Muhammadiyah Perkuat Respons Bencana, Infak Jumat dan Lazismu Digerakkan hingga Masa Pemulihan
TVMU.TV - Muhammadiyah memperkuat gerakan kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak bencana di sejumlah wilayah. Gerakan tersebut dilakukan melalui penghimpunan infak, pengerahan relawan, layanan kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, hingga pendampingan masyarakat pada fase pemulihan.
Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah M. Izzul Muslimin mengatakan PP Muhammadiyah telah mengeluarkan edaran untuk menghimpun infak Salat Jumat di masjid-masjid Muhammadiyah sebagai bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, terutama gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Edaran tersebut tertuang dalam Surat Edaran PP Muhammadiyah Nomor 18/EDR/I.0/H/2026. Dalam edaran itu, penghimpunan infak Salat Jumat secara khusus dilaksanakan pada Jumat, 21 Agustus 2026 dan disalurkan secara terkoordinasi melalui LAZIS dan Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) pada masing-masing tingkatan.
Namun, Izzul menegaskan, imbauan tersebut tidak berarti kepedulian warga Muhammadiyah berhenti setelah satu pekan. Warga tetap dapat melanjutkan donasi untuk membantu penyintas bencana, termasuk masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan.
“Artinya edaran itu tidak berarti satu pekan berhenti, tapi kalau seandainya ada yang ingin melanjutkan lagi juga enggak apa-apa,” ujar Izzul dalam acara Ruang Publik TVMu, Sabtu (05/09).
Infak Dihimpun, Bantuan Disesuaikan Kebutuhan
Izzul mengajak warga Muhammadiyah menyalurkan kepedulian melalui infak Jumat maupun Lazismu yang tersedia di berbagai tingkatan Persyarikatan.
“Kita berharap warga Muhammadiyah untuk bisa menyalurkan rezekinya, baik melalui infak Jumat, bisa juga melalui Lazismu di masing-masing tempat,” katanya.
Dalam skema respons Muhammadiyah, penghimpunan dana dan operasi kemanusiaan berjalan beriringan. Lazismu berperan dalam menghimpun dan mengelola dukungan dana, sedangkan MDMC atau Lembaga Resiliensi Bencana berperan melakukan asesmen serta mengoordinasikan penanganan di lapangan.
Pola ini merupakan bagian dari semangat One Muhammadiyah One Response (OMOR), yakni menggerakkan berbagai unsur Persyarikatan dalam satu respons kebencanaan yang terkoordinasi. PP Muhammadiyah juga menggunakan pola tersebut dalam respons gempa Flores.
Bendahara MDMC Dede Haris Sumarno mengatakan gotong royong dalam membantu masyarakat terdampak bencana telah menjadi bagian yang melekat dalam gerakan Muhammadiyah.
Ia mengingat kembali kisah KH Ahmad Dahlan yang mengajak warga ikut membiayai gerakan Persyarikatan. Menurut Dede, semangat tersebut terus hidup dan salah satunya terlihat ketika warga Muhammadiyah bergotong royong membantu masyarakat terdampak bencana.
“Kalau di Persyarikatan Muhammadiyah ini adalah sesuatu yang saya kira sudah sangat mendarah daging,” kata Dede.
Dalam pelaksanaannya, MDMC terlebih dahulu melakukan asesmen untuk mengetahui kebutuhan masyarakat. Hasil asesmen menjadi dasar penentuan bantuan, mulai dari hunian darurat, makanan, layanan kesehatan, kebutuhan anak-anak, pendidikan darurat, hingga kebutuhan tempat ibadah.
Di Flores, misalnya, Muhammadiyah mengerahkan tim kesehatan, mendirikan rumah sakit lapangan, serta menjalankan layanan kesehatan bergerak. Model tersebut diperlukan karena masyarakat terdampak dan pengungsi tersebar di sejumlah titik.
Bantuan hunian darurat juga menjadi perhatian karena gempa susulan membuat sebagian masyarakat masih merasa khawatir untuk kembali ke rumah. Pada saat yang sama, keberlanjutan pendidikan anak tetap dijaga agar bencana tidak membuat proses belajar terhenti.
