Membangun Kemandirian Umat

Membangun Kemandirian Umat
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir/ Foto: muhammadiyah.or.id.

Oleh: Haedar Nashir (Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah)*

Umat Islam menyambut tahun baru 1 Muharram 1448 Hijriyah. Kehadiran awal bulan Muharram selalu disambut dengan beragam seremonial yang bersifat syiar. Aktivitas simbolik  tentu positif untuk merawat semangat dan kegembiraan dalam beragama Islam.

Namun lebih dari aktivitas syiar, menyambut tahun baru Islam diperlukan muhasabah sekaligus refleksi mendalam bagi umat Islam. Bagaimana umat menghidupkan spirit hijrah yang menjadi inspirasi utama kelahiran tahun baru tersebut untuk membangun kekuatan umat Islam di berbagai bidang kehidupan yang masih belum berkembang. Bukankah esensi utama hijrah ialah perubahan ke arah yang lebih baik dalam kehidupan umat, baik  individual lebih-lebih kolektif berjamaah.

Hijrah mengandung makna perubahan dari keadaan umat Islam yang  tertinggal pada kemajuan yang lebih baik dan berdampak luas. Nabi berhijrah dari Makkah ke Madinah ingin keluar dari  kegelapan era Jahiliah menuju kehidupan yang terang benderang dalam Cahaya Tauhid,  “takhrij min al-dhulumat ila al-nur”. Dalam   perjuangan sekitar 23 tahun akhirnya terwujud “al-Madinah al-Munawwarah”, yakni kehidupan yang tercerahkan dalam segala aspek yang menyinari sekaligus membangun sejarah peradaban dunia berabad-abad lamanya.

Spirit hijrah sepadan dengan berjihad, yakni bersungguh-sungguh dalam perjuangan hidup umat Islam, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱلَّذِينَ هَاجَرُوا۟ وَجَـٰهَدُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أُو۟لَـٰٓئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٢١٨

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Baqarah: 218).

Di ayat lain difirmankan, yang artinya “Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (ni’mat) yang mulia” (QS Al-An’fal: 74). Ayat lainnya   menegaskan yang artinya, “Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan (QS At-Taubah: 20).

Kandungan substansial dari ayat Al-Quran tentang hijrah tersebut ialah berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa serta memberi tempat kediaman dan memberi pertolongan kepada yang memerlukan. Terkandung makna agar umat Islam  berjuang keras untuk memiliki segala sesuatu agar mampu memberi kepada siapapun yang memerlukan atau membutuhkan. Pepatah Arab menyatakan, “faaqidu asy-syai la yu’thi”, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan mampu memberi sesuatu. Artinya umat Islam harus mandiri dalam segala aspek kehidupan jika ingin menjadi umat yang kuat dibanding umat lainnya. Di situlah makna kemandirian sebagai bagian dari spirit hijrah dan kandungan ajaran Islam untuk pemeluknya.

Rasulullah bersabda dalam hadisnya yang artinya “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.” (HR Bukhari dan HR Muslim dari Hakîm bin Hizâm r.a.). Dalam hadis lain Rasulullah bersabda yang artinya, “al-mukminun al-qawwiyu khairu wa ahabbu ila-Llahi min al-mukminun al-dhayyifi”, artinya “Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada seorang mukmin yang lemah…”  (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.).

Dalam hadis tersebut juga disebutkan, bahwa  pada masing-masing umat terdapat kebaikan. Bersemangatlah untuk meraih apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan malas. Apabila sesuatu menimpamu, janganlah berkata, ‘Seandainya dahulu aku berbuat demikian, niscaya akan begini dan begitu.’ Akan tetapi, katakanlah, ‘Itulah ketetapan Allah. Dan apa yang Dia kehendaki maka Dia lakukan. Dikarenakan ucapan ’seandainya’ itu akan membuka celah pada perbuatan setan.

