Majelis Tarjih dan Tajdid Tegaskan AI Tak Terhindarkan, Dorong Pemanfaatan Bijak untuk Ibadah dan Kemajuan

Majelis Tarjih dan Tajdid Tegaskan AI Tak Terhindarkan, Dorong Pemanfaatan Bijak untuk Ibadah dan Kemajuan
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Gedung Dakwah, Jakarta, Jumat (23/1). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, menegaskan bahwa kecerdasan buatan Artificial Intelligence (AI) telah menjadi realitas tak terpisahkan dalam kehidupan beragama umat Islam, termasuk dalam praktik ibadah hingga pengambilan keputusan keagamaan.

Pernyataan ini disampaikannya dalam Pengajian PP Muhammadiyah di Gedung Dakwah, Jakarta, Jumat (23/1).

Rofiq mencontohkan implementasi nyata AI di Masjidil Haram, di mana jamaah bisa mengakses informasi lokasi, kepadatan, hingga layanan pengantaran Al-Qur'an. Bahkan, AI berperan sebagai pendamping menghafal dan mengoreksi bacaan Al-Qur'an.

“AI itu sudah sangat dekat dengan kita dan nyata-nyata membantu ibadah,” ujarnya.

Di internal Muhammadiyah, pemanfaatan AI juga diterapkan, terutama dalam penyusunan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) melalui aplikasi HisabMu. Teknologi ini, kata Rofiq, mempercepat proses perhitungan kriteria baru yang kompleks secara global.

Ia menjelaskan perbedaan mendasar antara metode lama dan kriteria global yang memerlukan pemetaan di setiap wilayah dunia dengan parameter ketat. Contoh kasus penentuan awal Ramadan 2026 yang titik kritis perhitungannya berada di Alaska menjadi alasan penetapan dimajukan dari 19 ke 18 Februari, keputusan yang telah diumumkan jauh hari berdasarkan kalkulasi matang.

Menyikapi perkembangan ini, Rofiq mengajak warga Muhammadiyah bersikap bijak. Ia mengakui adanya pandangan konservatif yang skeptis terhadap teknologi, namun menegaskan bahwa bagi Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan, menolak AI bukan pilihan. “There is no point of return. Kita tidak bisa lari ke belakang,” tegasnya.

Menurutnya, penolakan bertentangan dengan teologi Islam dan sejarah peradaban, seraya mengingatkan pelajaran pahit ketika umat Islam terlambat mengadopsi mesin cetak, menyebabkan ketertinggalan yang lebar dari Barat. “Kalau kita terlalu banyak ragu dan menunda, dampaknya serius bagi kita sendiri,” ujarnya.

Menanggapi kekhawatiran terkait AI dan era Dajjal, Rofiq menilai hal itu sebagai kekhawatiran berlebihan yang tidak sejalan dengan DNA kemajuan Muhammadiyah. Ia menawarkan tiga kaidah fikih utama dalam menyikapi AI.

Pertama, al-ashlu fil manafi’ al-ibahah, bahwa hukum asal segala sesuatu yang bermanfaat adalah mubah. Kedua, lil wasail ahkamul maqasid, yakni hukum suatu sarana bergantung pada tujuan penggunaannya. Ketiga, ad-dhararu yuzal, bahwa setiap bentuk kemudaratan dan kezaliman harus dihilangkan.

“AI itu netral. Yang menentukan adalah bagaimana kita mengarahkannya, memanfaatkannya, dan sekaligus memperbaiki kelemahan-kelemahannya,” pungkas Rofiq.