5 Kunci Penting Muhammadiyah Hadapi Tantangan Agama di Era Modern
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, membeberkan lima kunci utama yang harus diperhatikan Muhammadiyah dalam merespons tantangan masa depan agama di tengah arus modernisasi dan sekularisasi.
Pesan strategis tersebut disampaikan Haedar saat menghadiri peluncuran buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama karya Ketua PP Muhammadiyah, Dadang Kahmad, di Universitas Muhammadiyah Bandung, Jawa Barat, pada Senin, 5 Oktober 2026. Menurutnya, agama tidak akan kehilangan relevansinya selama umat beragama mampu menghadirkan nilai-nilai yang adaptif sekaligus memberikan solusi nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Kalau saya kuncinya lima aja termasuk Muhammadiyah,” tegas Haedar di Bandung.
Pertama, Haedar menekankan pentingnya agama menjadi the sacred canopy atau kanopi suci yang memberikan orientasi spiritual di tengah kepungan perkembangan teknologi dan teknokrasi. Ia memeringatkan para mubalig agar membawa dakwah yang mencerahkan, bukan yang menghardik atau memvonis. “Dan itu yang diingatkan oleh Kiai Dahlan gitu ya. Agama harus menjadi kekuatan pencerah,” ujarnya.
Kedua, Muhammadiyah dituntut hadir di tengah generasi Z yang mencakup sekitar 25 persen atau 75 juta dari total populasi Indonesia. Haedar menyebut pendekatan dakwah harus menyesuaikan gaya hidup mereka, salah satunya melalui kepastian Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). “Jika Muhammadiyah dan agama itu hadir untuk kaum milenial ini, maka punya prospek di masa depan,” kataya.
Kunci ketiga adalah menjadikan agama sebagai kekuatan pemecah masalah (problem solver) di bidang ekonomi, politik, budaya, hingga kecerdasan buatan (AI). Haedar meminta kader Muhammadiyah membaca problem konkret masyarakat melalui gerakan di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. “Belum apa-apa kok sudah rendah diri gitu ya pada makhluk yang itu diciptakan oleh manusia dengan kemampuannya yang tinggi,” katanya menyinggung perkembangan AI.
Keempat, Muhammadiyah harus menghadapi gelombang sekularisasi dengan strategi lilmuwajahah atau menghadirkan alternatif konkret, bukan sekadar menolak. “Lebih baik sikap kita adalah lilmuwajahah. Itu keputusan Muktamar Muhammadiyah tahun 2010,” jelasnya.
Kelima, Haedar mendorong penguatan studi masa depan (future studies) dan kerja intelektual profetik (tanazhur) berlandaskan Surah Al-Hasyr ayat 18. Ia meminta pimpinan serta kader Muhammadiyah dan 'Aisyiyah terus memperkaya penguasaan ilmu agama yang tecermin langsung dalam perilaku nyata.
“Jadi jangan merasa ada di zona nyaman kayak ilmu agama tetapi perilaku kata tak sejalan tindakan. Nah gitu. Orang akan mencemooh dan tindakan itu etalase paling nyata bagi masyarakat,” pungkas Haedar.
Melalui pemikiran ini, Haedar berharap Muhammadiyah mampu terus melintasi zaman dan menjadi kekuatan pencerah peradaban di masa depan.
