Ahmad Dahlan Rais Ungkap Lima PR Dakwah Muhammadiyah dari Pusat hingga Ranting

Ahmad Dahlan Rais Ungkap Lima PR Dakwah Muhammadiyah dari Pusat hingga Ranting
Ketua PP Muhammadiyah, Dahlan Rais/ Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Muhammadiyah diminta tidak berpuas diri dengan berbagai capaian dakwah yang telah diraih. Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Ahmad Dahlan Rais menyebut masih ada lima pekerjaan rumah (PR) yang perlu segera diperkuat agar dakwah Persyarikatan semakin berkualitas dan menjangkau lebih banyak masyarakat.

Lima agenda tersebut meliputi peningkatan kualitas dakwah, perluasan jangkauan, diversifikasi metode dakwah, penguatan keterlibatan generasi muda, serta penentuan dakwah berdasarkan skala prioritas.

Pesan itu disampaikan Ahmad Dahlan Rais dalam Training of Trainer (ToT) Sekolah Cabang Ranting (SECARA) yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) Muhammadiyah di Jakarta pada 22–24 Agustus 2026.

Menurut Dahlan, agenda tersebut penting karena dakwah Muhammadiyah harus berjalan secara menyeluruh dari tingkat pusat hingga cabang dan ranting. Meski memiliki struktur organisasi yang berbeda, seluruh tingkatan Persyarikatan pada dasarnya memiliki tujuan dakwah yang sama.

Dakwah Harus Semakin Berkualitas dan Luas

Dahlan menilai berbagai prestasi Muhammadiyah tidak boleh membuat gerakan dakwah berhenti melakukan evaluasi. Salah satu tantangan utama adalah meningkatkan kualitas dakwah sekaligus memperluas jangkauannya.

Ia menyebut dakwah Muhammadiyah saat ini baru menjangkau sekitar 20 persen masyarakat. Angka tersebut menjadi tantangan agar Persyarikatan tidak hanya memperkuat wilayah yang sudah memiliki basis Muhammadiyah, tetapi juga hadir di komunitas yang selama ini belum banyak tersentuh.

“Maka diperlukan kesadaran bagaimana yang kita lakukan ini bisa memperluas jangkauan dakwah,” ungkapnya.

Selain memperluas jangkauan, Muhammadiyah perlu melakukan diversifikasi dakwah. Artinya, metode dan pendekatan dakwah tidak harus selalu menggunakan pola yang sama, tetapi disesuaikan dengan karakter masyarakat yang menjadi sasaran.

Dahlan mendorong pengembangan dakwah berbasis komunitas sebagai salah satu pendekatan yang dapat dilakukan. Model tersebut memungkinkan Muhammadiyah masuk melalui ruang sosial yang memang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Komunitas Olahraga Jadi Ruang Dakwah Baru

Salah satu komunitas yang dinilai memiliki potensi besar adalah olahraga. Sepak bola, misalnya, memiliki basis penggemar yang sangat luas di Indonesia sehingga dapat menjadi salah satu ruang untuk memperluas interaksi dan dakwah.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa dakwah tidak harus selalu dimulai dari ruang-ruang formal. Komunitas, hobi, olahraga, dan berbagai ruang sosial masyarakat dapat menjadi pintu masuk untuk menghadirkan nilai-nilai Islam.

Muhammadiyah juga memiliki Tapak Suci Putera Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi otonom yang bergerak dalam seni bela diri. Perkembangan Tapak Suci tidak hanya berada di Indonesia, tetapi juga telah menjangkau sejumlah negara.

Bagi Dahlan, kondisi tersebut dapat dikembangkan lebih jauh. Aktivitas Tapak Suci bukan hanya berkaitan dengan olahraga dan pembinaan kader, tetapi juga berpotensi menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Generasi Muda Perlu Dilibatkan

Pekerjaan rumah berikutnya adalah memperkuat keterlibatan anak muda dalam gerakan dakwah Muhammadiyah. Generasi muda perlu ditempatkan bukan sekadar sebagai objek dakwah, melainkan sebagai bagian penting dari penggerak dakwah itu sendiri.

Karena itu, pola dakwah perlu terus menyesuaikan perkembangan masyarakat, termasuk perubahan perilaku generasi muda dan munculnya berbagai komunitas baru.

Dahlan juga menekankan pentingnya menentukan prioritas dalam menjalankan dakwah. Dengan sumber daya yang tersedia, Muhammadiyah perlu memastikan program yang dijalankan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memiliki dampak yang luas.

Lima PR tersebut pada akhirnya bermuara pada satu kebutuhan: memastikan dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada capaian organisasi, tetapi terus bergerak menjangkau masyarakat yang lebih luas.

Dari pusat hingga ranting, Muhammadiyah dituntut terus beradaptasi, memperkuat kualitas, membuka ruang kolaborasi, dan menemukan cara-cara baru agar dakwah tetap relevan dengan perubahan zaman.