Makna mukmin dan muslim yang tangannya di atas serta kuat terkandung potensi kekuatan kemandirian. Umat Islam di level dunia khususnya di Timur Tengah seperti Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab relatif kuat secara finansial dan ekonomi tetapi secara politik belum mandiri karena masih tergantung pada politik global di bawah hegemoni Amerika Serikat, sehingga tidak mampu melawan Israel yang agresif dan menindas Palestina padahal negaranya kecil dan terkepung oleh negara-negara Islam. Umat Islam Indonesia mayoritas di negeri ini tetapi secara ekonomi dan politik masih lemah sehingga tidak memiliki daya tawar tinggi terhadap berbagai pihak yang memiliki kekuatan dominasi dan hegemoni.

Karena itu antara kondisi yang masih memerlukan  hijrah yang bersifat perubahan dan pengembangan di tubuh umat Islam Indonesia ialah membangun kemandirian. Kemandirian, otonomi, independensi, dan kata lain yang sejenis  merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggungjawab dalam melaksanakan kewajiban guna memenuhi kebutuhan sendiri. Artinya bagaimana umat Islam secara berjamaah mampu berdikari dalam memenuhi kewajiban dan pemenuhan kepentingannya di berbagai bidang kehidupan. Sebutlah kekuatan mandiri dalam bidang pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, termasuk dalam penguasaan ilmu dan teknologi.

Kini di antara aspek strategis yang perlu dilakukan umat Islam ialah gerakan membangun kemandirian umat terutama di bidang ekonomi dan penguatan politik kebangsaan. Bersama dengan penguatan aspek khusus keagamaan lainnya yakni keimanan, ibadah, dan akhlak mulia maka diperlukan penguatan ekonomi, politik kebangsaan, dan budaya luhur umat Islam. Semuanya memerlukan transformasi yakni perubahan terencana dan tersistem untuk membangun kekuatan umat Islam agar berdampak positif dan konstruktif terhadap kehidupan bangsa dan umat manusia di ranah nasional dan global.

Pembinaan iman, ibadah, dan akhlak harus terus diperkokoh dengan menarik fungsinya yang bersifat transformatif yaitu melahirkan pancaran keagamaan yang mencerahkan kesalehan otentik untuk kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. Penguatan iman, ibadah, dan akhlak mulia niscaya berbanding lurus dengan menebar nilai luhur kejujuran, kebaikan, kedamaian, keadilan, sikap tengahan, dan segala bentuk ihsan dalam kehidupan kaum muslimin. Kekuatan keberagamaan yang kuat justru melahirkan kesalehan utama yang memancarkan nilai-nilai luhur tersebut, tidak sebaliknya melahirkan sikap merasa paling benar dan bersih dalam beragama. Allah melarang sikap beragama yang semuci seperti itu, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “…Maka, janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS An-Najm: 32).

Umat Islam dengan kekuatan aqidah, ibadah, dan akhlak yang berkarakter transformatif penting membangun kemandirian dalam urusan mu’amalah  atau kehidupan keduniaan seperti ekonomi, politik, budaya, dan aspek lainnya. Umat Islam bilamana masih lemah secara keduniaan, meskipun mayoritas secara jumlah, maka akan menjadi umat “maf’ulun bihi” atau objek penderita. Menjadi objek pemberian yang mengikat, terpinggirkan, dan berbagai tindakan pelemahan yang tidak mampu dihadapi karena ketidakmandiriannya. Masih menjadi pemandangan umum bahwa umat Islam jika ingin membangun masjid, sekolah, madrasah, pesantren, dan keperluan berat lainnya maka yang sering dilakukan ialah meminta kepada pihak lain dalam beragam bentuk yang menunjukkan ketergantungan. Jangan melompat setinggi langit, selalu mengajak umat independen tetapi tidak berusaha membangun kekuatan dari dalam tubuh umat Islam sendiri dengan usaha-usaha yang terencana, tersistem, dan berkelanjutan.

