Sahrul Gunawan Tegaskan Wisata Halal Bukan untuk Batasi Gerak-gerik Pengunjung

Sahrul Gunawan Tegaskan Wisata Halal Bukan untuk Batasi Gerak-gerik Pengunjung
Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan dalam acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 bertajuk 'Industri dan Pariwisata Halal: Peluang dan Tantangan', Kamis (12/5).

TVMU.TV - Wakil Bupati Bandung, Sahrul Gunawan menegaskan, bahwa wisata halal bukan untuk membatasi gerak-gerik pengunjung. Dalam hal ini, turis-turis terutama turis asing tetap bebas menjalankan kebiasaannya saat berwisata.

Sejatinya, jelas dia, wisata halal tidak bermaksud mengubah objek wisata menjadi halal.

Demikian hal ini disampaikan Sahrul dalam acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 yang mengusung tema 'Industri dan Pariwisata Halal: Peluang dan Tantangan' pada, Kamis (12/5).

“Halal yang dimaksud adalah penyediaan pangan yang disajikan dalam restoran, ketersediaan tempat ibadah dan hotel yang dapat memiliki standar kehalalan, juga terkait masalah kesehatan dan higienitas,” kata Sahrul.

Ia menyampaikan, konsep wisata halal ini terdapat pada layanan, bukan mengubah objek atau alam wisata lainnya.

Saat berwisata, ungkap Sahrul, banyaknya wisatawan Muslim membutuhkan beberapa hal penting terkait ajaran agama yang harus dipatuhi. Seperti arah kiblat, tempat shalat, makanan dan minuman halal serta level kesehatan lingkungan dan higienitas makanan.

Jadi, wisata halal untuk menjangkau dan menarik wisatawan Muslim datang berkunjung ke suatu objek wisata. Misalnya, di Danau Toba, selain banyak wisatawan Muslim lokal, juga ada banyak wisatawan Muslim dari Malaysia.

“Mereka membutuhkan layanan wisata yang ramah Muslim. Jika mereka tidak merasa nyaman dengan layanan halalnya, agak sulit suatu objek wisata berkembang lebih besar,” ungkapnya.

Mantan pemain sinetron Jin dan Jun ini mengatakan, konsep wisata halal tersebut merupakan adopsi dari negara-negara non-Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang melihat potensi besar dari pertumbuhan Muslim di seluruh dunia.

Dengan demikian, wisata halal ini diciptakan untuk mewadahi kebutuhan beribadah bagi para muslim di negara-negara non-OKI, seperti penyediaan tempat ibadah (mushola) dan restoran halal.

“Negara-negara yang cepat menangkap peluang pelayanan wisata ramah Muslim ini adalah Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, Australia, Selandia Baru, Inggris, Prancis, dan banyak negara lainnya,” jelas Sahrul.

Selain berkaitan dengan urusan makanan dan minuman dan pengelolaan destinasi, sebutnya, pariwisata halal juga berkaitan dengan destinasi wisata halal terdapat perbankan syariah atau pengelolaan keuangan bersyariah. Bahkan, jika perlu ada paket tour wisata syariah, pemandu yang bersertifikasi.

Selain itu, yang paling penting dari pariwisata halal yakni menciptakan lingkungan yang bersih, terutama dari sampah.

“Kekurangan destinasi wisata di Indonesia yang tergambarkan oleh wisatawan tidak bersih dan tidak terawat. Salah satunya toilet,” tegas Sahrul.

Saksikan video streaming acara Seminar Pra Muktamar Muhammadiyah-Aisyiyah ke-48 bertajuk 'Industri dan Pariwisata Halal: Peluang dan Tantangan' Klik di Sini