Tony Firmansyah Beberkan Lima Strategi LP UMKM Cetak Pengusaha Muslim Tangguh
TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah merumuskan lima langkah strategis guna mencetak generasi pengusaha Muslim yang tangguh, adaptif terhadap perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), dan berdaya saing tinggi.
Arah kebijakan tersebut dipaparkan oleh Ketua Lembaga Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LP UMKM) PP Muhammadiyah, Tony Firmansyah, dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertajuk “Muhammadiyah dan Kemandirian Ekonomi Umat” di Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, pada Jumat malam, 25 September 2026.
Tony menyoroti disparitas antara populasi umat Muslim dunia yang mencapai 1,8 miliar jiwa dengan realitas kekuatan ekonominya. Mengambil iktibar dari kejayaan para sahabat Nabi SAW yang menyatukan potensi bisnis demi menegakkan dakwah, Muhammadiyah berkomitmen memicu lahirnya konglomerasi wirausaha baru dalam rentang 5 hingga 10 tahun mendatang.
“Saya melihat perubahan zaman begitu cepat di 10 tahun belakangan ini, ditambah lagi di era kecerdasan buatan semuanya terasa mudah. Umat Muslim pada saat ini tidak seperti dulu. Kalau kita lihat eranya sahabat, para pengusaha Muslim di era sahabat itu meskipun mereka sedikit, tapi mereka betul-betul bersatu,” ujar Tony di Jakarta.
Untuk mewujudkan ekosistem usaha yang kokoh, LP UMKM PP Muhammadiyah mengeksekusi lima pilar strategi utama. Pertama, pemetaan potensi dan pendataan basis data warga melalui Serikat Usaha Muhammadiyah (SUMU) yang kini telah menghimpun sekitar 3.000 pengusaha.
Kedua, inkubasi dan pendampingan bertahap guna mencetak pengusaha baru. Ketiga, perluasan akses pasar dan transfer ilmu pengetahuan melalui pengembangan aplikasi digital pemeta skala omzet usaha.
“Ini karena masih banyak pengusaha yang mengeluh untuk mendapatkan akses pasar, keterbatasan ilmu dan jaringan,” tutur Tony.
Keempat, pilar kolaborasi usaha produktif bersama melalui peluncuran jaringan koperasi penopang ketahanan pangan murah. Kelima, optimalisasi transformasi dana sosial keagamaan (ziswaf) menjadi modal pemberdayaan produktif.
“Melalui sistem itu, kita harapkan nanti mereka dapat melakukan pemberdayaan. Merubah yang tadinya penerima zakat lalu ke depannya dapat menjadi pembayar zakat,” tegas Tony memungkas keterangannya.
