Syafiq Mughni Ungkap Berbagai Motif Islamophobia

Syafiq Mughni Ungkap Berbagai Motif Islamophobia
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni dalam acara DIALETIKA tvMu betajuk "Islamophobia", Sabtu (7/5).

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni mengatakan, Islamophobia merupakan sikap ketakutan berlebihan terhadap Islam. Umumnya, Islamophobia ditampilkan dalam bentuk antipati, kebencian, sinisme, perlawanan, hingga pelecehan terhadap ajaran, simbol-simbol Islam dan penganutnya.

Demikian hal itu disampaikan Syafiq dalam acara DIALETIKA tvMu betajuk "Islamophobia", ditulis Senin (9/5).

Lebih lanjut, ia menyampaikan, Islamophobia muncul akibat berbagai motif. Pertama, adanya Islamophobia muncul karena pemahaman yang lemah dan keliru.

Kedua, disebabkan akibat ulah framing media massa atau tokoh tertentu. Ketiga, karena kesengajaan mempertahankan sikap Islamophobia demi kepentingan jangka pendeknya, sehingga tidak terancam.

“Kalau di Amerika, masyarakat menjadi Islamophobia karena melihat jumlah pemeluk Islam makin besar dan ini memberikan ancaman secara politik dan ekonomi bagi sebagian masyarakat. Di Indonesia ada unsur-unsur, mereka anggap Islam sebagai kekuatan yang bisa menghalangi kepentingan mereka sehingga mereka mau tidak mau menunjukkan sikap Islamophobic karena ada kepentingan yang akan terhalangi kalau kekuatan Islam itu lahir,” tutur Syafiq.

“Padahal Islam itu sesungguhnya agama yang diperlukan untuk membangun kehidupan yang damai, sejahtera, berkeadilan. Tetapi nilai-nilai unggul ini mereka anggap sebagai halangan bagi mereka untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan jangka pendek,” sambungnya.

Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam UIN Sunan Ampel Surabaya ini menilai Islamophobia di Indonesia misalnya membenturkan umat Islam dengan nasionalisme, demokrasi, bahkan memberikan label umat Islam sebagai radikalisme dan ekstrimisme.

“Ini fenomena yang bukan rahasia. Setiap ada terorisme dan kebetulan pelakunya adalah orang yang beragama Islam, maka mereka seperti mendapat amunisi bahwa terorisme identik dengan agama Islam. Tapi kalau ada pelaku sama dari agama lain mereka hampir tidak pernah menyebutnya,” tandas Syafiq.

Menurut dia, sikap Islamophobia juga nampak dalam narasi radikalisme yang selalu disematkan secara sembarangan kepada umat muslim. Padahal, lanjut Syafiq, istilah radikalisme sendiri telah ditinggalkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) karena sarat penyalahgunaan secara politis. Kemudian, PBB mengganti frase ‘radikalisme’ dengan ‘violence extrimism’.

“Dalam isu radikalisme, mereka (Islamophobic) mengganggap radikalisme ini akan menjungkirbalikan tata nilai luhur dan menghapus negara bangsa sehingga menjadi ancaman yang sangat besar. Selalu dilekatkan pada umat Islam,” terangnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news tentang Muhammadiyah dan Aisyiyah setiap hari hanya di tvmu.tv. Jangan lupa subscribe juga channel youtube tvMu Channel dan aktifkan lonceng supaya kamu dapat notifikasi video terbaru langsung. Cerdas Mencerahkan.