Dadang Kahmad Rilis Buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama, Sebut Islam Berkemajuan Solusi Jalan Tengah Era AI

Dadang Kahmad Rilis Buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama, Sebut Islam Berkemajuan Solusi Jalan Tengah Era AI
Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. meluncurkan buku berjudul Muhammadiyah dan Masa Depan Agama di UM Bandung, Jawa Barat, Senin (5/10). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si., merilis karya terbarunya berjudul Muhammadiyah dan Masa Depan Agama dalam helatan syukuran milad dan bedah buku di Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Jawa Barat, pada Senin, 5 Oktober 2026.

Buku tersebut membedah posisi serta nasib keagamaan di tengah gempuran pesatnya ilmu pengetahuan, teknologi digital, dan artificial intelligence (AI). Prof. Dadang menegaskan, riset dan catatan analisis dalam buku ini lahir dari benang merah pengabdiannya selama 45 tahun di Muhammadiyah sekaligus pengajar sosiologi agama di UIN Sunan Gunung Djati Bandung sejak 1977 hingga pensiun pada 2022.

“Buku ini adalah buku merupakan refleksi saya sebagai anggota Muhammadiyah dan sebagai pengajar sosiologi agama. Untuk itu ini buku merupakan refleksi dari kedua latar belakang itu,” ujar Dadang Kahmad di Bandung.

Mengamati pasang surut posisi agama sejak era revolusi industri, sains positivistik, hingga era kecerdasan buatan, Dadang memetakan tiga sikap utama umat beragama. Pertama, kelompok penolak modernitas yang menarik diri ke dalam ortodoksi kaku. Kedua, kelompok ekstrim sekular yang meninggalkan agama karena mengagungkan kemampuan rasionalitas teknologi.

“Di zaman AI sekarang dunia digitalitas, semua orang mempertanyakan bagaimana nasib agama. Buat apa berdoa kalau sakit perut? Beli aja itu Topcret atau apa. Makan. Kita sudah bukan lagi zaman agama, tinggalkan,” tutur Dadang menggambarkan arus agnostisisme dan ateisme modern.

Sebagai respons, Dadang menekankan pentingnya sikap ketiga (middle way) yang memadukan pemurnian akidah dengan modernisasi muamalah—sebuah prinsip yang menjadi jati diri gerakan Islam Berkemajuan sejak era pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

“Nah, ini saya kira menurut saya jalan tengah inilah yang sangat bagus disebut jalan ketiga atau middle way. Dan mohon maaf, Islam berkemajuan itulah kira-kira sebagai natijahnya adalah jalan ketiga itu yang sejak Kiai Ahmad Dahlan dia sudah seperti itu, adalah puritanisme dalam akidah dan ibadah tapi modernisme dalam bidang muamalah duniawi,” tegas Dadang.

Melalui pendirian tersebut, teknologi tidak diposisikan secara konfrontatif terhadap doktrin agama, melainkan diakselerasi sebagai sarana dakwah dan kemaslahatan publik. Peluncuran buku ini diharapkan menjadi wacana segar bagi akademisi dan masyarakat dalam menavigasi masa depan agama di tengah arus perubahan zaman.