Haedar Nashir Ajak Dunia Islam Perkuat Persatuan
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyoroti krisis kemanusiaan global yang menurutnya semakin memburuk akibat berbagai konflik bersenjata, termasuk genosida terhadap rakyat Palestina. Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan kegagalan tatanan dunia modern dalam menjaga nilai-nilai kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Haedar saat Salat Tarawih dan Ceramah Ramadan di Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Ahad (8/3/2026) malam.
Haedar menilai, kekerasan yang terjadi di berbagai wilayah, khususnya yang melibatkan Zionis Israel terhadap bangsa Palestina, memperlihatkan rapuhnya sistem global yang selama ini mengklaim menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
“Segala paradigma modern terus dibangun seakan-akan tidak pernah dan tidak akan pernah dirobek oleh peristiwa yang sama. Tetapi apa yang terjadi, bahwa sejak satu dekade ini sejak 1948, dan dalam kurun yang terakhir ini paradigma yang pro humanisme itu nyaris gagal,” kata Haedar.
Ia menilai, semangat humanisme yang menjadi fondasi peradaban modern Barat mengalami kemunduran ketika perang dan kekerasan tetap terjadi tanpa mampu dihentikan oleh lembaga internasional.
Menurut Haedar, hukum internasional dan moral global yang selama ini menjadi rujukan tatanan dunia terlihat tidak efektif menghentikan konflik dan ambisi kekuasaan yang merusak kedaulatan negara.
Dalam pandangannya, berbagai konflik bersenjata yang terjadi saat ini mencerminkan bentuk neo-kolonialisme modern, di mana kekuatan besar dunia masih berupaya mempertahankan dominasi politik dan ekonomi.
Karena itu, Haedar mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk memperkuat persatuan, kemandirian, serta solidaritas dalam menghadapi situasi global yang tidak menentu.
“Dunia muslim yang berbasis iman ini tentu harus bersaudara, dan ketika ada banyak hal yang membuat mereka bertengkar semestinya mereka islah atau berdamai. Agar mereka memperoleh rahmat Tuhan,” ungkapnya.
Meski ajaran tentang persatuan umat telah ditegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 10, Haedar mengakui bahwa realitas politik dan sosial membuat pesan tersebut tidak selalu mudah diwujudkan.
“Banyak sekali lalu lintas kepentingan. Jangankan di level negara, di level ummah, di kelompok ummah saja betapa tak mudahnya merawat kemandirian, persatuan, dan orientasi bersama untuk membangun peradaban Islam,” tuturnya.
Ia menambahkan, sejarah mencatat bahwa peradaban Islam pernah menjadi kekuatan kosmopolitan dunia, terutama pada periode sekitar abad ke-8 hingga ke-13 Masehi, ketika ilmu pengetahuan, perdagangan, dan budaya berkembang pesat serta memberi kontribusi besar bagi kemajuan peradaban global.
Menurut Haedar, semangat kosmopolitanisme Islam tersebut dapat menjadi inspirasi bagi umat Islam masa kini untuk kembali membangun peradaban yang membawa pencerahan serta kemaslahatan bagi umat manusia secara universal.