EMT Muhammadiyah Dirikan RS Lapangan di Manggarai Timur, Perkuat Layanan Kesehatan Pascagempa Flores

EMT Muhammadiyah Dirikan RS Lapangan di Manggarai Timur, Perkuat Layanan Kesehatan Pascagempa Flores
EMT Muhammadiyah yang telah terverifikasi oleh WHO mendirikan RS Lapangan di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT. Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah yang telah terverifikasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendirikan Rumah Sakit (RS) Lapangan di Dampek, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).

RS Lapangan tersebut didirikan pada Rabu (26/8/2026) untuk memperkuat layanan kesehatan esensial bagi masyarakat terdampak gempa bumi yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026.

Pengerahan EMT Muhammadiyah merupakan bagian dari Program Indonesia Siaga, dengan respons kebencanaan yang didukung Lazismu. Tim ditempatkan di Dampek untuk membantu memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan di tengah dampak kerusakan fasilitas kesehatan akibat gempa.

Ketua EMT Muhammadiyah, Dokter Corona Rintawan, mengatakan penugasan tersebut menjadi bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk menjaga kualitas layanan sesuai standar setelah EMT Muhammadiyah melalui proses verifikasi WHO.

“Tim medis darurat sudah seharusnya hadir untuk memperkuat, bukan menggantikan sistem kesehatan lokal, sembari tetap terus menjaga peningkatan kualitas perawatan, koordinasi dan kemandirian operasional dalam layanan kesehatan,” tandasnya.

Corona menegaskan, kehadiran EMT Muhammadiyah di Dampek bukan untuk mengambil alih fungsi Puskesmas setempat. Sebaliknya, tim diarahkan untuk mendukung fasilitas kesehatan lokal agar tetap mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat selama masa tanggap darurat.

“Untuk EMT Muhammadiyah, sambung Dokter Corona, misinya sangat jelas yaitu kami tidak datang ke Dampek untuk menggantikan Puskesmas yang ada. Justeru kami di sini hadir untuk membantu memastikan Puskesmas bisa terus berfungsi dengan optimal pascagempa.”

Menurut Corona, pendekatan tersebut menjadi bentuk penerjemahan standar global EMT WHO ke dalam respons kebencanaan di tingkat lokal. Dukungan diberikan dengan tetap mengintegrasikan pelayanan EMT dengan sistem kesehatan yang telah berjalan di daerah terdampak.

Ia menilai keberadaan EMT terverifikasi penting untuk memastikan kesinambungan layanan kesehatan esensial ketika kapasitas fasilitas kesehatan lokal menghadapi tekanan akibat bencana.

118 Fasilitas Kesehatan Terdampak

Kebutuhan penguatan layanan kesehatan semakin besar seiring dampak gempa yang melanda sejumlah wilayah di NTT.

Berdasarkan data yang disebut dalam laporan visual Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 28 Agustus 2026, sebanyak 118 fasilitas pelayanan kesehatan di NTT terdampak. Pada periode yang sama, tercatat 1.674 orang sakit atau mengalami luka-luka.

Data tersebut memperlihatkan kebutuhan terhadap layanan kesehatan darurat sekaligus dukungan terhadap fasilitas kesehatan yang terdampak bencana.

EMT Muhammadiyah direncanakan menjalankan tugas sedikitnya selama 30 hari selama masa tanggap darurat. Operasional tim akan dilakukan melalui dua roster atau kelompok penugasan yang bekerja secara bergantian.

Setiap roster terdiri atas 25 personel dengan berbagai keahlian, meliputi dokter, perawat, bidan, apoteker, psikolog, Safety and Security Officer (SSO), serta personel logistik.

Komposisi tersebut disiapkan untuk mendukung kebutuhan pelayanan kesehatan sekaligus memastikan operasional RS Lapangan dapat berjalan secara terintegrasi.

Bawa Standar EMT ke Lokasi Bencana

Kehadiran RS Lapangan Muhammadiyah di Dampek tidak hanya berorientasi pada penyediaan tempat pelayanan medis. Tim juga membawa sumber daya manusia, peralatan kesehatan, serta sistem kerja yang disesuaikan dengan standar EMT.

Model tersebut memungkinkan EMT Muhammadiyah memberikan dukungan layanan secara terstruktur sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah dan fasilitas kesehatan setempat.

Dengan masa penugasan minimal 30 hari, EMT Muhammadiyah diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan layanan kesehatan masyarakat selama fase tanggap darurat, tanpa mengurangi peran dan fungsi sistem kesehatan lokal.

Respons tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat kapasitas penanganan bencana melalui kolaborasi antara tenaga kesehatan, jaringan kemanusiaan, pemerintah, dan masyarakat terdampak.