Kiai Saad Sebut Surah As-Shaff Ayat 13 Jadi Penguat Perjalanan Muhammadiyah
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Saad Ibrahim, menegaskan bahwa perkembangan dan kemajuan Muhammadiyah hingga menjadi organisasi Islam berpengaruh di tingkat global tidak lepas dari pertolongan Allah SWT. Hal itu disampaikannya dalam Wisuda ke-54 Universitas Muhammadiyah Surabaya yang digelar di Dyandra Convention Center, Senin (1/6).
Dalam pidatonya, Kiai Saad menyoroti penggunaan Surah As-Shaff ayat 13 yang lazim dibacakan sebagai penutup khutbah, pidato, maupun amanat pada berbagai kegiatan Muhammadiyah. Menurutnya, ayat tersebut bukan sekadar penutup acara, melainkan sebuah doa yang selama ini menjadi spirit perjuangan Persyarikatan.
“Faktanya kemudian Muhammadiyah menjadi organisasi yang begitu besar. Tak lain dan tak bukan itu karena pertolongan Allah,” ungkapnya.
Menurut Kiai Saad, nilai yang terkandung dalam Surah As-Shaff ayat 13 telah diwujudkan Muhammadiyah melalui berbagai gerakan dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial yang bertujuan membesarkan syiar Islam serta menegakkan nilai tauhid dalam kehidupan masyarakat.
Ia menjelaskan, eksistensi Muhammadiyah saat ini tidak hanya dirasakan di Indonesia, tetapi juga telah berkembang di berbagai negara. Berdasarkan laporan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, jaringan Muhammadiyah kini hadir di 31 negara melalui berbagai cabang istimewa dan aktivitas dakwah internasional.
Perkembangan tersebut, lanjutnya, turut diperkuat oleh meningkatnya minat mahasiswa internasional untuk menempuh pendidikan di berbagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA). Melalui proses pendidikan tersebut, banyak mahasiswa asing mengenal lebih dekat nilai-nilai Muhammadiyah.
Kiai Saad mencontohkan seorang mahasiswa asal Nigeria di UMSurabaya, Aminu Khidir, yang memiliki keinginan untuk mengembangkan Muhammadiyah di negara asalnya setelah mengenal gerakan Persyarikatan selama menempuh pendidikan di Indonesia.
“Maka maknanya Allah juga menggerakkan orang-orang yang bahkan bukan Muhammadiyah itu, lalu juga membesarkan Muhammadiyah,” imbuh Kiai Saad.
Selain membahas perkembangan organisasi, ia juga menyoroti faktor yang membuat Muhammadiyah tetap kokoh selama lebih dari satu abad. Menurutnya, salah satu kekuatan utama Persyarikatan adalah tata kelola aset yang dimiliki secara kelembagaan dan tercatat atas nama Muhammadiyah, bukan individu.
Sistem tersebut dinilai mampu menjaga keberlangsungan organisasi sekaligus meminimalkan potensi konflik internal terkait kepemilikan aset, baik sekolah, perguruan tinggi, masjid, rumah sakit, maupun amal usaha lainnya.
Kiai Saad menambahkan bahwa manfaat Muhammadiyah tidak hanya dirasakan umat Islam. Berbagai layanan pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat yang dikembangkan Persyarikatan juga telah memberikan kontribusi bagi masyarakat luas tanpa membedakan latar belakang agama maupun golongan.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas perjalanan Muhammadiyah yang kini telah berusia lebih dari satu abad dan terus berkembang sebagai gerakan dakwah, pendidikan, serta pelayanan sosial yang berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.