“Adik-adik kita boleh saja mengalami kejadian seperti ini, tapi pendidikannya tidak boleh ditinggalkan,” ujar Dede.
Respons Muhammadiyah juga berlangsung di Kalimantan melalui penanganan dampak karhutla. Di Kalimantan Tengah, misalnya, Muhammadiyah melalui OMOR, Lazismu, dan unsur Persyarikatan menjalankan layanan berupa rumah oksigen, mobil oksigen, layanan kesehatan lapangan, pembagian masker, dukungan nutrisi, serta edukasi masyarakat.
Muhammadiyah One Response hingga Pemulihan
Dede menegaskan Muhammadiyah menempatkan diri sebagai mitra pemerintah dalam penanganan bencana, bukan mengambil alih tugas pemerintah.
“Posisi membantu, tidak menggantikan pemerintah. Kita berkoordinasi mana rumah yang rusak berat, rusak sedang dan sebagainya,” jelasnya.
Menurut Dede, kerja kemanusiaan Muhammadiyah tidak berhenti ketika masa tanggap darurat selesai. Pendampingan dilanjutkan sesuai kebutuhan masyarakat, termasuk dalam pemulihan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan sosial.
Setiap unsur Persyarikatan dapat mengambil peran sesuai kapasitasnya. Majelis ekonomi dapat mendukung pemulihan ekonomi, Majelis Pendidikan Dasar Menengah membantu pemulihan pendidikan, sementara perguruan tinggi, rumah sakit, dan unsur lainnya bergerak sesuai kebutuhan di lapangan.
Pola kerja lintas unsur tersebut menjadi bagian dari konsep Muhammadiyah One Response, yang menempatkan seluruh elemen Persyarikatan dalam satu rangkaian penanganan bencana.
“Tidak hanya satu atau dua lembaga, tapi seluruh elemen yang ada di persyarikatan bergerak bersama sesuai dengan tahapannya masing-masing,” kata Dede.
Menurutnya, panjangnya proses pemulihan membuat dukungan publik tidak boleh berhenti ketika perhatian media terhadap suatu bencana mulai berkurang.
Direktur Fundraising Lazismu Mochammad Sholeh Farabi menegaskan bahwa masa penanganan bencana jauh lebih panjang dibandingkan masa pemberitaan di media.
“Jangan biarkan kepedulian itu berhenti walaupun kabar tentang bencana mulai menghilang dari televisi,” ujar Farabi.
Farabi mengatakan Muhammadiyah berupaya hadir sejak fase awal bencana hingga proses pemulihan.
“Jadi jalan bencana itu panjang. Biasanya memang Muhammadiyah itu tim yang biasanya pertama datang tapi pulang paling terakhir,” katanya.
Lazismu Himpun Rp7,4 Miliar, 20.000 Kaleng RendangMu Disalurkan
Besarnya dukungan publik juga terlihat dari penghimpunan dana kemanusiaan. Farabi menyampaikan dana yang dihimpun Lazismu berdasarkan instruksi PP Muhammadiyah untuk penanganan bencana NTT telah mencapai sekitar Rp7,4 miliar.
“Menurut data yang terkumpul di Lazismu, berdasarkan surat PP Muhammadiyah untuk menghimpun itu sampai saat ini sudah masuk sekitar 7,4,” kata Farabi.
Angka tersebut merupakan data penghimpunan yang disampaikan Farabi dalam acara tersebut. Dana selanjutnya disalurkan berdasarkan hasil asesmen dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Selain dana, Lazismu menyiapkan bantuan untuk kelompok rentan, antara lain family kit, woman kit, dan hygiene kit. Untuk respons karhutla di Kalimantan, bantuan juga disesuaikan dengan kebutuhan lapangan, termasuk dukungan masker dan kebutuhan kesehatan.
Dukungan juga datang dari perguruan tinggi Muhammadiyah, mahasiswa, organisasi kepemudaan, dan organisasi otonom yang turut menggalang bantuan.
