Haedar Nashir Paparkan Tiga Langkah Strategis Penguatan Ekonomi Umat

Haedar Nashir Paparkan Tiga Langkah Strategis Penguatan Ekonomi Umat
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., dalam Dialog Kebangsaan Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 yang berlangsung di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur, Ahad (18/10). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., memaparkan tiga rukun strategis untuk membangkitkan kedaulatan ekonomi umat dalam Dialog Kebangsaan Kongres Nasional Majelis Tahkim Syarikat Islam ke-42 yang berlangsung di Jatim Expo, Surabaya, Jawa Timur, pada Ahad, 18 Oktober 2026.

Tiga pilar utama tersebut meliputi rekonstruksi pola pikir (mindset) terhadap dunia usaha, penumbuhan etos kewirausahaan (entrepreneurship), serta perataan jejaring bisnis inklusif yang ditopang oleh kelembagaan yang tepercaya dan profesional.

Di hadapan ribuan peserta kongres bertema “Persatuan Umat untuk Kemajuan Ekonomi Bangsa” tersebut, Haedar merefleksikan teologi Al-Ma’un dan akar sejarah gerakan Islam dalam memadukan dakwah keagamaan dengan pemberdayaan ekonomi.

“Al-Ma’un itu memadukan antara orang kaya dan orang miskin, dari situlah kemudian terjadi orang kaya memberi kapital, orang miskin menjadi pekerja. Yang diberikan bukan ikan, tetapi kail,” ujar Haedar Nashir di Surabaya.

Haedar menekankan bahwa para pendiri bangsa dan pergerakan Islam, seperti pendiri Sarekat Dagang Islam hingga K.H. Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah, menjadikan perdagangan sebagai fondasi kemandirian organisasi.

Guna menjawab tantangan UMKM yang kerap terkendala permodalan, tata kelola, dan akses pasar, Haedar mendesak agar ruang-ruang pendidikan dan koperasi Persyarikatan terus dihubungkan dengan rantai pasok industri ritel modern.

Lebih lanjut, Haedar mewanti-wanti bahwa seluruh langkah strategis tersebut wajib dipayungi oleh sistem kelembagaan yang transparan, akuntabel, dan teraudit agar tahan terhadap dinamika zaman.

“Orang itu bisa datang dan pergi, tetapi sistem tidak,” tegas Haedar.

Melalui sinergi antarorganisasi keagamaan, Haedar optimistis persatuan umat tidak sekadar menjadi wacana, melainkan menjelma sebagai agregat kekuatan ekonomi nasional yang berkemajuan.