Muhammadiyah Siapkan Risalah Kesemestaan Jelang Muktamar ke-49

Muhammadiyah Siapkan Risalah Kesemestaan Jelang Muktamar ke-49
Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (28/8/2026). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah tengah menyiapkan Risalah Kesemestaan sebagai bagian dari penguatan gerakan internasionalisasi Muhammadiyah menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan pada 2027.

Rencana tersebut disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Saad Ibrahim, dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (28/8/2026).

Menurut Saad, penyusunan Risalah Kesemestaan merupakan konsekuensi logis dari semangat Muhammadiyah untuk memperluas kiprah dakwah hingga tingkat internasional. Gagasan tersebut juga berkaitan dengan karakter Islam yang membawa pesan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Saad menjelaskan, semangat penyebaran Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW tidak terbatas pada wilayah Jazirah Arab. Perjalanan dakwah Islam sejak masa awal menunjukkan adanya upaya untuk menjangkau masyarakat di berbagai wilayah di luar Mekkah dan Madinah.

Ia kemudian menyinggung dua gelombang awal dalam sejarah persebaran Islam, yakni hijrah Nabi Muhammad dan hijrah Utsman bin Affan ke Habasyah. Menurutnya, sejarah tersebut menunjukkan bahwa Islam sejak awal memiliki dimensi lintas wilayah.

“Karena itu ini namanya semacam upaya untuk membangun patriotisme, untuk berkiprah secara internasional,” ungkapnya.

Semangat tersebut, lanjut Saad, relevan dengan upaya Muhammadiyah membangun gerakan internasionalisasi. Perluasan kiprah Muhammadiyah tidak sekadar dipahami sebagai ekspansi organisasi, tetapi sebagai upaya menghadirkan nilai dan kontribusi Islam di tengah masyarakat dunia.

“Maka kalau Muhammadiyah kemudian berusaha untuk membangun semangat dalam konteks spirit, dalam konteks patriotisme, untuk internasionalisasi itu adalah konsekuensi logis dan sudah niscaya,” imbuhnya.

Internasionalisasi Muhammadiyah Bisa Struktural dan Kultural

Saad mengatakan gerakan internasionalisasi Muhammadiyah dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yakni secara struktural dan kultural.

Pendekatan struktural dapat dilakukan melalui penguatan jejaring dan kelembagaan Muhammadiyah di berbagai negara. Sementara pendekatan kultural diarahkan pada penguatan peran dan kontribusi warga Muhammadiyah serta masyarakat Muslim dalam kehidupan sosial di negara masing-masing.

Menurut Saad, upaya tersebut semakin penting terutama di negara-negara yang memiliki populasi Muslim minoritas. Kehadiran Muhammadiyah diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa kedamaian, kemajuan, dan kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Penyusunan Risalah Kesemestaan pun menjadi bagian dari upaya merumuskan arah gerakan Muhammadiyah dalam konteks global. Dokumen tersebut diharapkan dapat memperkuat landasan pemikiran Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah dan kontribusi kemanusiaan lintas negara.

Gagasan tersebut disiapkan menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah yang akan menjadi salah satu momentum penting bagi Persyarikatan untuk merumuskan arah gerakan pada periode berikutnya.

Dengan demikian, internasionalisasi Muhammadiyah tidak hanya diarahkan untuk memperluas keberadaan organisasi, tetapi juga memperkuat kontribusi Persyarikatan dalam menghadirkan dakwah Islam yang relevan dengan persoalan masyarakat dunia.