Muktamar Muhammadiyah ke-48 Bakal Bahas Isu Strategis, Salah Satunya Soal Tahun Politik 2024
Perhelatan Muktamar Muhammadiyah ke-48 tak terasa akan dimulai dalam kurun waktu beberapa hari ke depan.
TVMU.TV - Perhelatan Muktamar Muhammadiyah ke-48 tak terasa akan dimulai dalam kurun waktu beberapa hari ke depan.
Adapun materi Muktamar ke-48 meliputi laporan Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2022, program Muhammadiyah 2022-2027, Risalah Islam Berkemajuan, serta Isu-isu Strategis Keumatan, Kebangsaan dan Kemanusiaan Universal.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengungkapkan salah satu isu strategis yang akan dibahas dalam Muktamar ke-48 yakni, masalah tahun politik 2024.
Hal itu disampaikannya Haedar di acara Press Gathering yang digelar PP Muhammadiyah, Senin (7/11) secara daring.
Di menjelaskan, Muhammadiyah memandang bahwa Pemilu 2024 merupakan kontestasi yang krusial.
Haedar berharap pada Pemilu 2024 nanti, ada suasana baru yang beda dengan Pemilu 2019, dimana Pemilu 2019 menyisakan ‘pertikaian’ yang seakan tak berujung.
“Apa sih suasana baru itu? Pertama, kita tidak mengulangi lagi yang selama ini kita resahkan bersama, dan pembelahan politik,” ucapnya.
Haedar minta supaya kejadian serupa tidak terulang, serta menghindari hal-hal yang membuatnya terbelah. Misalnya menghindarkan politisasi identitas agama, suku, ras dan golongan, bahkan ideologi tertentu.
Menurut dia, jika ditarik dalam urusan politik terlalu dalam akan menimbulkan pembelahan. Kemudian juga menghadirkan negara dengan segala kekuatan pranatanya, namun tidak ikut terlibat dalam kontestasi.
“Ini penting agar kita tidak terlibat dalam subjektivikasi politik yang akhirnya ketika terjadi pembelahan menyebabkan negara tidak bisa menjadi kekuatan yang berwibawah,” tegas Haedar.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta itu menilai negara ini penting sebagai penengah atas terjadinya pembelahan yang menyebabkan ketidakseimbangan tubuh bangsa akibat polarisasi politik.
Untuk mencegah kejadian pembelahan sebagaimana Pemilu 2019, Haedar mengatakan kekuatan masyarakat seperti organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah supaya perlu menjaga jarak dari kontestasi tersebut. Dalam hal ini, ujar dia, Muhammadiyah konsisten berada pada posisinya menjaga jarak.
“Terakhir tentu kita ingin lahirnya para elit siapapun yang diusung partai manapun, baik di partai politik, di kekuatan-kekuatan masyarakat yang menjadi penyangga dari kontestasi, baik dari relawan maupun calon eksekutif betul-betul menjadi negarawan,” harapnya.
“Saat ini menciptakan ruang publik untuk kontestasi 2024 itu adalah ajang para negarawan untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, di atas kepentingan diri, kelompok, kroni, dinasti dan orientasi kekuasaan yang tak berkesudahan,” lanjut Haedar.
Terkait menghadapi kontestasi politik 2024, Haedar pun mengingatkan tentang pentingnya persatuan bangsa yang satu paket dengan Bhineka Tunggal Ika. Menurutnya, dialektika antara perbedaan dan persatuan ini tidak mudah, maka dari itu memerlukan manajemen yang baik.
VIDEO: Kita dan Muhammadiyah Bersama Pemuda Muhammadiyah