Ketua PDM Jakim Minta Pilar Ekonomi Garap Akar Rumput dan Aset Wakaf Produktif
TVMU.TV - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Timur (Jatim) mendorong keterlibatan aktif warga di tingkat akar rumput—khususnya pimpinan cabang dan ranting—dalam menggerakkan pilar ekonomi organisasi agar tidak sebatas menjadi objek pasar dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Kritik dan arahan strategis tersebut disampaikan oleh Ketua PDM Jakarta Timur, Prof. Dr. M. Nur Rianto Al Arif, M.Si., dalam agenda Pengajian Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah bertajuk “Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 25 September 2026.
Nur menilai pergerakan sektor ekonomi di tingkat bawah sejauh ini masih terbatas. Salah satu pemicu utamanya adalah minimnya keterwakilan figur pengusaha di jajaran struktur kepemimpinan, sehingga organisasi cenderung ragu saat mengambil peluang bisnis berskala besar.
“Padahal sebenarnya, ketika banyak peluang-peluang besar ya bisa kita lakukan, tapi kita merasa nggak siap. Kita membuat konsep segala macam tapi ketika turun ke akar rumput, nah ini PR-nya,” ujar Nur di Jakarta.
Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut membeberkan realitas di lapangan, di mana sebagian besar pimpinan cabang dan ranting masih bergantung pada logistik AUM sektor pendidikan. Pola pikir pendirian AUM pun acap kali terbatas pada pembangunan sekolah, masjid, atau panti asuhan yang berkarakter cost center (pusat biaya), ketimbang unit usaha produktif penghasil surplus.
Fenomena tumpang tindih usaha antardaerah—seperti menjamurnya AUM Air Minum dalam Kemasan (AMDK)—juga disoroti karena membingungkan warga persyarikatan di tingkat bawah dalam menentukan produk pilihan.
“Semua bermain masing-masing. Dan semua dijualnya ke mana? Ke daerah, ke cabang, ke ranting juga,” jelas Nur.
Guna mengatasi keterbatasan modal operasional dakwah di tingkat akar rumput, Nur mengimbau agar pengelolaan aset wakaf tidak lagi terpaku pada kegiatan sosial semata, melainkan ditransformasikan menjadi sektor ekonomi produktif yang inklusif.
“Ketika kita bicara gerakan ekonomi berkemajuan, maka kita harus benar-benar bicara komprehensif, bicara bahwa akar rumput pun juga harus bergerak,” tegas Nur memungkas pandangannya.