Lazismu juga menyalurkan makanan siap saji melalui program RendangMu. Farabi menyebut sekitar 20.000 kaleng RendangMu telah disalurkan kepada penyintas bencana NTT melalui posko-posko Muhammadiyah.
“Saat ini kami sudah menyalurkan kurang lebih ada 20.000 kaleng,” ungkapnya.
Makanan tersebut berasal dari pemanfaatan daging kurban yang diolah menjadi makanan siap saji sehingga dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pangan masyarakat terdampak bencana.
Besarnya dana yang dihimpun juga diikuti tuntutan transparansi dan akuntabilitas. Farabi memastikan Lazismu mengelola dana sesuai prinsip amanah dan profesional.
“Dana yang terhimpun di Lazis itu akan kita kelola dengan prinsip amanah dan profesional. Itu sudah menjadi SOP kami,” tegasnya.
Pelaporan penghimpunan dan penyaluran dilakukan melalui berbagai kanal agar masyarakat dan donatur dapat mengetahui jumlah dana yang terkumpul, penggunaannya, serta bentuk bantuan yang telah disalurkan.
Gagas Dana Abadi Kemanusiaan
Pengalaman dalam berbagai respons bencana juga mendorong munculnya gagasan pembentukan dana abadi kemanusiaan. Dede menilai mekanisme tersebut dapat mempercepat respons karena Muhammadiyah memiliki sumber daya yang siap digunakan ketika bencana terjadi.
Selama ini, penghimpunan dana umumnya dilakukan setelah bencana terjadi. Dengan adanya dana abadi, kebutuhan awal dapat ditangani lebih cepat sembari proses penghimpunan dukungan masyarakat tetap berjalan.
“Namun apabila kita telah memiliki dana abadi kemanusiaan, insyaallah maka bahasa anak mudanya akan lebih gercep,” ujar Dede.
Gagasan tersebut dikaitkan Dede dengan semangat Al-Maun yang menjadi salah satu fondasi gerakan sosial Muhammadiyah. Bantuan kemanusiaan, menurutnya, tidak dibatasi oleh latar belakang agama, suku, maupun identitas penerima.
“Bencana kemanusiaan itu melampaui segalanya. Ada tidak ada agama, tidak ada suku dan lain sebagainya, semua kita bantu hanya karena rasa kemanusiaan,” katanya.
Semangat tersebut menjadi bagian dari alasan Muhammadiyah mempertahankan keterlibatan dalam penanganan bencana hingga fase pemulihan. Dede menilai kader Muhammadiyah memiliki tanggung jawab untuk menjadi bagian dari solusi atas persoalan kemanusiaan.
“Kita merasa bahwa ini adalah tugas kita sebagai khalifah, tugas kita sebagai warga bangsa dan tugas kita sebagai kader persyarikatan untuk menjadi bagian daripada solusi terhadap berbagai persoalan yang ada di Republik ini, khususnya terkait dengan kebencanaan atau kemanusiaan,” ujarnya.
Farabi menambahkan, dukungan masyarakat tetap diperlukan dalam seluruh tahapan penanganan bencana, baik dalam bentuk dana, tenaga maupun barang.
Menurutnya, penyintas membutuhkan pendampingan sampai mampu kembali menjalani kehidupan secara lebih mandiri. Karena itu, perhatian publik tidak seharusnya berakhir ketika bencana tidak lagi menjadi berita utama.
“Kami semua elemen di Muhammadiyah akan mendampingi para penyintas bencana sampai mereka pulih,” kata Farabi.
Dengan pola tersebut, respons kemanusiaan Muhammadiyah bergerak dari masjid dan donatur, kemudian diterjemahkan menjadi dukungan operasional oleh Lazismu dan MDMC, serta diperkuat rumah sakit, kampus, majelis, lembaga, relawan, dan organisasi otonom. Seluruh unsur diarahkan untuk bekerja dalam satu sistem agar bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan, sejak tanggap darurat hingga pemulihan.
