Menghidupkan Spiritualitas Takwa

Menghidupkan Spiritualitas Takwa
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir/ Foto: Istimewa.

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum PP Muhammadiyah*

Muhammadiyah melalui Kalender Hijriyah Global Tunggal (KHGT) telah memaklumatkan Iduladha 10 Dzulhijah 1447 Hijriyah jatuh pada tanggal 27 Mei 2026. Insya Allah dengan telah diketahui hari dan tanggal Iduladha tahun ini sebagaimana tahun-tahun sebelum dan sesudahnya maka  umat Islam dapat mempersiapkan segala sesuatunya yang berkaitan dengan pelaksanaan Hari Raya yang bersifat ibadah tersebut secara pasti dan penuh kepastian. Lebih dari itu tentu seluruh kaum muslimin dapat menghayati dan mengambil hikmah pengamalan berislam yang semakin baik sebagai wujud aktualisasi beridul-adha.

Iduladha setiap tahun dilaksanakan dan menjadi kerutinan ritual keagamaan bagi kaum muslimin, baik di seluruh dunia muslim maupun di Indonesia. Aspek ritual ibadahnya tentu secara formal dapat dilakukan dengan mudah seperti menunaikan salat id, maupun melaksanakan kurban bagi muslim yang berkemampuan. Bagi yang tidak mampu berkurban, tentu tidak dikenakan kewajiban, bahkan sebaliknya dapat menerima daging hasil sembelihan hewan kurban.

Namun iduladha baik ibadah salatnya maupun kurbannya sejatinya tidak berhenti di formalitas semata. Hakikat dan tujuan utamanya ialah meraih ketakwaan. Ibadah salat apapun jenisnya, termasuk salat iduladha, ialah mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan membentuk ketakwaan, yakni menjadi pribadi yang selalu menjalankan perintah Allah dan menjauhkan larangan-Nya sehingga mendapatkan rida dan karunia-Nya.

Demikian halnya dengan ibadah kurban, bahwa hakikat dan tujuannya ialah terwujud ketakwaan bagi yang melaksanakannya. Allah berfirman yang artinya, “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Hajj: 37).

Pengorbanan Ibrahim, Siti Hajar, dan Ismail dalam berkurban sungguh mengandung spiritualitas yang revolusioner, yakni ketakwaan yang total atau sebenar-benarnya takwa. Bagaimana Nabi Ibrahim dan Siti Hajar rela  putra tercintanya harus disembelih (menjadi objek korban) atas perintah Tuhan. Ismail nan belia pun pasrah sarat ketaatan. Padahal perintah korban itu diperoleh Ibrahim hanya lewat mimpi. Meski penyembelihan itu digantikan seekor hewan, di hadapan Tuhan ketiganya lulus sebagai insan bertakwa yang memiliki jiwa berkorban tinggi. Ketiganya sebagai role-model atau uswah hasanah, yakni selaku  insan profetik yang rela berkorban atas nama Tuhan untuk kepentingan orang banyak. Ketiganya memberi contoh bagaimana jiwa bertakwa telah membebaskan dirinya dari belenggu diri dan duniawi untuk menjadi insan yang saleh dengan memberi kemanfaatan dan kebajikan terbaik bagi sesama dan dunia semesta. Sumber nilai utama yang membuat ketiganya berani berkorban luar biasa ialah ketakwaan kepada Allah SWT yang melahirkan ihsan yakni kebajikan yang melampaui dalam kehidupan.

Jika spiritualitas takwa buah dari ibadah Iduladha menjelma dalam diri setiap insan muslim, apapun posisi dan perannya dalam kehidupan sehari-hari, maka akan melahirkan kesalehan yang membumi di dunia nyata. Baik menjadi rakyat biasa apalagi menjadi elite wibawa di manapun posisinya maka siapa pun yang memiliki spiritualitas takwa akan selalu takut kepada Allah, sehingga dirinya menjadi insan yang selalu konsisten berbuat kebajikan dan sebaliknya menjauhi segala bentuk keburukan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan.

