Buka Rakernas LRB-MDMC, Haedar Nashir Tegaskan Prinsip Membangun Tanpa Merusak Alam

Buka Rakernas LRB-MDMC, Haedar Nashir Tegaskan Prinsip Membangun Tanpa Merusak Alam
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, saat membuka Rakernas LRB-MDMC di BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta, Jumat (11/9). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan bahwa kiprah kemanusiaan dalam penanggulangan bencana dan pelestarian alam merupakan pengejawantahan dari peran manusia sebagai khalifatullah fil ardh. Oleh karena itu, pembangunan serta pengelolaan sumber daya alam wajib berlandaskan etika lingkungan demi keselamatan bersama.

Pesan substansial tersebut disampaikan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di BBPPMPV Seni dan Budaya Yogyakarta pada Jumat, 11 September 2026.

Haedar menilai maraknya bencana ekologis di Tanah Air tidak terlepas dari cara pandang manusia yang eksploitatif terhadap alam. Dalam perspektif Islam Berkemajuan, seluruh kekayaan bumi harus dikelola secara bijak tanpa mengejar keuntungan sesaat.

“Sumber daya alam harus dikelola untuk membangun maslahat kehidupan dan tidak menjadi mudarat bagi kehidupan. Artinya, membangun tanpa merusak,” jelas Haedar.

Ia mendorong LRB-MDMC merumuskan paradigma baru dalam menjaga ekosistem nasional dari ancaman keruskaan yang dipicu eksploitasi berlebihan.

“Bagaimana paradigmanya? Tugas kita yaitu menyusun ilmu pengetahuan dan sistem, dan di situlah Muhammadiyah terpanggil. Bukan kapitalisme yang merusak, mengeksploitasi,” tegasnya.

Dalam arahannya, Haedar menguraikan tiga pilar utama yang menjadi kekuatan gerakan kemanusiaan MDMC:

Pertama, nilai keikhlasan relawan yang terus terjaga. Keikhlasan ini yang memacu ribuan kader MDMC selalu menjadi yang terdepan saat terjadi musibah.

“Maka kenapa ketika yang lainnya menjauhi bencana, teman-teman relawan MDMC justru mendekati bencana, mencoba melakukan peran kemanusiaan agar tidak terjadi bencana yang lebih luas,” kata Haedar.

“Di situlah uang pun tidak berharga sebenarnya kalau keikhlasan sudah kuat,” tambahnya.

Kedua, pembaruan sistem dan adaptasi teknologi agar respons bencana bekerja secara efisien. Haedar memuji ketangguhan jaringan MDMC yang langsung bergerak cepat tanpa instruksi berbelit begitu musibah melanda.

“Ketika terjadi bencana di tanah air, tahu-tahu MDMC bergerak. Sistem tersebut sudah otomatis bergerak, jaringannya kuat. Karena itulah MDMC memperoleh banyak penghargaan,” ucapnya.

Ketiga, peningkatan kapasitas aktor relawan melalui regenerasi kepemimpinan serta penguatan edukasi mitigasi bagi masyarakat non-urban di pelosok daerah.

“Kadang jika terjadi bencana, mereka tidak tahu kalau itu bencana. Maka tugas kita adalah menyampaikan ilmu agar mitigasi bencana di masyarakat tidak sembarangan,” jelas Haedar.

Melalui Rakernas ini, Muhammadiyah berkomitmen memperkuat ekosistem mitigasi bencana berbasis pengetahuan. Pendekatan ini diharapkan membentuk masyarakat yang tangguh, siap sigap sebelum musibah melanda, serta ramah terhadap keberlanjutan lingkungan.