Buku “Fakih yang Zahid” Rekam 70 Tahun Kiprah Keilmuan Prof. Syamsul Anwar

Buku “Fakih yang Zahid” Rekam 70 Tahun Kiprah Keilmuan Prof. Syamsul Anwar
Peluncuran buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar di UMY, Senin (31/8/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi tempat peluncuran buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar, Senin (31/8/2026). Buku tersebut merekam perjalanan kehidupan, kiprah, pemikiran, serta kesaksian kerabat dan murid Prof. Syamsul Anwar selama perjalanan keilmuannya.

Peluncuran buku itu menjadi momentum untuk mengenang kontribusi Syamsul Anwar dalam pengembangan pemikiran keislaman di lingkungan Muhammadiyah, khususnya melalui Majelis Tarjih dan Tajdid.

Syamsul Anwar pernah mengemban amanah sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada 2000–2022. Saat ini, ia menjadi Ketua PP Muhammadiyah periode 2022–2027.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menilai Syamsul Anwar merupakan sosok dengan kepakaran mendalam dalam pemikiran Islam. Menurut Haedar, kedalaman keilmuan tersebut menunjukkan kapasitas Syamsul sebagai ulama yang telah mencapai tingkat rāsikh dalam keilmuan.

“Prof. Syamsul adalah seorang tokoh yang pemikiran keislamannya dan berbagai aspek lainnya menunjukkan kepakarannya sudah pada level rāsikhūn,” ujar Haedar.

Menurut Haedar, sosok dengan kedalaman keilmuan seperti Syamsul Anwar tidak banyak. Karena itu, Muhammadiyah perlu terus melahirkan kader yang memiliki kesungguhan dalam menuntut ilmu dan mengembangkan kepakaran di bidang masing-masing.

Jejak Pemikiran Syamsul Anwar di Muhammadiyah

Selama berkiprah di Muhammadiyah, Syamsul Anwar terlibat dalam lahirnya berbagai pemikiran dan keputusan penting. Salah satunya adalah perumusan panduan keagamaan Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, panduan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam memberikan arah keagamaan bagi warga Persyarikatan dan masyarakat.

Kontribusi lainnya terlihat dalam pengembangan gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Gagasan tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah merumuskan sistem kalender Islam yang dapat digunakan secara lebih luas.

Selain KHGT, pemikiran Syamsul Anwar juga disebut berkontribusi terhadap pengembangan Teori Pertingkatan Norma yang kemudian diadopsi dalam pengembangan Manhaj Tarjih, serta pengembangan Tafsir at-Tanwir.

Syamsul Anwar Kenang Para Guru

Dalam sambutannya, Syamsul Anwar menyampaikan rasa terima kasih kepada para guru yang turut membentuk perjalanan intelektualnya. Ia mengenang sejumlah tokoh, antara lain Ahmad Azhar Basyir, Ismail Taib, Saad Abdul Wahid, dan Marzuki Rosyid.

Syamsul juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran PP Muhammadiyah yang menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya. Ia mengenang awal keterlibatannya dalam jajaran PP Muhammadiyah yang tidak terlepas dari ajakan dan dorongan Ahmad Syafii Maarif.

Di hadapan peserta peluncuran buku, Syamsul turut menyampaikan penghargaan kepada istrinya, Suryani. Ia menyebut sang istri sebagai partner hidup yang telah mendampinginya selama 40 tahun, melalui perjalanan yang dibangun dengan cinta dan kasih sayang.

Bukan untuk Mengkultuskan Tokoh

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ustadi Hamsah mengatakan, penerbitan buku yang merekam perjalanan hidup dan keilmuan tokoh merupakan tradisi baik yang perlu terus dikembangkan di Muhammadiyah.

Sebelumnya, Muhammadiyah juga menerbitkan buku untuk memperingati 70 tahun Prof. Amin Abdullah. Menurut Ustadi, tradisi tersebut bukan ditujukan untuk mengkultuskan tokoh, melainkan memberikan penghargaan terhadap perjalanan keilmuan, kepakaran, dan pengabdian mereka.

“Ini bukan untuk pengkultusan, tetapi sebagai upaya menghargai keilmuan, kepakaran, dan seluruh proses dalam membesarkan Majelis Tarjih dan Tajdid serta Muhammadiyah,” ujarnya.

Karena itu, Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran tidak hanya menjadi dokumentasi perjalanan 70 tahun Syamsul Anwar. Buku tersebut juga diharapkan menjadi jembatan untuk meneruskan gagasan dan tradisi keilmuan yang telah dibangun kepada generasi berikutnya.

Ustadi menilai kontribusi Syamsul Anwar bagi Muhammadiyah memiliki cakupan luas. Selain KHGT, Teori Pertingkatan Norma, dan Tafsir at-Tanwir, berbagai pemikirannya menjadi bagian dari perkembangan tradisi keilmuan Islam di lingkungan Muhammadiyah.

Dengan demikian, buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran: 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar tidak sekadar menghadirkan kisah kehidupan seorang ulama. Buku tersebut juga merekam jejak pemikiran, kepakaran, dan pengabdian seorang intelektual Muslim yang mendedikasikan sebagian besar perjalanan hidupnya untuk pengembangan keilmuan Islam dan Muhammadiyah.