Haedar Nashir Sampaikan Selamat kepada Sudibyo Markus Atas Penganugerahan Gelar Doktor HC dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan selamat kepada Ketua PP Muhammadiyah periode 2005-2010, Sudibyo Markus atas Penganugerahan Gelar Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada, Senin (13/2).
Sudibyo Markus dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dalam bidang ‘Membangun Persaudaraan dalam Keragaman Kemanusiaan’.
Hal itu disampaikan Haedar dalam keterangan tertulisnya, Senin (14/2).
Selain kepada Sudibyo Markus, Haedar juga mengungkapkan selamat kepada Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf dan Cardinal Miguel Ayuso Guixot atas penganugerahan gelar yang Doctor Honoris Causa dalam bidang sama.
Haedar menilai ketiga tokoh tersebut merupakan representasi dari kekuatan lintas iman dan lintas agama yang selama ini menebar benih-benih keagamaan yang mencerdaskan dan mencerahkan, sekaligus kedamaian bagi semesta.
“Tokoh-tokoh ini juga bukan hanya dalam wacana tetapi punya best practice – pengalaman lapangan yang mendorong usaha dialog antar iman, dialog antar golongan, bahkan dialog antar bangsa,” ucapnya.
Atas penganugerahan ini, Haedar berpesan kepada seluruh perguruan tinggi agar menjadi kekuatan katalisator yang mengembangkan perdamaian, sekaligus meredam kebencian, perseteruan lebih-lebih di era sekarang yang didukung oleh perkembangan teknologi sehingga mendukung terciptanya situasi yang tidak kondusif bagi usaha perdamaian.
Tak hanya pada level nasional, Haedar juga mendorong lahirnya katalisator perdamaian pada level global atau dunia internasional. Dia menegaskan, bahwa perang saat ini dan masa yang akan datang tidak boleh terjadi lagi atas alasan apapun.
”Ketika apa yang terjadi di Ukraina dan Rusia sebenarnya itu tragedi besar dalam sejarah modern. karena pasca perang dunia kedua mestinya kita tidak boleh lagi ada perang-perang regional maupun perang apalagi yang bersifat global,” tegas Haedar.
Terkait menghadapi tahun politik 2024, Haedar menilai Indonesia memerlukan keseriusan dari seluruh komponen bangsa untuk mendorong usaha perdamaian lintas iman dan agama agar tidak terintervensi oleh sikap partisan yang mereduksi persatuan dan keragaman akibat kepentingan politik jangka pendek.
“Di sinilah ujian bagi para tokoh agama dan umat beragama bagaimana menjadi kekuatan mediator dan meredam dari sikap-sikap politik yang memecah, sikap politik yang membelah, yang kemudian menjadikan politik menjadi fanatik buta dalam memperjuangkan kepentingannya,” pungkas Haedar.
VIDEO: Tunisia dan Muhammadiyah Siap Bekerjasama Dibidang Pendidikan
Comments (0)