Haedar Nashir Kenang Dedikasi Dyah Siti Nur’aini untuk Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengenang Dyah Siti Nur’aini sebagai kader Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang gigih menjalankan amanah organisasi. Dyah, yang pernah menjabat Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, wafat pada Sabtu (22/8/2026) dalam usia 69 tahun.
Haedar menyampaikan hal tersebut saat melepas jenazah almarhumah di Kartasura, Ahad (23/8/2026). Ia menyebut kepergian Dyah menjadi kehilangan bagi keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, meski ajal merupakan ketetapan Allah SWT yang harus diterima dengan ikhlas, sabar, dan tawakal.
“Tentu kami sangat kehilangan. Tetapi, betapapun duka dan kehilangan, Allah telah menggariskan nazar beliau, Ibu Dyah, untuk menghadap ke hadirat-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya,” ujar Haedar saat melepas jenazah almarhumah pada Ahad (23/8) di Kartasura.
Haedar menuturkan, Dyah Siti Nur’aini merupakan sosok yang mengabdikan perjalanan hidupnya melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Ia menilai kiprah almarhumah menunjukkan kegigihan dalam menjalankan amanah sekaligus upaya menjadi hamba Allah dan khalifah di muka bumi.
“Kami dari keluarga besar Muhammadiyah memberikan kesaksian bahwa Mbak Dyah adalah sosok ‘Aisyiyah dan kader Muhammadiyah. Perjalanan hidupnya adalah upaya untuk menjadi hamba Allah sekaligus khalifatullah melalui Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah,” ungkapnya.
Jejak Panjang Pengabdian Dyah Nur’aini
Dyah Siti Nur’aini tercatat pernah menjabat Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah selama dua periode, yakni 2010–2015 dan 2015–2022. Sebelum berkiprah di tingkat pusat ‘Aisyiyah, ia juga pernah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah periode 1995–2000.
Haedar mengaku telah mengenal dan menyaksikan kiprah Dyah sejak akhir dekade 1970-an. Pada periode 1979–1982, Haedar aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, sedangkan Dyah berkiprah di Tapak Suci.
Dari perjalanan panjang tersebut, Haedar mengatakan dirinya mengetahui secara langsung kegigihan Dyah dalam menjalankan amanah organisasi. Pengabdian itu kemudian berlanjut ketika Dyah dipercaya memimpin Nasyiatul ‘Aisyiyah sebelum menjadi Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah.
Haedar juga mengenang ketekunan Dyah dalam mengurus organisasi hingga berbagai daerah, termasuk Solo.
“Betapa perjuangan dan kepintaran beliau dalam mengurus ‘Aisyiyah, hingga ke Solo, tidak pernah lelah,” katanya.
Menurut Haedar, ketulusan dan kegigihan merupakan modal penting dalam menjalankan khidmat di Persyarikatan. Ia berharap seluruh pengabdian Dyah menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
“Beliau bisa menjadi contoh kegigihan dan khidmat. Semoga seluruh pengabdian beliau menjadi amal jariyah yang tidak pernah putus di akhirat,” tuturnya.
Haedar Ajak Keluarga Besar Muhammadiyah Mendoakan Almarhumah
Haedar menegaskan, kepergian seseorang ketika ajal telah tiba merupakan ketetapan Allah SWT. Karena itu, keluarga dan seluruh yang ditinggalkan perlu menerimanya dengan kesabaran dan ketawakalan.
Ia kemudian mengajak keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang hadir untuk mengantarkan almarhumah dengan doa.
“Bahwa kunci khidmat adalah ketulusan dan kegigihan, serta ikhtiar kita yang lebih hakiki berdasarkan rida Allah,” ujarnya.
Haedar berharap Dyah Siti Nur’aini memperoleh husnul khatimah dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Ketika kita mendengar kabar duka ini, kita sedih. Insyaallah kita berada di tempat ini untuk menghantarkan beliau ke pemakaman dengan doa. Insyaallah Mbak Dyah husnul khatimah dan menjadi ahlul jannah. Kita bersama-sama berdoa untuk melepas kepergian Mbak Dyah,” pungkasnya.
Informasi mengenai wafatnya Dyah Siti Nur’aini dan riwayat jabatannya sebagai Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah periode 2010–2022 juga telah dikonfirmasi melalui laman resmi PP ‘Aisyiyah.