Sambutan Haedar Nashir di Milad ke-104 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta

Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta menggelar Milad ke-104 di Sedayu Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis (8/12).

Sambutan Haedar Nashir di Milad ke-104 Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara Milad ke-104 di Sedayu Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (8/12). Foto: Instagram @haedarnashirofficial.

TVMU.TV - Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta menggelar Milad ke-104 di Kampus Terpadu, tepatnya di Sedayu Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Kamis (8/12).

Acara tersebut dihadiri Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah Haedar Nashir, Anggota PP Muhammadiyah sekaligus Badan Pengurus Harian (BPH) Mu’allimin-Mu’allimaat Muhammadiyah Agung Danarto, Direktur Mu’allimin Aly Aulia, Ketua Keluarga Besar Alumni Mu’allimin (KABAMA) Nasrullah Larada dan tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan usia ke-104 tahun bukan usia yang mudah bagi eksistensi sebuah lembaga pendidikan Islam modern.

Lebih lanjut, ia menilai milad bukan sekedar ritual acara semata, tapi juga menjadi kesempatan dalam melakukan untuk refleksi sekaligus proyeksi untuk hadir semakin kokoh dan maju sebagai lembaga pendidikan kader Persyarikatan.

Menurut Haedar, dari periode ke periode seluruh civitas akademika Madrasah Mu’allimin ini mampu membawa Sekolah Kader Muhammadiyah (SKM) ini menjadi sebuah kebangaan.

“Bahkan tadi sudah masuk pada proses internasionalisasi, baik dalam bentuk kerja sama maupun dalam berbagai program bersama berbagai pihak di luar maupun di dalam negeri," sebutnya.

Dikatakan Haedar, proses panjang ini merupakan akumulasi dari pergerakan dan pengkhidmatan seluruh pihak, termasuk Pimpinan Persyarikatan Muhammadiyah dari level pusat sampai dengan ranting di mana Madrasah Mu’allimin itu berada.

Dia pun menambahkan, awal kelahiran Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah dimaksudkan sebagai rahim untuk lahirnya sosok kader, pendidik, sekaligus ulama dan zuama’.

Ketiga aspek, ujar Haedar, kemudian menjadi satu kesatuan di pendidikan Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat yang berkualitas untuk kepentingan pergerakan persyarikatan. Saat ini, para alumni bukan hanya lahir untuk kepentingan pergerakan persyarikatan, tapi juga untuk kepentingan umat, bangsa dan kemanusiaan semesta.

Tak lupa, Haedar juga mengapresiasi terkait dengan tema besar yang diangkat oleh Madrasah Mu’allimin yaitu 'Maju Lebih Besar Bersama'.

“Apa yang sebenarnya dirintis sudah menggambarkan itu, tetapi kalau ingin lebih besar lagi, jadi sesuatu yang tingkat kebesarannya superlatif maka diperlukan apapun proses yang quantum life atau lompatan,” ucapnya.

Lalu alam melakukan lompatan untuk menjadi besar, kokoh dan berkeunggulan, Haedar mengatakan hal itu membutuhkan motivasi nilai. Menurutnya, nilai tersebut bisa didapatkan dalam Al Qur’an, karena didalamnya mengajarkan nilai utama.

Sekedar informasi, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta merupakan lembaga pendidikan Islam modern tertua yang didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan pada 1918 dengan nama awal “Qismul Arqa”, selanjutnya diubah menjadi Pondok Muhammadiyah pada tahun 1920, kemudian menjadi “Kweekschool Muhammadijah” pada tahun 1924.