through Ecofeminism) yang diusung Eco Bhinneka Muhammadiyah untuk memperkuat wacana keadilan iklim dan kepemimpinan muda lintas iman di Indonesia.