Refleksi Milad ke-70 PCM Kebayoran Baru, Muhadjir Effendy Minta Muhammadiyah Kuasai Ruang Perkotaan
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Muhadjir Effendy, menegaskan bahwa Muhammadiyah lahir dan besar sebagai fenomena gerakan perkotaan (urban movement). Oleh sebab itu, Persyarikatan dituntut untuk terus menguasai ruang-ruang strategis di kawasan metropolitan melalui penguatan dakwah, pendidikan, ekonomi, hingga amal usaha yang unggul.
Pesan tersebut disampaikan Muhadjir saat memberikan amanat dalam acara Refleksi Milad ke-70 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kebayoran Baru sekaligus Hari Bermuhammadiyah Jakarta Selatan pada Sabtu, 12 September 2026.
Muhadjir menjelaskan, dinamika pertumbuhan kota yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi gerak dakwah Muhammadiyah agar tidak terpinggirkan di lanskap perkotaan.
“Muhammadiyah itu adalah fenomena organisasi perkotaan, gerakan urban, urban movement. Karena itu, Muhammadiyah mestinya lebih eksis di kota. Tetapi memang salah satu tantangan terbesar Muhammadiyah adalah bagaimana Muhammadiyah bisa menguasai kota dan itu tidak mudah seiring dengan dinamika pertumbuhan perkotaan,” ungkap Muhadjir.
Dalam kesempatan tersebut, mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan ini mengapresiasi capaian PCM Kebayoran Baru yang berhasil menunjukkan kemajuan pesat di tengah dinamika ibu kota, mulai dari pengembangan sekolah modern, seni, Tapak Suci, hingga literasi.
“Saya kira untuk level PCM bisa menerbitkan karya buku itu tidak sembarangan. Ini PCM kelas PDM,” ujarnya.
Memasuki usia tujuh dekade, Muhadjir merujuk prinsip al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīmiṣ-ṣāliḥ, wal-akhdzu bil-jadīdil-aṣlaḥ—memelihara tradisi lama yang baik serta mengambil hal baru yang lebih baik—sebagai pijakan generasi penerus dalam merawat warisan para pendiri organisasi.
“Yang lama yang baik juga harus dipertahankan, sementara kita cari yang lebih baik. Jadi kalau hanya mengambil yang lama saja dan tidak terlalu konsen ke yang baru, itu juga tidak bagus. Tetapi meninggalkan begitu saja yang lama yang baik juga tidak bagus. Itulah ciri bermuhammadiyah,” tegasnya.
Muhadjir mendesak warga Persyarikatan meneladani keterbukaan pikiran (open minded) Kiai Ahmad Dahlan untuk berani mengambil terobosan dakwah baru dan menghindari perdebatan tidak produktif.
“Jangan mudah membatasi diri, apalagi terlibat percekcokan di medsos. Sedikit bicara, banyak kerja lebih bagus,” pesannya.
Menutup arahannya, Muhadjir mendorong kemandirian ekonomi serta modernisasi sekolah-sekolah Muhammadiyah di kawasan perkotaan dengan tetap menjaga komitmen altsruistik kepada kelompok rentan.
“Lebih baik bikin sekolah yang gagah, yang hebat dan modern, tapi jangan lupa sisihkan sebagian kursi untuk mereka yang tidak mampu, gratis di situ. Itu namanya berkemajuan,” pungkas Muhadjir.
