PCIM Libya Gelar Baitul Arqam Perdana, Perkuat Kaderisasi Muhammadiyah di Tripoli

PCIM Libya Gelar Baitul Arqam Perdana, Perkuat Kaderisasi Muhammadiyah di Tripoli
PCIM Libya resmi membuka Baitul Arqam 2026 di Tripoli, Libya, Jumat (7/8/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Libya resmi membuka Baitul Arqam 2026 di Tripoli, Libya, Jumat (7/8/2026). Mengusung tema “Dari Konsolidasi Gerakan Menuju Regenerasi Kepengurusan: Menyiapkan Kader Muhammadiyah Libya Berkemajuan”, agenda tersebut menjadi langkah awal memperkuat kaderisasi warga Muhammadiyah di Libya.

Baitul Arqam ini merupakan agenda perkaderan pertama yang diselenggarakan bagi warga Persyarikatan Muhammadiyah di Libya. Kegiatan berlangsung selama dua hari, 7–8 Agustus 2026, dengan peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara langsung dari dua lokasi, yakni Kampus Kulliyah ad-Da’wah al-Islamiyyah Tripoli dan Universitas al-Asmariyah Zliten.

Ketua PCIM Libya, Afrizal Faza Haikal, mengatakan Baitul Arqam tidak hanya menjadi forum pembinaan kader, tetapi juga sarana menyatukan pemahaman dan komitmen warga Muhammadiyah dalam menjalankan gerakan dakwah di Libya.

“Tujuan utama Baitul Arqam Muhammadiyah adalah membina ideologi Islam, memperkuat nilai-nilai Kemuhammadiyahan, serta menyatukan sikap, cara berpikir, dan komitmen anggota atau kader dalam menjalankan misi gerakan dakwah Muhammadiyah di Libya,” ujar Afrizal.

Perkaderan Muhammadiyah Harus Berkelanjutan

Penguatan ideologi dan konsolidasi kader menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Baitul Arqam. Pesan tersebut juga disampaikan Benni Setiawan dari Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Benni menekankan pentingnya menjaga kesinambungan proses perkaderan agar regenerasi kepemimpinan Muhammadiyah terus berjalan di tengah perubahan zaman.

“Muhammadiyah akan ada sampai detik akhir hari kiamat,” ungkap Benni mengutip narasi optimisme Persyarikatan.

Menurutnya, keberlanjutan gerakan Muhammadiyah perlu ditopang oleh proses kaderisasi yang konsisten. Kader tidak hanya dituntut memahami nilai dan ideologi Muhammadiyah, tetapi juga memiliki kompetensi, integritas, serta kesiapan untuk meneruskan kepemimpinan organisasi.

Untuk menjaga kualitas materi dan standar perkaderan, sejumlah pemateri dari MPKSDI PP Muhammadiyah turut terlibat secara daring melalui platform Zoom. Pola hybrid tersebut memungkinkan materi perkaderan disampaikan langsung kepada peserta di Libya sekaligus tetap terhubung dengan jajaran perkaderan di tingkat pusat.

Diikuti Kader dari Tripoli dan Zliten

Baitul Arqam 2026 diikuti sekitar 70 peserta laki-laki dan perempuan. Peserta berasal dari kader PCIM Tripoli serta Pengurus Ranting Istimewa Muhammadiyah (PRIM) Zliten.

Pelaksanaan kegiatan di dua lokasi menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan perkaderan Muhammadiyah di Libya. Kampus Kulliyah ad-Da’wah al-Islamiyyah Tripoli menjadi salah satu lokasi kegiatan, sementara peserta dari Zliten mengikuti agenda dari Universitas al-Asmariyah Zliten.

Selain memperkuat pemahaman ideologi dan nilai Kemuhammadiyahan, Baitul Arqam diarahkan untuk membangun kesamaan visi kader dalam menghadapi tantangan organisasi serta menyiapkan regenerasi kepengurusan PCIM Libya.

Agenda perdana tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi pelaksanaan perkaderan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan. Dengan demikian, kader Muhammadiyah di Libya dapat terus memperkuat peran diaspora Persyarikatan sekaligus mengembangkan dakwah yang relevan dengan konteks masyarakat setempat.