Insan yang berspiritualitas takwa akan selalu menunjukkan keteladanan hidup sekecil apapun wujudnya seperti ketulusan, kejujuran, kerendah-hatian, kesungguhan, kesabaran, kesederhanaan, kepedulian, dan segala bentuk kebajikan hidup lainnya. Insan yang bertakwa senantiasa hidup hemat, gemar berilmu, berpikir positif, maju, dan menjadikan dunia sebagai ladang akhirat sehingga hidupnya bermakna sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashash: 77).

Insan yang memiliki spiritualitas takwa taat beribadah sesibuk apa pun dirinya serta menjalani kehidupan dengan baik, menjaga kehormatan diri, berbuat luhur  terhadap sesama, toleran terhadap perbedaan, merawat persatuan atau ukhuwah dengan nyata, dan senantiasa menebar keluhuran akal budi dalam kehidupan.

Insan berspiritualitas takwa tidak akan korupsi, melakukan segala bentuk penyimpangan, penyalahgunaan kekuasaan, mengakali sistem yang sudah baik, merusak alam dan lingkungan demi keuntungan yang berlebihan,  bersikap otoriter atau sekehendaknya, kebal dan antikritik, angkuh atau takabur diri, bebal langkah meski salah, dan berbuat segala keburukan yang dilarang Tuhan serta bertentangan dengan hukum dan etika luhur.

Insan yang di dalam jiwanya terdapat ketakwaan akan senantiasa bertutur kata yang baik, menahan marah, menggunakan media publik termasuk media sosial dengan etika mulia, menjauhi ujaran kebencian dan fitnah serta segala ujaran buruk lainnya. Hidupnya senantiasa terjaga dan mampu membedakan mana yang benar dari yang salah, yang baik dari yang buruk, serta yang pantas dari yang tidak pantas.

Bagi generasi milenial dan generasi Z serta Alfa, diharapkan ibadah Iduladha dapat membentuk ketakwaan yang membuahkan  sikap hidup yang benar, baik, dan positif. Bagaimana hidup senantiasa taat beragama, gemar membaca dan menambah ilmu, menguasai keahlian, mengasah kecerdasan, berbuat baik kepada orangtua, hormat kepada sesama, berjiwa mandiri, beretos kerja tinggi, hemat, serta sikap hidup luhur akal budi. Sebaliknya  hidup tidak malas-malasan atau rebahan, bersikap instan, bermewah-mewahan, merugikan orang lain, sombong diri, serta melanggar etika serta moral yang diajarkan agama.

Lebih khusus, insan berspiritualitas takwa memiliki pandangan hidup yang cukup dan tidak serakah tentang gemerlap dunia sebagaimana Firman Allah yang artinya: “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran: 14). Pada ayat lain Allah berfirman yang mengandung peringatan yang artinya: “Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah: 24).

Ketika bangsa ini masih dililit problem kesenjangan sosial dengan segelintir orang atau kelompok kecil menguasai bagian terbesar kekayaan negeri. Tatkala korupsi, konflik sosial, dan perilaku aji mumpung masih menjadi pemandangan umum. Sesungguhnya sumber utamanya karena ketamakan ego untuk memiliki apa saja dengan hasrat rakus. Mereka hanya mengabdi pada libido ketamakan yang tak berkesudahan, tak peduli bila harus merugikan kehidupan sesama dan lingkungan semesta.

Semoga Iduladha bagi seluruh kaum beriman semakin menjadikan diri sebagai insan yang memiliki spiritualitas takwa di dunia nyata. Bukan takwa dalam retorika dan keindahan kata-kata. Bukan takwa dalam ketinggian ilmu ajaran agama di menara gading tapi minus dalam perbuatan nyata. Jika spiritualitas takwa terwujud dalam kehidupan nyata maka insya Allah akan bertumbuh sistem dan budaya keshalehan yang senantiasa menebar kebajikan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan lingkaran semesta.

Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan berkah-Nya melalui ibadah Iduladha ini untuk kebaikan dan keutamaan hidup bangsa Indonesia. Nashrun min Allah wafathun qarieb.

Artikel ini pernah tayang di muhammadiyah.or.id pada Rabu, 27 Mei 2026.