Jemaah Haji Tertua Indonesia 103 Tahun Tiba di Madinah
TVMU.TV - Jemaah haji tertua asal Indonesia pada musim haji 1447 Hijriah/2026 Masehi, Mardijiyono Karto Sentono (103), tiba di Madinah, Arab Saudi, Minggu (3/5/2026). Kedatangan warga Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu menjadi perhatian petugas dan jemaah lain di tengah kedatangan gelombang pertama jemaah Indonesia.
Mardijiyono tergabung dalam Kloter 9 Embarkasi Yogyakarta (YIA). Di usianya yang telah melampaui satu abad, ia mendapat pendampingan khusus dari Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, termasuk saat proses turun dari kendaraan menuju area penerimaan jemaah.
Setibanya di Madinah, Mardijiyono mengaku bersyukur akhirnya dapat menapakkan kaki di Tanah Suci setelah penantian panjang. Sehari-hari bekerja sebagai petani, ia menyimpan harapan sederhana untuk dapat beribadah di Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.
Semangat itu tetap terjaga meski kondisi fisiknya telah lanjut usia. Keinginan menunaikan rukun Islam kelima menjadi motivasi yang mengantarkannya berangkat haji tahun ini.
Kepala Daerah Kerja Madinah, Khalilurrahman, mengaku terharu melihat keteguhan Mardijiyono. Menurut dia, semangat beribadah pada usia lanjut menjadi teladan bagi jemaah maupun petugas.
“Kita petugas ini merasa sebagai suatu kehormatan, kemuliaan bagi petugas haji, baik yang di kloter ataupun kita yang berada di Arab Saudi. Jadi ketika kita mendapatkan jemaah yang paling sepuh di gelombang pertama, kita ini mendapatkan kemuliaan untuk merawat beliau,” ujar Khalilurrahman usai meninjau kedatangan Mardijiyono di Hotel Makareem Suite, Madinah.
Khalilurrahman meminta seluruh petugas kloter memberikan pendampingan maksimal dan memastikan kondisi kesehatan serta keselamatan Mardijiyono selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Saya pesan kepada petugas kloter dari kita semuanya. Tolong dijaga Bapak ini. Pastikan ibadahnya juga bisa berjalan, tentunya yang fardu-fardu ya. Beliau ingin melaksanakan ibadah sholat, fardu dibantu. Makannya dikontrol, istirahatnya dikontrol. Tolong kalau seandainya tidak memungkinkan, jangan dipaksakan,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat saat jemaah memasuki fase perjalanan menuju Makkah. Menurutnya, prioritas utama adalah menjaga kesehatan Mardijiyono agar ibadah wajib dapat terlaksana dengan baik.
“Intinya kesehatan beliau benar-benar dijaga. Pastikan yang wajib-wajib bisa dilaksanakan. Semoga beliau bisa melaksanakan ibadah haji dengan sempurna dan pulang dalam keadaan sehat,” lanjut Khalilurrahman.
Selain itu, Khalilurrahman menilai doa para jemaah lansia memiliki makna tersendiri bagi para petugas yang bertugas melayani di Tanah Suci.
“Ini ibaratnya orang yang doanya mustajabah. Makanya saya tadi minta doa kepada beliau. Semoga kita semua petugas di sini diberikan kesehatan, kemudahan, kelancaran di dalam memberikan pelayanan kepada beliau dan seluruh jemaah haji Indonesia,” ungkapnya.
Kisah Mardijiyono menjadi gambaran bahwa keterbatasan usia bukan penghalang untuk menunaikan ibadah haji. Dengan pendampingan petugas, kondisi kesehatan yang terjaga, serta tekad yang kuat, jemaah lanjut usia tetap memiliki kesempatan menjalankan ibadah di Tanah Suci.