PP Muhammadiyah Dorong Revitalisasi Gerakan Kepanduan
TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW) untuk segera melakukan revitalisasi gerakan secara komprehensif agar tetap relevan dengan dinamika zaman dan daya tarik generasi muda.
Pesan strategis tersebut ditegaskan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Dr. H. Agung Danarto, M.Ag., saat memberikan amanat dalam Sidang Tanwir I Hizbul Wathan yang mengusung tema Meneguhkan Kepanduan Berkemajuan di Universitas Muhammadiyah (UM) Metro, Lampung, pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Agung memperingatkan bahwa HW akan kehilangan minat di mata generasi muda apabila metode pembinaannya hanya tertahan pada kegiatan-kegiatan konvensional tanpa adanya inovasi program yang berkemajuan.
“Kalau HW hanya berkutat pada pembinaan-pembinaan yang sifatnya klasik, terbatas kepada latihan baris-berbaris, tali-temali, semaphore, mendirikan tenda, kalau sebatas hanya itu mungkin minat anak muda akan semakin menurun terhadap gerakan Hizbul Wathan,” ujar Agung Danarto di Metro.
Ia menekankan bahwa nama Hizbul Wathan yang digagas pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, pada 1918 memiliki arti historis "Pembela Tanah Air" (Hizbun berarti pembela/tentara dan Al-Wathan berarti tanah air). Karena itu, nilai patriotisme tersebut harus diwujudkan melalui aksi pembinaan nyata, bukan sebatas retorika.
“Bisa dibayangkan ketika 1918 ketika KH Ahmad Dahlan mendirikan HW, bagaimana jiwa nasionalis yang dimiliki Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, yang ingin agar anak-anak muda yang dibina oleh Muhammadiyah memiliki kecintaan yang luar biasa atas tanah dan air yang dimiliki. Pembela Tanah Air tidak cukup dengan slogan NKRI harga mati, tetapi harus ada upaya-upaya serius bagaimana menumbuhkan rasa kecintaan kepada tanah air dengan sebaik-baiknya,” tegas Agung.
Di samping tantangan metodologi, Agung menyoroti agenda konsolidasi organisasi. Mengingat HW dihidupkan kembali sejak 1999 pasca-penggabungan Pramuka pada 1961, ia mendorong pimpinan Kwartir Pusat untuk memperluas jejaring kepanduan hingga terbentuk secara utuh di 38 provinsi se-Indonesia.
“Sidang tanwir ini tentunya akan mengevaluasi kinerja HW selama ini setelah kebangkitannya di tahun 1999. Dalam perjalannya HW didirikan oleh Ahmad Dahlan pada 1918, kemudian 1961 digabung dengan kepanduan pramuka dan kemudian dihidupkan kembali pada 1999,” pungkasnya.
Melalui Sidang Tanwir I di UM Metro ini, Hizbul Wathan diharapkan mampu memperkuat struktur kelembagaan sekaligus melahirkan formula kepanduan modern yang melayani kebutuhan pemuda Indonesia di era digital.
