Bahasa Indonesia Resmi Diajarkan di Universitas Al-Azhar Kairo
TVMU.TV - Sejarah baru kembali tercipta dalam perjalanan diplomasi kebudayaan Indonesia. Untuk pertama kalinya, Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia resmi berdiri di Universitas Al-Azhar Kairo, salah satu universitas Islam tertua dan paling berpengaruh di dunia.
Peresmian tersebut dilakukan secara simbolis melalui penandatanganan prasasti dan pemotongan pita oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, bersama Rektor Universitas Al-Azhar, Salamah Jumah Ali Daud di kampus utama Al-Azhar, Kairo, Kamis (6/11).
Peresmian Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan tonggak bersejarah dalam penginternasionalan bahasa Indonesia di kancah global.
Kegiatan diawali dengan penampilan seni bela diri Tapak Suci dan pembacaan pantun, dua representasi khas budaya Indonesia yang memukau para tamu undangan Mesir dan internasional.
Menariknya, seluruh pengisi acara adalah para pemelajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang mengenakan busana adat Nusantara, menambah semarak suasana dengan warna-warni budaya Tanah Air.
Antusiasme masyarakat Mesir terhadap bahasa dan budaya Indonesia sangat tinggi. Hal ini tercermin dari jumlah mahasiswa baru yang mencapai 350 orang, angka yang luar biasa untuk program studi baru.
“Bahasa Indonesia kini semakin mendunia, dan berdirinya Prodi ini adalah bukti bahwa kebudayaan Indonesia mampu menembus jantung dunia Islam,” ujar Abdul Mu’ti.
Sebelum peresmian Prodi, dilakukan pula penandatanganan nota kesepahaman kerja sama (MoU)antara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dengan Universitas Al-Azhar.
Dalam sistem Mesir, Rektor Al-Azhar memiliki kedudukan setara dengan pejabat setingkat menteri, sebagaimana diatur dalam UU Mesir No. 103 Tahun 1961 dan diperkuat dengan Keputusan Presiden Mesir pada 29 Maret 2023.
Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di Kairo, Abdul Muta’ali, proses diplomasi menuju pendirian Prodi ini memakan waktu lebih dari satu tahun lima bulan.
Langkahnya panjang dan penuh dinamika: mulai dari penyusunan naskah akademik, izin dari Grand Syeikh Al-Azhar, persetujuan Dekan Fakultas Bahasa dan Terjemah, hingga berbagai presentasi di hadapan Senat Fakultas, Rektor, dan Majelis Tinggi Universitas Al-Azhar.
Hingga akhirnya, Majelis Tinggi Al-Azhar mengeluarkan keputusan resmi nomor 343 pada 12 Juli 2025, yang menandai lahirnya Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia secara sah.
“Ini bukan sekadar kerja sama akademik, tetapi buah dari diplomasi budaya yang membangun jembatan antara dua peradaban besar — Indonesia dan Mesir,” jelas Abdul Muta’ali.
Peresmian Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar Kairo mengandung tiga nilai sejarah penting:
1. Program Studi Bahasa Indonesia pertama di Afrika dan Timur Tengah.
Sebuah capaian monumental yang memperluas jangkauan pendidikan Indonesia di kancah global.
2. Menteri Pendidikan Indonesia pertama yang menandatangani MoU dengan Al-Azhar. Langkah ini memperkuat kerja sama strategis di bidang pendidikan dan kebudayaan antarnegara.
3. Mengulang sejarah diplomasi Indonesia–Mesir. Sebagaimana Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1947, kini melalui Al-Azhar, hubungan kedua bangsa kembali terjalin dalam bidang ilmu dan bahasa.
Dengan diresmikannya Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Al-Azhar, bahasa Indonesia kini resmi menjadi bagian dari kurikulum akademik di dunia Arab.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat diplomasi kebudayaan, memperluas jejaring akademik internasional, dan menumbuhkan minat terhadap studi Indonesia di Timur Tengah dan Afrika.
“Ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari babak baru. Bahasa Indonesia kini memiliki rumah baru di jantung dunia Islam,” tutup Abdul Mu’ti.