UMP dan ITB Bangun Jalur Pendidikan Farmasi Terintegrasi dari Sarjana hingga Doktor

UMP dan ITB Bangun Jalur Pendidikan Farmasi Terintegrasi dari Sarjana hingga Doktor
UMP menjalin kolaborasi strategis dengan Sekolah Farmasi ITB melalui pengembangan skema pendidikan farmasi berjenjang yang terintegrasi. Foto: UMP.

TVMU.TV - Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menjalin kolaborasi strategis dengan Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui pengembangan skema pendidikan farmasi berjenjang yang terintegrasi.

Kerja sama ini membuka jalur pendidikan berkelanjutan dari jenjang sarjana hingga doktoral untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di bidang kefarmasian.

Kolaborasi tersebut menghadirkan dua skema utama, yakni Jalur Kerja Sama Sarjana-Magister (JKSM) dan Jalur Kerja Sama Magister-Doktor (JKMD) UMP–ITB.

Melalui skema ini, mahasiswa dapat merencanakan jalur studi lintas jenjang secara lebih terarah dalam satu sistem akademik yang saling terhubung antarperguruan tinggi.

Program ini menjadi bagian dari upaya penguatan pendidikan tinggi yang sejalan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-Dikti) serta kebijakan Kementerian Pendidikan yang menekankan fleksibilitas, rekognisi pembelajaran, dan penguatan kolaborasi antar-institusi.

Dekan Fakultas Farmasi UMP, Assoc. Prof. apt. Binar Asrining Dhiani, Ph.D., mengatakan kerja sama tersebut memberi ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas akademik dan penelitian.

“Kolaborasi dengan ITB ini membuka akses bagi mahasiswa untuk terlibat dalam lingkungan riset yang lebih luas. Dengan adanya pembimbingan bersama, diharapkan proses pembelajaran dan penelitian dapat berlangsung secara lebih komprehensif,” ujarnya saat ditemui di Purwokerto, Kamis (30/4).

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya memperoleh akses terhadap sistem pembelajaran terintegrasi, tetapi juga kesempatan memanfaatkan fasilitas riset di ITB, peluang pendanaan pendidikan, serta pengalaman akademik di tingkat nasional maupun internasional.

Salah satu komponen utama dalam kolaborasi ini adalah penerapan joint supervision atau pembimbingan bersama. Dalam skema tersebut, mahasiswa akan didampingi dosen pembimbing dari UMP dan ITB secara simultan.

Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat kualitas penelitian, memperluas perspektif akademik, sekaligus mendorong lahirnya karya ilmiah kolaboratif yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan industri farmasi.

Selain memberi manfaat bagi mahasiswa, kerja sama ini juga memperluas jejaring riset kedua institusi. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kapasitas akademik dosen serta mempercepat respons perguruan tinggi terhadap dinamika sektor kesehatan dan industri farmasi yang terus berkembang.

Binar menambahkan, skema pendidikan berjenjang ini dirancang untuk menyiapkan lulusan yang memiliki kemampuan akademik, kompetensi riset, serta daya adaptasi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Kami berharap lulusan Farmasi UMP memiliki kesiapan untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu dan praktik kefarmasian, baik di tingkat nasional maupun global,” tambahnya.

Ke depan, program pendidikan terintegrasi UMP–ITB diharapkan dapat menjadi model pengembangan pendidikan farmasi yang berkelanjutan. Melalui sinergi tersebut, kedua institusi menegaskan komitmennya dalam membangun pendidikan tinggi yang berorientasi pada kualitas, kolaborasi, dan kebermanfaatan bagi dunia kesehatan.