Di antara prioritas utama yang akan menjadi kekuatan penting yang mesti dibangun dan mampu menjadikan umat Islam mandiri ialah kekuatan ekonomi. Jangan terus berkontroversi tentang aktivitas ekonomi dan bisnis, apalagi menolak bisnis berskala besar dan strategis, hanya karena terdapat praktik-praktik pihak lain yang kotor dan menimbulkan dampak perusakan. Umat Islam mesti berebisnis yang halalan thayyiban didukung profesionalitas yang tinggi. Bisnis mikro, kecil, dan menengah harus terus diberdayakan secara masif. Selain itu bisnis eksekutif dan strategis dari level menengah sampai tinggi harus mulai digarap oleh umat Islam secara amanah dan profesional seperti industri, perkebunan, pertambangan, teknologi informasi, dan lain-lain. Jika selama ini bisnis atau ekonomi strategis banyak digarap sekelompok kecil orang atau pihak lain secara tidak bertanggung jawab, merugikan masyarakat, dan merusak lingkungan maka umat Islam jangan melakukannya. Sebaliknya harus menunjukkan contoh yang baik dalam berbisnis. Semua dilakukan dengan rasional, terencana, dan bertahap sehingga bersifat seksama dengan akuntabilitas tinggi.

Ormas keagamaan di lingkungan umat Islam memang hadir untuk  memperkokoh pembinaan aspek keimanan, ketaqwaan, ritual ibadah, dan akhlak mulia. Tetapi bersamaan dengan itu ormas keagamaan juga memiliki panggilan ibadah yang sifatnya muamalah di berbagai aspek kehidupan, Hal itu sejalan dengan perintah Islam agar umat Islam menjadi “khalifat fil-ardh” untuk membangun berbagai dimensi kehidupan keduniaan atau al-umur al-dunyawiyah. Umat Islam agar mengurus dunia sebagai bekal untuk akhirat, sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْـَٔاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ ٧٧

Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS Al-Qashas: 77).

Umat Islam jangan antipati dalam bergerak di sektor ekonomi, bisnis, dan wirausaha baik yang berskala mikro, kecil dan menengah maupun yang berskala besar, eksekutif dan strategis. Mengikuti pandangan sufi terbesar, Jalaluddin Rumi, “Jika orang-orang shaleh pasif di dunia, jangan salahkan manakala orang-orang dzalim berkuasa”. Tampillah sebagai kekuatan “khalifat fil-ardl” yang memiliki watak membangun (ishlah) dan tidak merusak (fasad fil-ardl). Selalu ingatlah firman Allah dalam Al-Quran:

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ لَكُم مَّا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ فَسَوَّىٰهُنَّ سَبْعَ سَمَـٰوَٰتٍۢ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ ٢٩

Artinya: “Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untuk kalian,  kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS Al- Baqarah: 29).

Kemandirian dengan menunjukkan otonomi dan independensi tidak berarti hidup eksklusif, menyendiri, dan serba konfrontasi. Kemandirian meniscayakan kolaborasi, relasi, dan kerjasama dengan umat dan golongan lain yang memiliki semangat yang sama membangun tatanan kehidupan yang baik. Allah mengajarkan umat Islam, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS Al-Maidah: 2). Umat Islam sebagai mayoritas di negeri ini penting menunjukkan uswah hasanah dalam membangun persatuan, kebersamaan, toleransi, dan kebaikan lintas agama, suku bangsa, dan golongan dalam menebar misi kebaikan untuk semua.

Karenanya,  melalui momentum hijrah di tahun baru hijriyah umat Islam di Indonesia maupun di ranah dunia semakin menemukan kekuatan kemandirian dalam berbagai aspek kehidupan menuju kualitas sebagai “khaira ummah” atau umat terbaik sebagaimana diidealisasikan dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat ke-110. Kehadiran tahun baru Hijriyah 1448 menjadi momentum penting dalam membangun kemandirian yang membawa pada kehidupan yang terbaik menuju terwujudnya umat dan peradaban yang utama dalam menyebarkan misi Islam rahmatan lil-‘alamin di semesta raya.

Semoga Allah SWT melimpahkan ridha dan karunia-Nya kepada umat Islam, bangsa Indonesia, dan umat manusia keseluruhan dalam membangun kehidupan bersama di muka bumi yang “Baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur”, yakni kehidupan negara dan bangsa-bangsa  yang serba-baik serta memperoleh ampunan Allah Subhanahu Wata’ala. Nasrun min Allah wa fathun qarib.