Saad Ibrahim: Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Ukuran Kemuliaan

Saad Ibrahim: Kekuasaan Adalah Amanah, Bukan Ukuran Kemuliaan
Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid Baitul Tholibin Kemendikdasmen RI, Jakarta, Jumat (28/8/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Kekuasaan bukanlah ukuran kemuliaan seseorang. Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim mengingatkan bahwa seluruh kekuasaan pada hakikatnya merupakan milik Allah SWT, sementara kekuasaan yang berada di tangan manusia hanyalah amanah yang dapat diberikan dan dicabut kembali kapan saja.

Pesan tersebut disampaikan Saad Ibrahim saat menjadi khatib salat Jumat di Masjid Baitul Tholibin, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta, Jumat (28/8/2026). Dalam khutbahnya, ia mengangkat kandungan Surah Ali Imran ayat 26 tentang kekuasaan, kemuliaan, dan kehendak Allah SWT.

“Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan itu dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki.”

Menurut Saad, manusia tidak memiliki kekuasaan secara mutlak. Kekuasaan merupakan al-milku al-musta‘ar, yakni kepemilikan yang bersifat pinjaman. Karena itu, siapa pun yang menerima kekuasaan harus menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan amanah.

Kekuasaan, lanjutnya, juga tidak semestinya dipandang sebagai tanda seseorang lebih mulia dibandingkan orang lain. Jabatan, kekayaan, maupun kedudukan sosial bukanlah ukuran utama kemuliaan manusia di hadapan Allah SWT.

Kemuliaan justru ditentukan oleh ketakwaan dan bagaimana seseorang menjalankan amanah yang diberikan kepadanya. Seorang pemegang kekuasaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pihak yang memberikan mandat, tetapi juga akan mempertanggungjawabkan setiap amanah tersebut di hadapan Allah SWT.

Orang yang Dipandang Kecil Bisa Lebih Mulia

Saad juga mengingatkan bahwa ukuran kemuliaan di hadapan Allah dapat berbeda dengan penilaian manusia. Seseorang yang berada di posisi sosial yang sederhana, seperti petugas keamanan maupun pekerja lainnya, tidak berarti memiliki kedudukan rendah di hadapan Allah.

Sebaliknya, orang yang dipandang kecil oleh manusia bisa saja memiliki kedudukan yang tinggi di sisi-Nya dan memperoleh kemuliaan di akhirat.

Karena itu, Islam mendorong mereka yang memiliki kekuasaan dan kekayaan untuk menggunakan kelebihan tersebut demi membantu sesama, memenuhi kebutuhan orang lain, serta menjaga kehormatan setiap manusia.

Pesan tersebut juga diperkuat melalui hadis qudsi tentang teguran Allah kepada manusia ketika terdapat sesamanya yang sakit, lapar, atau kehausan tetapi tidak mendapatkan pertolongan.

Allah memang Mahakuasa untuk menyembuhkan orang yang sakit, memberikan makanan kepada orang yang lapar, dan minuman kepada orang yang kehausan. Namun, manusia diberi kesempatan untuk berbuat baik kepada sesamanya sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab sosial.

Kemuliaan Terlihat Setelah Kekuasaan Berakhir

Khutbah tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa penghormatan kepada sesama tidak seharusnya muncul hanya ketika seseorang memiliki jabatan atau kekuasaan.

Justru, sikap rendah hati, penghormatan, dan kepedulian yang tetap terjaga setelah kekuasaan dicabut menjadi salah satu cermin ketulusan dan akhlak seseorang.

Demikian pula, seseorang tidak sepatutnya merasa lebih mulia hanya karena memiliki kekayaan atau kedudukan. Sebab, orang yang terlihat sederhana dan kurang mendapat perhatian manusia bisa jadi justru lebih mulia di hadapan Allah SWT.

Saad menutup khutbah dengan mengajak umat Islam, khususnya mereka yang menerima amanah kekuasaan, untuk senantiasa rendah hati, menghormati siapa pun tanpa melihat status sosial, serta menggunakan kekuasaan untuk melindungi dan mengangkat martabat kelompok yang lemah.