Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Maknai Spirit Surat Al-Ma’un Secara Progresif
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir meminta warga Persyarikatan memaknai surat al Ma’un secara progresif.
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengajak warga Persyarikatan memaknai surat al Ma’un secara progresif. Karena, spirit surat al Ma’un mendorong kaum muslimin untuk menjadi ya’du sufla atau kaum yang senantiasa memberi pertolongan.
“Tidak mungkin kita bisa memberdayakan orang miskin, anak yatim, dan mereka yang memerlukan jika kita sendiri tidak berkecukupan,” kata Haedar saat meresmikan Gedung Medik RS Siti Khadijah dan SMP Muhammadiyah 2 yang dikelola oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sepanjang, Sidoarjo, Rabu (31/8) kemarin.
“Jangan dipahami salah, sering orang orang memahami Al Ma’un supaya kita hidup berkekurangan. Justru supaya al Ma’un itu dipraktekkan kita harus berkecukupan,” sambungnya.
Saat peresmian juga, Haedar menjelaskan bahwa semangat al Ma’un walapun pro terhadap kelompok dhuafa’-mustadh’afin, namun dalam memberikan pelayanan tetap harus memakai standar prima.
Ia pun berharap Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bidang Kesehatan sebagai bagian dari penolong kesengsaraan umum, harus mencerminkan kebersihan, pelayanan ramah, dan indikator-indikator baik lainnya. Jangan karena menolong orang miskin, dhuafa-mustadh’afin lalu gedungnya jelek, pelayanan tidak ramah dan seterusnya.
“Jadikan rumah sakit Al Ma’un yang berkemajuan. Pelayanannya berkemajuan, kebersihannya berkemajuan, senyumnya pun senyum berkemajuan, artinya orang yang datang ke PKU Muhammadiyah ketika sakit separuh sakitnya hilang,” ucap Haedar.
Hal ini tidak hanya berlaku kepada AUM Bidang Kesehatan, Haedar berpesan, gedung baru SMP Muhammadiyah 2 Taman merupakan salah satu wujud konkrit dari progresif al Ma’un juga. Dia berharap agar sekolah-sekolah Muhammadiyah yang lain dapat menjadi kebanggaan.
Pada kesempatan itu pula, Haedar pun berpesan kepada seluruh peserta didik sekolah Muhammadiyah untuk senantiasa tertib, termasuk tertib mengaji dan menghafal Al Qur’an, tawadhu’, hormat kepada orang tua, dan disertai dengan cerdas dalam pelajaran, berilmu, skillnya tinggi, dan terus mengasah kecerdasan sosial.
“Sekolah bukan pabrik, hanya melatih orang cerdas, skill nya tinggi, tapi akhlaknya kurang baik. Kemudian tidak punya nilai nilai dalam hidupnya, nilai kebenaran, nilai kehalusan, nilai akal budi. Tentu dasarnya agama. Ini perlu kita angkat sejak dini,” pesanya.
VIDEO: Pertemuan Markaz Al-Hijaz Dengan Muhammadiyah
