Masa Darurat Berakhir, Layanan Kesehatan Penyintas Gempa NTT Tetap Berjalan

Masa Darurat Berakhir, Layanan Kesehatan Penyintas Gempa NTT Tetap Berjalan
EMT melalui Program Indonesia Siaga masih menjalankan misi pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di NTT. Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Berakhirnya masa status keadaan darurat bencana tidak serta-merta mengakhiri kebutuhan penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Layanan kesehatan dan dukungan psikososial masih dibutuhkan, sementara tim medis terus memantau perubahan jenis penyakit yang dialami para penyintas.

Berdasarkan data BNPB yang disebut dalam naskah per 31 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia mencapai 120 jiwa, sementara 1.658 orang mengalami luka atau sakit dan 183.673 jiwa masih mengungsi. Data tersebut menunjukkan penanganan pascabencana masih membutuhkan dukungan, terutama bagi masyarakat yang bertahan di pengungsian.

Namun, terdapat catatan penting mengenai data status darurat. Data BNPB yang dapat diverifikasi menunjukkan status tanggap darurat di Kabupaten Manggarai ditetapkan selama 90 hari, sedangkan Kabupaten Ngada selama 30 hari dan Kabupaten Manggarai Timur berstatus siaga darurat hingga 4 September 2026. Karena itu, klaim bahwa status keadaan darurat bencana pascagempa NTT secara keseluruhan berakhir pada 28 Agustus tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh wilayah terdampak. 

Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026. Pada laporan awal BNPB, gempa tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan di sejumlah wilayah Flores. 

Kemenkes Kerahkan 392 Tenaga Kesehatan

Kebutuhan layanan medis pascagempa juga masih menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 26 Agustus 2026 melaporkan telah menerjunkan 392 tenaga kesehatan untuk merespons krisis kesehatan di tujuh kabupaten di Kepulauan Flores.

Kemenkes juga mendirikan dua rumah sakit lapangan berbasis tenda udara di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai. Fasilitas tersebut disiapkan untuk menjaga layanan medis tetap berjalan, termasuk penanganan pasien yang membutuhkan tindakan operasi, setelah sejumlah fasilitas kesehatan terdampak gempa. 

Sebelumnya, RS Lapangan Ruteng telah digunakan untuk menangani pasien terdampak gempa. Pada 19 Agustus, misalnya, tim medis melakukan operasi terhadap seorang anak yang mengalami patah tulang paha akibat gempa. 

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan kesehatan pascabencana tidak berhenti ketika fase penyelamatan korban mulai berakhir. Pergeseran jenis gangguan kesehatan justru perlu diantisipasi ketika masyarakat masih tinggal dalam kondisi pengungsian.

EMT Muhammadiyah Tangani 2.222 Pasien

Di tengah kondisi tersebut, Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah melalui Program Indonesia Siaga masih menjalankan misi pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.

Berdasarkan laporan pelayanan EMT Muhammadiyah yang diterima Lazismu, selama periode 17–28 Agustus 2026, tim medis mencatat telah memberikan layanan kepada 2.222 penerima manfaat di Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah.

Layanan tersebut menjangkau berbagai kelompok usia, mulai dari bayi, balita, anak-anak, remaja, dewasa hingga lansia. Dari total penerima layanan, sebanyak 1.328 merupakan perempuan dan 894 laki-laki. Selain itu, terdapat 13 ibu hamil yang memperoleh layanan kesehatan.

Berdasarkan kelompok usia, penerima layanan terdiri atas 54 bayi, 128 balita, 178 anak, 78 remaja, 1.317 dewasa, dan 467 lansia.

Data pelayanan tersebut juga menunjukkan sejumlah keluhan kesehatan yang banyak ditemukan. Infeksi saluran pernapasan menjadi salah satu kasus terbanyak dengan 437 pasien. Berikutnya terdapat 372 pasien dengan keluhan nyeri otot atau myalgia, 233 pasien hipertensi, 186 pasien dengan keluhan dyspepsia, serta 153 pasien dengan cephalgia atau sakit kepala.

Perubahan pola penyakit tersebut menjadi perhatian tim medis karena kondisi lingkungan pengungsian dapat meningkatkan risiko munculnya penyakit infeksi.

Ketua EMT Muhammadiyah, Dokter Corona Rintawan, mengatakan tim medis mulai melihat perubahan karakter kasus yang ditangani. Kasus trauma akibat gempa cenderung menurun, sementara penyakit infeksi mulai meningkat.

“Setelah mendapat penanganan dari tim medis darurat dan dari data – data yang ada menunjukkan bahwa terjadi penurunan kasus-kasus trauma atau cedera dan kenaikan panyakit-panyakit infeksius yang kemungkinan muncul karena kondisi di sekitar lingkungan pengungsian”, kata Dokter Corona dari Rumah Sakit Lapangan, pada Senin, (31/8/2026).

Sanitasi dan Air Bersih Jadi Perhatian

Perubahan tersebut membuat edukasi kesehatan di lokasi pengungsian menjadi semakin penting. Masyarakat tidak hanya membutuhkan pengobatan ketika sakit, tetapi juga pengetahuan untuk mencegah penyakit menyebar di lingkungan tempat tinggal sementara.

Dokter Corona menekankan pentingnya pendampingan pola hidup sehat, terutama terkait pemanfaatan sanitasi dan akses air bersih.

Dengan masyarakat yang masih berada di tenda pengungsian, kebersihan lingkungan, ketersediaan air bersih, dan sanitasi menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan dasar.

Karena itu, layanan EMT Muhammadiyah tidak hanya diarahkan pada pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan agar gangguan kesehatan tidak berkembang menjadi masalah yang lebih besar di tengah komunitas penyintas.

Masa tanggap darurat memang memiliki batas waktu administratif. Namun, kebutuhan masyarakat terdampak tidak selalu berakhir bersamaan dengan berakhirnya status tersebut. Selama penyintas masih membutuhkan layanan kesehatan, dukungan psikososial, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar, respons kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari proses pemulihan pascagempa NTT.