Martabat Bangsa

Martabat Bangsa
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir/ Foto: Istimewa.

Oleh: Haedar Nashir*

Kata pepatah, “Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang.” Lalu, “Manusia mati meninggalkan nama.”

Tentu nama baik, bukan nama buruk. Nama baik dengan segala benih kebaikan sebagai makhluk berakal budi, yang melahirkan keadaban dan peradaban.

Bagi bangsa Indonesia, martabat dan nilai utama itu hidup subur dalam nilai dasar Pancasila, agama, dan kebudayaan luhur bangsa. Ketiganya menjadi patokan berperilaku yang penting dan bermakna agar bangsa ini selalu berada di jalan benar, baik, dan pantas. Sebaliknya tidak terjerumus pada jalan salah, buruk, dan tidak patut.

Namun nilai-nilai luhur itu sering rusak dan menjadi dangkal karena pesona dunia. Godaan materi, kursi, dan nafsu inderawi sering menjerumuskan individu maupun bangsa pada perbuatan salah, buruk, dan tidak beretika.

Perbuatan-perbuatan nista itu sering dibungkus dengan segala argumen, instrumen, dan siasat yang piawai sehingga yang tampak di permuakaan ialah pesona luar biasa layaknya fatamorgana!

Insan Bermartabat

Martabat manusia melekat dengan eksistensi dirinya sebagai insan ciptaan Tuhan yang berakal budi. Makhluk yang memiliki hati, rasa, dan rasio untuk menimbang segala hal dalam hidupnya.

Martabat itu tingkat kualitas harkat kemanusiaan, termasuk harga dirinya sebagai makhluk ciptaan manusia yang mulia dan dimuliakan Tuhan. Martabat, dalam konstruksi kaum beriman dan keagamaan, melekat dengan nilai akhlak.

Bagaimana manusia berpola-perilaku utama, agar hidup bermartabat mulia.

Suatu bangsa sejatinya memiliki martabat diri, yakni harkat kebangsaan yang selalu menjunjung tinggi kebenaran, kebaikan, dan kepatutan hidup di atas nilai-nilai utama.

Kata Syeikh Syauqi Bey, “Sesungguhnya kejayaan suatu umat atau bangsa karena akhlaknya, bila akhlak hilang maka jatuhlah bangsa itu.”

Meski digdaya dalam segala pesona duniawi, suatu bangsa akhirnya akan kehilangan makna jika tidak memiliki martabat diri nan utama.

Cicero, sang pemikir di era Yunani Kuno berkata, “Manusia lebih tinggi derajatnya daripada hewan.” Bila hewan bertindak atas instingnya, manusia berbuat atas akal budinya.

Manusia dengan akal budinya tahu yang benar, baik, dan pantas serta mampu membedakan dari yang salah, buruk, dan tidak patut. Adapun hewan tidak tahu nilai-nilai utama kehidupan seperti itu.

Namun, manusia ketika berbuat salah, buruk, dan tidak layak justru dapat lebih jahat dan nista daripada binatang. Mereka seperti binatang buas, “Bal hum adhallun”, bahkan jauh lebih sesat ketimbang hewan.

Secara rinci disebutkan dalam Alquran, yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS al-‘Araf: 179).

Karenanya, Rasul SAW hadir dan kitab suci diturunkan Tuhan untuk membimbing manusia agar akal budinya terus terawat, terbina, dan sempurna. Misi kerisalahan Nabi Muhammad sebagai Rasul akhir zaman ialah “menyempurnakan akhlak manusia”.

Bukan hanya manusia yang beriman dan Muslim, tetapi seluruh anak cucu keturunan Adam alaihissalam mesti disempurnakan perangainya menuju martabat “insan kamil”. Termasuk umat manusia dari bangsa Indonesia, baik warga lebih-lebih elite negerinya.

Siapapun insan beriman mestinya bertindak berdasarkan akal budi yang dijiwai iman, takwa, dan kesalehan hidup. Mereka yang diberi Tuhan amanah kekuasaan, kelebihan harta, keutamaan ilmu, dan segala anugerah yang berharga lainnya mesti dimanfaatkan sebaik-sebaiknya untuk segala kebajikan yang utama selaku insan beradab dan berperadaban luhur.

Bukan bertindak menuruti segala hawa nafsunya yang merah menyala. Sebelum bertindak pikirkanlah dengan matang mana yang benar, baik, dan pantas serta mampu membedakan serta tidak melakukan perbuatan yang salah, buruk, dan tidak patut berdasar etika dan nilai ajaran hidup nan utama.

Kontestasi Bermartabat

Martabat dalam keluhuran kehormatan diri itu ibarat benih yang ditaburkan Tuhan di alam semesta menjadi nilai universal. Manusia dalam seluruh denyut kehidupannya termasuk ketika harus bersaing atau berkontestasi, mesti menjunjung tinggi martabat diri dan sesama.

