Agung Danarto: Pendidikan Muhammadiyah Harus Integrasikan Standar Internasional dan Spiritualitas
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto, menegaskan bahwa arah baru pendidikan Muhammadiyah harus mengintegrasikan standar internasional dengan penguatan karakter dan spiritualitas sebagai fondasi utama.
Pernyataan tersebut disampaikan Agung saat peletakan batu pertama pembangunan Muhammadiyah Sapen Universal School Boarding di Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Ahad (5/4/2026).
Menurut Agung, konsep sekolah internasional tidak semata ditentukan oleh asal peserta didik, melainkan kualitas pendidikan yang dibangun secara menyeluruh.
“Sekolah Internasional, anak didiknya bisa dari seluruh penjuru nusantara, mungkin juga ada skema khusus untuk masyarakat Kulon Progo terutama soal pembiayaan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Muhammadiyah kini memasuki fase peningkatan kualitas pendidikan di abad kedua dengan mendorong Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) mencapai standar yang lebih tinggi.
“Kita ingin meningkatkan dari standar umum yang sudah dikerjakan pada abad pertama, menuju standar yang jauh lebih tinggi lagi di abad kedua. Ini demi mempersiapkan kader-kader elit bangsa,” katanya.
Agung menekankan bahwa kualitas pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada kecerdasan intelektual, tetapi juga harus diimbangi dengan integritas dan kekuatan spiritual.
“Banyak yang pintar-pintar tapi malah terjebak korupsi. Jadi kita ingin kader Muhammadiyah yang tidak hanya kualitas intelektualnya mumpuni tapi juga spiritualitasnya di atas rata-rata,” tegasnya.
Dalam kerangka tersebut, nilai-nilai kenabian seperti sidik, amanah, tabligh, dan fathanah menjadi pilar utama dalam sistem pendidikan Muhammadiyah.
“Sidik itu apa yang dilakukan semua hal adalah untuk mendukung aspek kebenaran… omongannya bisa dipegang dan selalu konsisten,” jelasnya.
Selain itu, Agung juga menyoroti pentingnya pembentukan karakter ulul albab yang mengintegrasikan kekuatan pikir dan spiritualitas.
“Makna iqra itu… baca semuanya untuk menciptakan kualitas wawasan yang luas. Tapi membaca juga harus atas nama Allah agar memberikan nilai ibadah sekaligus manfaat bagi orang lain,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendidikan juga harus membekali mahasiswa dengan kemampuan kepemimpinan dan kolaborasi sebagai syarat membangun peradaban.
“Tidak mungkin peradaban dibangun seorang diri, tapi harus bergotong royong. Mari bersinergi meraih kemajuan,” katanya.
Pembangunan sekolah ini sendiri diawali dengan pembangunan gedung utama dengan estimasi anggaran Rp30–35 miliar, sementara fasilitas asrama akan dikembangkan pada tahap berikutnya.
Melalui langkah tersebut, Muhammadiyah menargetkan lahirnya generasi unggul yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat dan mampu berkontribusi di tingkat global.