Surat Al-Qariah dan Gagasan Ahmad Dahlan: Mengapa Muhammadiyah Didirikan sebagai Gerakan Amal?

Surat Al-Qariah dan Gagasan Ahmad Dahlan: Mengapa Muhammadiyah Didirikan sebagai Gerakan Amal?
Ketua LRB PP Muhammadiyah, Budi Setiawan/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Muhammadiyah tidak hanya dibangun sebagai gerakan Islam yang berorientasi pada kehidupan dunia. Sejak awal, KH Ahmad Dahlan juga meletakkan perhatian kuat pada kehidupan akhirat melalui dorongan untuk memperbanyak amal saleh.

Gagasan tersebut salah satunya tercermin dari cara KH Ahmad Dahlan memahami Surat Al-Qariah, terutama ayat 6–11 yang menjelaskan tentang timbangan amal manusia serta konsekuensi yang akan diterima setelah hari kiamat. Pemahaman terhadap ayat tersebut dinilai turut memberi inspirasi bagi lahirnya Muhammadiyah sebagai gerakan yang menekankan amal nyata.

Sesepuh Kampung Kauman Yogyakarta sekaligus Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Budi Setiawan, mengatakan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah sebagai wadah untuk memperbanyak amal saleh.

Menurut Budi, kedekatan KH Ahmad Dahlan dengan Surat Al-Qariah membuat ayat 6–11 surat tersebut diduga menjadi salah satu sumber pemikiran dalam membangun Muhammadiyah sebagai gerakan amal saleh.

“Kebaikan yang kita perbuat itu sebanyak mungkin mestinya. Inilah Al Qariah ayat 6 sampai 11 yang menjadi pemikiran Kiai Dahlan,” ungkap Budi Setiawan pada Sabtu (29/8/2026) dalam Pengajian Rutin Masjid Muthohirin, Nitikan, Yogyakarta.

Membaca Al-Qur’an dengan Menghubungkan Ayat

Budi menjelaskan, KH Ahmad Dahlan memiliki cara tersendiri dalam memahami pesan Al-Qur’an. Salah satunya dengan membaca suatu ayat kemudian mencari keterkaitannya dengan ayat lain.

Dalam konteks Surat Al-Qariah, Budi menyebut KH Ahmad Dahlan menghubungkan ayat 6–11 dengan Surat Al-A’raf ayat 89. Cara membaca seperti itu membuat pesan tentang amal tidak berhenti sebagai pemahaman tekstual, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan dalam kehidupan.

Bagi Islam, kata Budi, kebaikan harus terus diusahakan. Setiap amal yang dilakukan manusia memiliki konsekuensi dalam timbangan amalnya.

Karena itu, timbangan kebaikan tidak boleh dibiarkan ringan. Terlebih, manusia harus berusaha agar bobot amal kebaikannya lebih berat dibandingkan keburukan.

Pemikiran tersebut kemudian memiliki relevansi dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan amal. Kebaikan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah yang bersifat khusus, tetapi juga melalui berbagai amal sosial dan kemanusiaan.

Amal Saleh Tidak Hanya Ibadah Khusus

Dalam praktiknya, amal saleh di lingkungan Muhammadiyah tidak semata-mata dipahami sebagai ibadah ritual. Aktivitas pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, hingga penanggulangan bencana dapat menjadi bagian dari amal apabila dilakukan dengan niat dan tujuan yang baik.

Budi menekankan bahwa memperberat timbangan kebaikan membutuhkan upaya yang terus-menerus. Karena itu, warga Muhammadiyah didorong untuk memperbanyak amal, baik melalui ibadah khusus maupun ibadah umum.

Pesan tersebut sejalan dengan salah satu karakter utama Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menerjemahkan ajaran agama ke dalam amal nyata. Dengan demikian, orientasi akhirat tidak dipisahkan dari kerja-kerja sosial di dunia.

Bagi KH Ahmad Dahlan, sebagaimana dijelaskan Budi, amal saleh menjadi jalan untuk menghadirkan manfaat sekaligus mempersiapkan manusia menghadapi kehidupan setelah dunia. Muhammadiyah kemudian tumbuh dengan semangat tersebut: memperbanyak kebaikan, memperluas manfaat, dan menjadikan amal sebagai bagian dari perjuangan keislaman.