Muhammadiyah Perkuat Mutu Pesantren, LP2 Siapkan Akreditasi Berbasis Kinerja dan Lulusan Berdaya Saing Global

Muhammadiyah Perkuat Mutu Pesantren, LP2 Siapkan Akreditasi Berbasis Kinerja dan Lulusan Berdaya Saing Global
Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. Masykuri dalam kegiatan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah: Penjaminan Mutu dan Metodologi Pembelajaran Dirasah Islamiyah di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara, Senin (3/8). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah terus memperkuat kualitas pendidikan pesantren melalui sistem penjaminan mutu dan akreditasi berbasis kinerja. Langkah tersebut ditegaskan dalam kegiatan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah: Penjaminan Mutu dan Metodologi Pembelajaran Dirasah Islamiyah yang digelar di Aula Pusat Dakwah Muhammadiyah Banjarnegara, Senin (3/8).

Dalam kegiatan tersebut, Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) PP Muhammadiyah, Dr. Masykuri, memaparkan arah pengembangan pesantren Muhammadiyah menuju lembaga pendidikan Islam yang unggul, profesional, dan berdaya saing internasional.

Menurut Masykuri, Muhammadiyah telah memiliki peta jalan (roadmap) pengembangan pesantren periode 2015–2045. Fokusnya tidak hanya pada penambahan jumlah pesantren, tetapi juga peningkatan tata kelola, mutu lulusan, dan daya saing lembaga.

Tujuan jangka panjang yang ingin kita capai adalah terwujudnya Pesantren Muhammadiyah yang tertata kelola secara profesional, menghasilkan lulusan yang berdaya saing tinggi, memiliki wawasan internasional, serta bertambah secara kuantitas dan tersebar merata di seluruh Indonesia,” ujarnya.

Ia menjelaskan, saat roadmap disusun pada 2015, jumlah Pesantren Muhammadiyah berkisar 67–127 unit yang tersebar di 15 provinsi. Kini jumlah tersebut terus bertambah seiring meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem pendidikan pesantren Muhammadiyah.

Masykuri menilai pesantren memiliki peran strategis sebagai lembaga yang mencetak kader ulama, pemimpin, dan pendidik. Karena itu, lulusan tidak hanya dituntut menguasai ilmu keislaman, tetapi juga mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, bangsa, dan Persyarikatan Muhammadiyah.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang perlu dibenahi. Berdasarkan analisis SWOT, kekuatan utama pesantren Muhammadiyah terletak pada dukungan Persyarikatan dengan sistem manajemen kolektif-kolegial, peluang pengembangan media digital, serta arah menuju kemandirian lembaga.

Di sisi lain, sejumlah kelemahan masih ditemui, seperti belum meratanya pembinaan, keterbatasan sumber daya manusia, proses transisi kelembagaan di beberapa pesantren, hingga belum kuatnya figur kepemimpinan seperti model kiai di sebagian pesantren lain.

Penguasaan Bahasa Asing Jadi Prioritas

Dalam pemaparannya, Masykuri juga menyoroti pentingnya peningkatan kompetensi santri, khususnya dalam penguasaan bahasa Arab, bahasa Inggris, serta pemahaman terhadap khazanah Islam klasik (turats). Ia menyebut masih ada pesantren Muhammadiyah yang belum menggunakan kurikulum dan buku ajar resmi LP2 PP Muhammadiyah.

Semangat tafaqquh fiddin harus terus dikembangkan secara maju. Santri Muhammadiyah tidak cukup hanya memahami ilmu agama, tetapi juga harus menguasai bahasa asing agar mampu berinteraksi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dunia,” tegasnya.

Untuk memperkuat karakter santri, LP2 PP Muhammadiyah juga telah menyusun Panduan Budaya Pesantren Muhammadiyah yang memuat 20 nilai utama, di antaranya ikhlas, integritas, disiplin, moderasi, budaya melayani, peduli lingkungan, hingga penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Masykuri, pendekatan kepengasuhan di pesantren Muhammadiyah mengedepankan nilai humanis dengan menghargai potensi setiap santri melalui keteladanan, sikap apresiatif, dan budaya ramah santri.

Akreditasi Berbasis Kinerja

Masykuri menjelaskan, pengembangan sistem penjaminan mutu internal merupakan tindak lanjut amanat Muktamar Muhammadiyah sekaligus respons terhadap lahirnya Undang-Undang Pesantren. Sistem ini dikembangkan karena akreditasi sekolah dinilai belum mampu mengukur seluruh aspek kepesantrenan.

Akreditasi pesantren Muhammadiyah bukan sekadar memenuhi administrasi. Yang dinilai adalah kinerja nyata lembaga dalam mengelola pendidikan,” jelasnya.

Hasil penjaminan mutu nantinya akan menjadi dasar pemetaan kualitas pesantren, penyusunan program pembinaan, serta pemerataan mutu pendidikan pesantren Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Ia menambahkan, instrumen akreditasi difokuskan pada empat aspek utama, yakni manajemen pesantren, kualitas ustaz, proses pembelajaran, dan mutu lulusan.

Adapun pesantren yang mengikuti akreditasi wajib memenuhi sejumlah persyaratan, seperti memiliki santri tingkat akhir, mengantongi izin operasional, menerapkan kurikulum LP2 PP Muhammadiyah, serta menggunakan buku ajar resmi yang diterbitkan LP2.

Akreditasi sekarang berbasis kinerja. Yang dilihat adalah bagaimana mutu itu benar-benar diterapkan dalam kehidupan pesantren, bukan sekadar mengisi formulir,” tegasnya.

Menutup paparannya, Masykuri menyampaikan LP2 PP Muhammadiyah juga terus membuka peluang peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui berbagai program beasiswa, termasuk studi ke luar negeri yang dibiayai penuh. Para penerima beasiswa nantinya akan menjalani masa pengabdian sebagai bentuk kontribusi bagi Muhammadiyah.