Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa Jajaki Kerja Sama untuk Pendidikan hingga Rekonstruksi Gaza

Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa Jajaki Kerja Sama untuk Pendidikan hingga Rekonstruksi Gaza
Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni bersama Ketua LHKI PP Muhammadiyah, Imam Addaruqutni di Jakarta, Rabu (26/8). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa menjajaki kerja sama untuk mendukung masyarakat Palestina, khususnya di Gaza. Kolaborasi yang dibahas mencakup bidang pendidikan, dakwah, kesehatan, hingga rekonstruksi fasilitas publik yang terdampak perang.

Pembahasan itu berlangsung saat PP Muhammadiyah menerima delegasi Umana Al-Aqsa di Jakarta, Rabu (26/8). Delegasi yang terdiri atas Syekh Dr. Mohammed Al-Hajj dan Eymen Yildirim diterima Ketua PP Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni bersama Ketua Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI), PP Muhammadiyah Imam Addaruqutni.

Pertemuan tersebut juga menjadi kesempatan bagi Umana Al-Aqsa menyampaikan apresiasi atas dukungan Muhammadiyah dan berbagai elemen umat Islam Indonesia terhadap masyarakat Palestina.

“Kami datang ke Muhammadiyah untuk menyampaikan apresiasi atas semua kontribusi yang telah diberikan Muhammadiyah dan juga elemen-elemen umat Islam lainnya di Indonesia dalam mendukung Palestina dan Gaza,” ujar Mohammed.

Dorong Rekonstruksi Gaza

Mohammed menjelaskan, Umana Al-Aqsa merupakan lembaga internasional yang berbasis di Istanbul, Turki. Lembaga tersebut bergerak memperkuat peran para dai dan lulusan fakultas syariah dari berbagai negara dalam membangun kepedulian terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

Dalam pertemuan dengan Muhammadiyah, perhatian utama diarahkan pada kebutuhan masyarakat Gaza setelah berbagai fasilitas publik mengalami kerusakan akibat perang. Kerja sama yang dijajaki mencakup pemberdayaan masyarakat, pembangunan kembali fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta penguatan dakwah.

“Kami berharap adanya kerja sama untuk mewujudkan program-program pemberdayaan, infrastruktur kesehatan, pendidikan, dan secara khusus memperhatikan kafalah bagi keluarga syuhada dari kalangan khatib dan imam di Gaza dan Al-Quds,” katanya.

Program kafalah tersebut diarahkan untuk memberikan dukungan kepada keluarga syuhada, khususnya dari kalangan khatib dan imam di Gaza serta Al-Quds.

Mohammed menilai kebutuhan Gaza tidak dapat ditangani hanya melalui dukungan moral. Rekonstruksi fasilitas yang rusak membutuhkan dukungan material dan keterlibatan masyarakat internasional.

“Tentu saja rakyat Palestina, terutama Gaza, memerlukan dukungan moral dan juga material untuk membangun kembali dan melakukan rekonstruksi fasilitas umum, rumah sakit, pendidikan, serta fasilitas publik,” ungkapnya.

Ia berharap Indonesia dan negara-negara Islam lainnya dapat mengambil peran dalam mempercepat proses pemulihan Gaza, termasuk menghidupkan kembali sektor pendidikan dan dakwah.

“Kami percaya Indonesia dan juga negara-negara Islam lainnya bisa membantu dan mendorong percepatan rekonstruksi di bidang dakwah dan pendidikan di Gaza,” imbuhnya.

Muhammadiyah Dorong Penguatan Pemahaman tentang Al-Aqsa

Ketua PP Muhammadiyah Syafiq A. Mughni menyambut baik peluang kerja sama tersebut. Menurutnya, Umana Al-Aqsa memiliki perhatian yang kuat terhadap peningkatan pemahaman umat Islam mengenai Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

Syafiq mengatakan perhatian itu tidak hanya diwujudkan melalui program kemanusiaan, tetapi juga melalui kajian dan pengembangan literatur mengenai Al-Aqsa. Umana Al-Aqsa, kata dia, turut mengembangkan program dukungan pembangunan masjid dan musala yang dibutuhkan masyarakat di Gaza.

“Beliau melakukan kajian tentang Al-Aqsa dan melahirkan beberapa literatur tentang Masjid Al-Aqsa,” kata Syafiq.

Penguatan pemahaman tersebut juga menyasar para khatib, mubalig, dan penceramah di berbagai negara. Menurut Syafiq, pemahaman mengenai Palestina dan Al-Aqsa perlu dibangun tidak hanya berdasarkan perkembangan politik dan sosial kontemporer, tetapi juga berdasarkan landasan keagamaan.

“Beliau menginginkan supaya para penceramah dan khatib memiliki kemampuan bukan saja memahami persoalan kontemporer yang sedang terjadi, tetapi juga memahami landasan normatif dari Al-Qur’an dan Sunnah tentang Al-Aqsa,” ujarnya.

Dengan bekal tersebut, para ulama dan dai diharapkan dapat membantu memperluas pengetahuan masyarakat mengenai Masjid Al-Aqsa sekaligus memperkuat kepedulian terhadap perjuangan Palestina.

Undang Muhammadiyah ke Konferensi di Istanbul

Kerja sama yang dibahas juga memiliki dimensi pendidikan. Syafiq menyebut penguatan kapasitas ulama, khatib, dan penceramah menjadi salah satu ruang yang dapat dikembangkan bersama.

Konferensi Umana Al-Aqsa di Istanbul juga diharapkan menjadi forum untuk mempertemukan para ulama dan penceramah dari berbagai negara dalam memperkuat perhatian terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

“Tujuannya adalah memperkuat komitmen para ulama, para khatib, dan para penceramah untuk menyebarkan pengetahuan tentang Al-Aqsa, baik dari sudut persoalan sosial dan politiknya maupun dari sudut normatif Al-Qur’an dan Sunnah,” kata Syafiq.

Dalam pertemuan tersebut, Mohammed turut mengundang PP Muhammadiyah untuk menghadiri Konferensi Umana Al-Aqsa ke-4 yang dijadwalkan berlangsung di Istanbul, Turki, pada 9–10 Januari 2027. Informasi mengenai agenda dan tanggal konferensi tersebut juga tercantum dalam publikasi resmi Muhammadiyah. 

Syafiq memastikan Muhammadiyah menyambut undangan tersebut. Kehadiran Muhammadiyah dinilai penting sebagai bagian dari dukungan terhadap berbagai upaya memperkuat kepedulian umat Islam terhadap Palestina dan Masjid Al-Aqsa.

“Insyaallah kita akan hadir dalam konferensi itu. Kita harus memberi dukungan karena usaha dan perjuangan ini baik dan sangat dibutuhkan oleh umat Islam sekarang,” pungkasnya.

Pertemuan Muhammadiyah dan Umana Al-Aqsa dengan demikian membuka ruang kerja sama yang lebih luas, dari penguatan pengetahuan tentang Al-Aqsa hingga dukungan konkret bagi pendidikan, kesehatan, dakwah, dan pemulihan fasilitas publik di Gaza.