Rawat Tradisi Besar Muhammadiyah, Haedar Nashir Ingatkan Kader Tak Dramatisasi Masalah Organisasi
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si., mengajak seluruh warga dan kader Persyarikatan untuk terus merawat tradisi besar (the great tradition) organisasi serta tidak mendramatisasi setiap persoalan yang dihadapi.
Pesan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan amanat dalam acara Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) Periode 2026–2030 di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, pada Jumat malam, 2 Oktober 2026.
Merujuk pada konsep The Great Tradition yang diperkenalkan antropolog Amerika Serikat, Robert Redfield, Haedar memaparkan bahwa lompatan kemajuan serta besarnya kepercayaan publik dan aset yang dimiliki Muhammadiyah saat ini berakar dari sistem kelembagaan unggul dan etos pergerakan yang adiluhung.
“Tradisi besar itu berarti sebuah sistem yang di dalamnya ada sekelompok elite terpilih yang memiliki sistem kelembagaan yang unggul, kokoh, yang bagus. Kemudian habit orang di dalamnya juga menunjukkan budaya yang adiluhung,” ujar Haedar Nashir.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Muhammadiyah menjangkau wilayah-wilayah terpencil hingga ranah global dibangun atas keikhlasan, pengkhidmatan, kegigihan, serta kemandirian kader dari level pusat hingga pelosok.
Oleh karena itu, Haedar mengingatkan agar dinamika maupun hambatan di internal organisasi disikapi secara bijak dengan senantiasa mendahulukan rasa syukur dan optimisme.
“Kalau di tengah jalan kita ada masalah, kesadaran akan masalah itu harus tetap selalu hidup. Tetapi jangan membalik keadaan. Syukur kita harus selalu lebih besar ketimbang kita melihat masalah,” tegas Haedar.
Haedar juga mengimbau warga Muhammadiyah dan 'Aisyiyah untuk tidak membesar-besarkan kekurangan internal secara terbuka. Menurutnya, fokus berlebihan pada masalah justru dapat melemahkan energi pergerakan dan merusak perspektif positif.
“Kalau Anda terus melihat penyakit dan mencari-cari terus penyakit, ya jadilah orang sakit. Yang jadi masalah, kelemahan, dan kekurangan kita perbaiki, perbaiki, dan perbaiki. Bila perlu kita amputasi secara internal. Jangan kita obral masalah itu, karena kalau kita obral permasalahan, yang malu kita sendiri, kan?” ungkapnya.
Melalui penekanan tersebut, Haedar berharap setiap kekurangan dapat dimaknai sebagai pemicu untuk terus berbenah dan memperkokoh tradisi besar Muhammadiyah dalam memberi kemanfaatan luas bagi bangsa dan kemanusiaan.
