PCIM Britania Raya Bawa Isu Kesehatan Mental Muslim Indonesia ke Forum Nasional Inggris

PCIM Britania Raya Bawa Isu Kesehatan Mental Muslim Indonesia ke Forum Nasional Inggris
PCIM Britania Raya dan Irlandia menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berpartisipasi dalam National Muslim Mental Health Summit yang diselenggarakan MCB di University of East London, Sabtu (18/7/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Britania Raya dan Irlandia menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia yang berpartisipasi dalam National Muslim Mental Health Summit yang diselenggarakan Muslim Council of Britain (MCB) di University of East London, Sabtu (18/7/2026).

Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kontribusi dalam isu kesehatan mental masyarakat Muslim.

Forum tersebut dihadiri lebih dari 400 peserta yang terdiri atas organisasi-organisasi Muslim di Britania Raya, praktisi kesehatan mental, akademisi, pembuat kebijakan, hingga lembaga layanan kesehatan mental berbasis komunitas. Mereka membahas berbagai tantangan serta solusi untuk meningkatkan akses layanan kesehatan mental bagi komunitas Muslim di Inggris.

Ketua PCIM Britania Raya dan Irlandia, Ince Dian Aprilyani Azir, mengatakan kehadiran Muhammadiyah dalam forum internasional tersebut memberikan perspektif baru mengenai penanganan kesehatan mental berbasis riset dan kolaborasi lintas sektor.

“Hari ini saya banyak belajar tentang kesehatan mental, tidak hanya dari perspektif agama, tetapi juga berdasarkan data dan hasil riset yang komprehensif,” ujarnya.

Menurut Ince, partisipasi Muhammadiyah dalam forum lintas komunitas merupakan bagian dari ikhtiar Persyarikatan untuk memperluas jaringan dakwah sekaligus berkontribusi terhadap isu-isu kemanusiaan global.

“Partisipasi ini juga menjadi ruang belajar bagi Muhammadiyah untuk memperkaya perspektif dalam merespons isu kesehatan mental, sehingga pengalaman yang diperoleh dapat menjadi inspirasi bagi penguatan layanan dan edukasi kesehatan mental di lingkungan masyarakat, termasuk di Indonesia,” tambahnya.

Dalam forum tersebut, peserta mengikuti sejumlah sesi, mulai dari lokakarya mengenai neurodiversitas, strategi penguatan pendanaan bagi penyedia layanan kesehatan mental, hingga pemanfaatan teknologi dan kebijakan publik untuk memperluas akses layanan kesehatan. Agenda itu juga menjadi momentum peluncuran direktori daring pertama yang menghimpun penyedia layanan kesehatan mental khusus bagi komunitas Muslim di Britania Raya.

Data yang dipaparkan dalam pertemuan menunjukkan masih rendahnya akses masyarakat Muslim terhadap layanan kesehatan mental. Dari sekitar empat juta Muslim yang tinggal di Inggris, hanya 2,6 persen pasien Muslim yang dirujuk ke layanan NHS Talking Therapies pada periode 2021–2022 berhasil menyelesaikan proses terapi.

Sementara itu, survei Muslim Youth Helpline terhadap lebih dari 1.000 Muslim berusia 16–30 tahun menemukan bahwa hanya 13 persen responden yang memiliki kebutuhan layanan kesehatan mental pernah berkonsultasi dengan konselor profesional.

Sekretaris Jenderal Muslim Council of Britain, Wajid Akhter, menilai persoalan kesehatan mental yang dihadapi komunitas Muslim di Britania Raya memerlukan perhatian yang lebih serius. Menurutnya, diperlukan dukungan pendanaan yang memadai, kolaborasi antara masjid, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, serta pengembang teknologi agar layanan kesehatan mental semakin mudah diakses.

Selain itu, ia juga mendorong agar isu kesehatan mental masyarakat Muslim menjadi bagian penting dari agenda kebijakan kesehatan nasional di Inggris.

Sebagai informasi, Muslim Council of Britain merupakan organisasi payung Muslim terbesar di Britania Raya yang menaungi lebih dari 500 organisasi anggota, meliputi masjid, sekolah, lembaga amal, dan berbagai jaringan profesional Muslim.

Partisipasi PCIM Britania Raya dan Irlandia dalam forum tersebut diharapkan memperkuat kontribusi Muhammadiyah dalam pengembangan layanan kesehatan mental sekaligus memperluas kolaborasi internasional di bidang kemanusiaan.