Abdul Mu’ti: Muhammadiyah Punya Tanggung Jawab Sejarah Memajukan Indonesia
TVMU.TV - Muhammadiyah memandang Indonesia bukan hanya sebagai negara persatuan yang dibangun di atas kemajemukan, tetapi juga sebagai negara yang harus terus dimajukan dengan berlandaskan Pancasila. Upaya tersebut diwujudkan melalui kontribusi nyata dalam kehidupan bangsa.
Pesan itu disampaikan Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam Pengajian Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang, Ahad (9/8/2026).
Mu’ti menjelaskan, pandangan tersebut merupakan bagian dari konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy Syahadah yang dirumuskan Muhammadiyah dalam Muktamar ke-47 di Makassar pada 2015.
Menurutnya, Pancasila tidak hanya dipandang sebagai dasar negara, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab sejarah Muhammadiyah sebagai organisasi yang turut berperan dalam proses lahirnya Indonesia.
“Karena itu Muhammadiyah memandang penting Pancasila sebagai dasar negara itu sebagai satu bentuk tanggung jawab sejarah. Muhammadiyah ikut melahirkan Indonesia dan karena itu maka Muhammadiyah harus bertanggung jawab untuk Indonesia bisa lebih maju lagi,” kata Mu’ti.
Muhammadiyah dan Perjuangan Kemerdekaan
Mu’ti mengatakan kontribusi Muhammadiyah terhadap Indonesia telah berlangsung jauh sebelum kemerdekaan. Sejumlah kader Muhammadiyah terlibat dalam perjuangan melalui berbagai jalur, baik perjuangan fisik, pendidikan, pemikiran, maupun politik.
Ia menyebut sejumlah tokoh yang memiliki keterkaitan dengan Muhammadiyah, antara lain Presiden Soekarno dan Ki Bagus Hadikusumo. Kiprah tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang Muhammadiyah dalam memperjuangkan kehidupan bangsa.
Setelah Indonesia merdeka, kontribusi tersebut berlanjut melalui berbagai bidang kehidupan masyarakat. Muhammadiyah turut mengambil bagian dalam mewujudkan cita-cita kemerdekaan sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
“Kita menyebutnya dengan negara pembuktian atau darus syahadah. Sehingga tugas kita berikutnya adalah bagaimana kita mewujudkan cita-cita kemerdekaan,” imbuh Mendikdasmen RI ini.
Cita-cita tersebut, lanjut Mu’ti, mencakup upaya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Mencerdaskan Bangsa melalui Ilmu Pengetahuan
Dari berbagai cita-cita kemerdekaan tersebut, Mu’ti menilai upaya mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi salah satu bidang yang sejak lama mendapat perhatian besar dari Muhammadiyah.
Kontribusi itu diwujudkan melalui pengembangan pendidikan dan ilmu pengetahuan yang menjadi bagian penting dari gerakan Muhammadiyah. Menurut Mu’ti, pendidikan tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk manusia yang mampu berpikir kritis dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Ia mengaitkan gagasan tersebut dengan konsep ulul albab dalam Al-Qur’an, khususnya QS Ali Imran ayat 190–191.
“Ulul albab itu kalau kita baca di dalam Ali Imran (ayat) 190-191 adalah mereka yang memiliki kemampuan berpikir yang kritis, kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dengannya dia bisa belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan,” ungkap Mu’ti.
Bagi Muhammadiyah, konsep Darul Ahdi Wasy Syahadah dengan demikian tidak berhenti pada pengakuan terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Konsep tersebut menempatkan Indonesia sebagai ruang pembuktian bagi warga Muhammadiyah untuk menghadirkan amal nyata dalam memajukan kehidupan bangsa.
Gagasan itu sekaligus menegaskan bahwa kontribusi Muhammadiyah terhadap Indonesia bukan sekadar bagian dari catatan sejarah, melainkan amanah yang terus dilanjutkan melalui pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, pemberdayaan masyarakat, dan berbagai bidang pengabdian lainnya.