Muhammadiyah Kerahkan 22 Personel EMT untuk Perkuat Layanan Kesehatan Penyintas Gempa NTT

Muhammadiyah Kerahkan 22 Personel EMT untuk Perkuat Layanan Kesehatan Penyintas Gempa NTT
MDMC PP Muhammadiyah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah untuk memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di NTT. Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengerahkan Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah untuk memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebanyak 22 personel EMT diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, pada Jumat (21/8) malam. Satu personel tambahan dijadwalkan menyusul untuk melengkapi tim yang akan bertugas di wilayah terdampak.

Pengerahan tim tersebut merupakan bagian dari respons Muhammadiyah setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu (15/8). Berdasarkan data BMKG, gempa terjadi pukul 04.58.24 WIB dengan episentrum di laut, sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer. 

Diperkuat Tim Terverifikasi Standar WHO

Pengerahan EMT Muhammadiyah dilakukan atas arahan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir setelah adanya permintaan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin agar Muhammadiyah turut mengerahkan EMT Internasional untuk mendukung respons kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa.

Tim yang diberangkatkan merupakan EMT Muhammadiyah yang telah mengikuti proses verifikasi berdasarkan standar World Health Organization (WHO).

Dari 22 personel tersebut, tujuh merupakan perempuan dan 15 laki-laki. Komposisinya terdiri atas satu dokter spesialis emergensi, satu dokter spesialis bedah umum, delapan perawat, satu bidan, satu admin medis, dua personel logistik medis dari unsur farmasi, tujuh personel logistik umum, serta satu Safety and Security Officer (SSO).

Tim tersebut direncanakan ditempatkan di Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, untuk memperkuat pelayanan kesehatan di Puskesmas Dampek yang mengalami kerusakan berat akibat gempa.

Sebelumnya, Muhammadiyah telah mengirimkan tim kesehatan ke Puskesmas Dampek setelah muncul laporan mengenai keterbatasan tenaga kesehatan dalam menangani pasien pascagempa. Tim awal tersebut terdiri atas satu dokter dan dua perawat di bawah koordinasi Klinik Utama Muhammadiyah Ende. 

Perkuat Pelayanan Puskesmas Dampek

Dalam menjalankan tugasnya, EMT Muhammadiyah akan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan Puskesmas Dampek. Layanan yang disiapkan mencakup pelayanan poliklinik, Instalasi Gawat Darurat (IGD), serta dukungan proses rujukan bagi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Tim juga mendapat arahan untuk menyiapkan dukungan layanan rawat inap di lokasi respons. Pelayanan tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terdampak serta kondisi fasilitas kesehatan yang tersedia.

Wakil Sekretaris MDMC PP Muhammadiyah, Aulia Taarufi, mengatakan pengerahan EMT merupakan bagian dari komitmen Muhammadiyah untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.

“EMT Muhammadiyah akan bekerja bersama pemerintah dan fasilitas kesehatan setempat untuk memastikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak tetap berjalan. Dukungan tenaga medis dan logistik kesehatan akan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan,” ujarnya seperti dikutip dalam siaran pers yang diterima redaksi pada Senin (24/8).

Selain tenaga kesehatan, tim membawa logistik medis dan logistik umum untuk mendukung keberlangsungan pelayanan selama masa respons darurat.

Respons tersebut menjadi bagian dari rangkaian upaya Muhammadiyah dalam menangani dampak gempa Flores. BNPB mencatat gempa M7,7 pada 15 Agustus 2026 telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan bangunan di sejumlah wilayah NTT. Pada pembaruan awal, BNPB mencatat korban meninggal dan luka di Sikka, Manggarai, Manggarai Timur, serta Nagekeo. 

Melalui pengerahan EMT, MDMC menegaskan komitmennya untuk terus bekerja bersama pemerintah dan fasilitas kesehatan setempat. Kolaborasi tersebut diharapkan memastikan penyintas gempa memperoleh layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.