Kembangkan Hutan Wakaf SITI KANAYA Pasuruan, Eco Bhinneka dan PWA Jatim Latih Perempuan Olah Rempah
TVMU.TV - Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dan Pimpinan Wilayah 'Aisyiyah (PWA) Jawa Timur (Jatim) menggelar pelatihan identifikasi, budidaya, serta pengolahan rempah untuk memperkuat ekosistem Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan SITI KANAYA di Desa Kertosari, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada 14–15 Oktober 2026.
Pelatihan yang dipusatkan di 'Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi tanaman herbal lokal menjadi produk pangan bernilai ekonomi sekaligus mengedukasi pengelola dalam penerapan gaya hidup ramah lingkungan (zero waste).
Ketua PWA Jawa Timur, Rukmini Amar, mengutarakan bahwa kawasan Hutan Wakaf SITI KANAYA memiliki prospek besar untuk dikembangkan menjadi destinasi eduwisata lingkungan berbasis pemberdayaan ekonomi warga desa.
“Potensi rempah ini bisa menjadi daya tarik desa sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Rukmini Amar di Pasuruan.
Selama dua hari pelatihan intensif, peserta dibekali praktik pengolahan rempah dari narasumber Martani, Muhamad Yusup Napiri dan Rita Sri Mustikasari, mulai dari pembuatan sirup herbal, kuliner lokal, perancangan bedengan tanaman, hingga pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari limbah dapur dan cangkang telur.
“Pengelolaan lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Mengenali dan merawat tanaman serta mengelola sampah organik merupakan bagian dari penerapan konsep zero waste dan pemanfaatan sumber daya secara bijak,” kata Rita Sri Mustikasari.
Salah satu rencana strategis yang digagas dalam pertemuan ini adalah pembentukan unit usaha Café Rempah SITI KANAYA di kawasan ATC Pasuruan sebagai kanal pemasaran produk olahan herbal hasil budidaya para kader perempuan.
Koordinator Program Hutan SITI KANAYA sekaligus Ketua LLHPB PWA Jawa Timur, Sumiati, menambahkan bahwa program kolaborasi yang didukung Ford Foundation ini diharapkan terus mengasah kemandirian serta keberanian perempuan dalam menggerakkan ekonomi hijau di lingkungannya.
“Semangat belajar ibu-ibu perlu terus diasah agar semakin berani menyuarakan pendapat dan membagikan pengetahuan kepada perempuan lain di sekitar ATC,” pungkas Sumiati.
