Selamatkan Estafet Kepemimpinan, PP Aisyiyah Dorong Nasyiatul Aisyiyah Usung Servant Leadership dan Digitalisasi Dakwah

Selamatkan Estafet Kepemimpinan, PP Aisyiyah Dorong Nasyiatul Aisyiyah Usung Servant Leadership dan Digitalisasi Dakwah
Ketua Umum PP 'Aisyiyah, Dr. Drh. Hj. Salmah Orbayinah, M.Kes., Apt. dalam gelaran Malam Taaruf PPNA bertajuk “Meneguhkan Amanah, Menguatkan Gerakan Perempuan Muda Berkemajuan,” Jumat malam (2/10). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah, Dr. Drh. Hj. Salmah Orbayinah, M.Kes., Apt., mendorong Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) periode 2026–2030 untuk menerapkan prinsip servant leadership (kepemimpinan melayani) serta memasifkan media digital sebagai sarana dakwah strategis generasi perempuan muda.

Pesan dan ucapan selamat tersebut disampaikan Salmah dalam agenda Taaruf Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah yang berlangsung hangat di SM Tower Malioboro, Yogyakarta, pada Jumat malam, 2 Oktober 2026.

Salmah menegaskan bahwa keberadaan Nasyiatul Aisyiyah yang berakar dari Siswo Projo Waniyo (SPW) sejak 1919 hingga resmi berdiri pada 1931, memiliki peran vital dalam mendidik, membina, dan menyiapkan kader penerus perjuangan dakwah 'Aisyiyah dan Muhammadiyah.

“Sehingga kami berharap kepemimpinan baru ini sudah semestinya dipahami sebagai sebuah tanggung jawab dan amanah untuk melayani (servant leadership). Bukan sekadar memimpin, tapi juga melayani banyak umat dan kita harus niatkan ini sebagai ladang dakwah kita,” ujar Salmah Orbayinah di Yogyakarta.

Dalam kesempatan tersebut, PP 'Aisyiyah merumuskan enam pesan khusus sebagai pijakan arah gerakan kepengurusan baru PPNA. Pertama, penguatan kaderisasi berkelanjutan; kedua, menghadirkan dakwah kontekstual yang relevan dengan kebutuhan perempuan muda era digital; serta ketiga, mendorong kemandirian ekonomi perempuan muda.

Selanjutnya, Salmah mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kiprah organisasi dan ketahanan keluarga, optimalisasi ruang digital untuk syiar, serta konsistensi dalam menjaga estafet kepemimpinan bangsa.

“Semua gerakan dan dakwah NA ini harus relevan dengan generasi mudanya. Artinya, gerakan dakwah yang kontekstual yang sesuai dengan kondisi sekarang dan kebutuhan perempuan muda agar menjangkau lebih banyak kalangan,” tuturnya.

Ia menambahkan, keterlibatan aktif kader muda di dunia digital akan memperluas daya jangkau gagasan kemajuan Islam. Di sisi lain, penguatan sektor keluarga tetap menjadi benteng utama dalam mencetak generasi penerus yang berilmu dan berakhlak.

“NA harus benar-benar menjadi wajah generasi muda Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Maka, kita harus terus siapkan generasi yang berkemajuan yang kemudian dapat mencerahkan peradaban,” pungkas Salmah.