Segala wujud pertandingan olahraga, termasuk sepak bola yang sudah berubah menjadi industri di dunia, ditegakkan segala aturan yang selalu dikawal wasit dan semua pihak yang terlibat dalam pertandingan.

Hal ini agar pertandingan itu bermartabat layaknya peragaan hidup manusia yang beradab. Bukan perebutan hidup alam hewan dalam hukum Hobbesian, homo homini lopus.

Dalan pertandingan olahraga sekalipun, selalu ada perilaku menyimpang demi meraih kemenangan. Diving, melakukan pelanggaran ringan sampai yang berbahaya, serta segala trik yang kadang atau sering dilakukan para pemain dalam pertandingan.

Bahkan dalam pertandingan yang dikendalikan mafia, sering terjadi pengaturan skor dan pertandingan, sehingga kemenangan berada di tangan kuasa para mafioso dan bohir. Pertandingan sudah ditentukan pemenangnya sebelum dimulai!

Memang selalu ada “rule of law” yang menjadi pengatrol dan pengendali sistem berperilaku. Prinsip hukum tersebut dalam bernegara bahkan menegaskan bahwa negara harus diperintah oleh hukum atau aturan dan tidak oleh keputusan-keputusan subjektif para pejabat negara.

Bila para pejabat negara melakukan pelanggaran, maka terjadilah penyimpangan seperti korupsi atau penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Hukum dan semua sistem diakali dan diporakporandakan demi kepentingan manusia yang sarat hasrat ambisius.

Hukum dan sistem yang sudah payah telah dibangun pun diporakporandakan. Sebaik dan secanggih apapun sistem, akhirnya bergantung manusia sebagai aktor.

Ada manusia perawat dan pembangun sistem. Sebaliknya, tidak sedikit perusak sistem.

Alam semesta ciptaan Tuhan yang dianugerahkan kepada manusia pun, di tangan sang perusak, menjadi hancur dan dihancurkan. Apalagi sistem dan ekosistem bikinan manusia sendiri. Tuhan pun memperingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia…” (QS ar-Rum: 41).

Manusia pada dasarnya baik, bahkan bertuhan dan beragama. Tetapi elemen buruk yang bernama hawa nafsu sering membuat manusia lupa diri.

Manusia tenggelam dalam segala hasrat yang ambisius yang menjadikan dirinya serakah sekaligus sesat jalan. Sistem kehidupan dikorbankan demi meraih kekuasaan, uang, dan segala pesona duniawi yang sebesar-besarnya dan selanggeng mungkin.

Lantas, manusia menjadi rakus dunia dan menghalalkan segala cara demi mewujudkan segala ambisi hidupnya yang tak berkesudahan. Sebagaimana ilustrasi nyata dalam firman Allah, “Al-hakumut-takasur, ḥatta zurtumul-maqabir”, artinya “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS at-Takatsur: 1-2).

Karenanya manusia dan bangsa yang beriman mesti kembali ke fitrah atau jati diri yang murni guna meraih martabat utama selaku insan yang diciptakan mulia (fi ahsan at-taqwim) manakala telah diliputi hasrat duniawi yang berlebihan.

Dunia dengan segala kontestasi apapun, termasuk pemilihan umum dalam politik, hanyalah nisbi dan tidak abadi. Watak kontestasi itu “al-ghurur”, serba penuh permainan yang mesti disikapi kewaspadaan tinggi dengan nilai luhur dan kekayaan akal budi.

Hati-hati di kala sukses dan bergelimang kuasa takhta maupun harta, semua merupakan ujian Tuhan yang akan ada akhirnya. Roda kehidupan itu selalu dipergilirkan Tuhan yang Mahakuasa. Tuhan Maha Segalanya dalam membolak-balikkan seluruh digdaya manusia yang sifatnya sementara dan fana.

Maka, berkontestasilah dalam segala aktivitas hidup secara bermartabat, dengan cara yang halal dan baik. Junjung tinggi etika dan nilai utama kehidupan.

Meski siapapun bisa keluar menjadi pemenang dalam suatu kontestasi, bilamana diraih dengan curang dan segala muslihat, maka hasil akhirnya hanya akan menjadi beban diri dalam dosa dan pertanggungjawaban yang sangat berat di dunia hingga hari akhir.

Tidak ada yang berkah untuk nasib manusia atau kelompok yang menghalalkan segala cara dalam meraih tujuan hidup. Di dunia akan terus dikejar dosa dan beban berat tak berkesudahan, meski bermahkotakan kuasa yang tampak gagah perkasa, tapi sejatinya simulakra.

Jikalau lolos di dunia, pasti di akhirat akan dijerat hisab dan siksa Tuhan yang sangat pedih dan mengerikan!

Artikel ini pernah tayang di republika.id pada Sabtu, 13 Desember 2023.