Dewan Pakar LP UMKM Tegaskan Kemandirian Ekonomi Umat Adalah Cermin Tauhid

Dewan Pakar LP UMKM Tegaskan Kemandirian Ekonomi Umat Adalah Cermin Tauhid
Dewan Pakar LP UMKM PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., dalam agenda Pengajian PP Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, Jumat (25/9). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan bahwa keberhasilan membangun kemandirian ekonomi umat merupakan manifestasi nyata dari keimanan dan penegakan nilai tauhid dalam kehidupan bermasyarakat.

Tegasan tersebut disampaikan oleh Anggota Dewan Pakar Lembaga Pengembang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LP UMKM) PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Euis Amalia, M.Ag., dalam agenda Pengajian PP Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 25 September 2026.

Euis mengungkapkan bahwa kemiskinan dan ketimpangan ekonomi bukanlah takdir statis yang tidak dapat diubah, melainkan tantangan struktural yang wajib diselesaikan melalui ikhtiar kolektif dan penguatan kelembagaan.

“Kemandirian umat itu adalah bagian dari keimanan kita. Jadi, tauhid kita harus direfleksikan dari bagaimana kemampuan kita membuat kemandirian umat,” ujar Euis di Jakarta.

Guru Besar Ekonomi Syariah tersebut mengaitkan kemandirian ekonomi dengan spirit Islam Berkemajuan yang mengintegrasikan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah dengan semangat ijtihad serta tajdid (pembaharuan). Terdapat lima pilar utama ekonomi berkemajuan yang ia formulasikan, yakni tauhid dan amanah, orientasi produktif, keadilan, kolaborasi, serta keberlanjutan.

Dalam mewujudkan agenda tersebut, Euis mendorong akselerasi dan pendampingan terhadap Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Menurutnya, pembenahan UMKM harus menyentuh aspek legalitas, sertifikasi halal, kapasitas manajerial, hingga perbaikan rantai pasok (supply chain).

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi Indonesia. Potensi besar amal usaha Muhammadiyah perlu diaktualkan menjadi kekuatan ekonomi Muhammadiyah. Dan ini perlu berjejaring, tidak boleh sendiri-sendiri,” tegas Euis.

Melalui integrasi antara lembaga keuangan syariah, instrumen Ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf), serta ekosistem industri halal, Muhammadiyah optimistis mampu menciptakan rantai ekonomi inklusif yang menopang pertumbuhan nasional.