Muhammadiyah Perlu Seimbangkan Nalar, Teks, dan Kepekaan Batin dalam Beragama

Muhammadiyah Perlu Seimbangkan Nalar, Teks, dan Kepekaan Batin dalam Beragama
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedae Nashir dalam Wisuda Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di UMY, Sabtu (29/8). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengingatkan warga Muhammadiyah agar tidak terjebak pada cara beragama yang terlalu mengandalkan pendekatan rasional dan tekstual. Menurutnya, pemahaman keagamaan perlu diseimbangkan dengan pendekatan irfani yang menumbuhkan pengalaman batin, intuisi, kepekaan nurani, dan kejernihan hati.

Pesan tersebut disampaikan Haedar dalam Wisuda Thalabah Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (29/8/2026). Ia menjelaskan, Manhaj Tarjih Muhammadiyah mengenal tiga pendekatan dalam memahami dan menetapkan persoalan keagamaan, yakni bayani, burhani, dan irfani.

Menurut Haedar, bayani menekankan pemahaman berdasarkan teks atau dalil, burhani menggunakan penalaran dan pembuktian, sedangkan irfani memberi ruang pada dimensi batin dan kepekaan spiritual. Ketiganya, kata dia, tidak semestinya dipertentangkan, tetapi perlu ditempatkan secara seimbang.

“Karena dalam praktik nyatanya sering yang merasa jadi pimpinan, yang merasa jadi mubalig itu lupa yang ketiga hal itu. Hanya bayani saja, lupa burhaninya. Ada yang burhani saja lupa bayaninya. Ada dua-duanya lupa irfaninya,” ungkap Haedar pada Sabtu (29/8) dalam Wisuda Thalabah PUTM di UMY.

Jangan Sampai Kehilangan Rasa dalam Beragama

Haedar mengatakan, dominasi bayani dan burhani tanpa berfungsinya pendekatan irfani dapat membuat kehidupan beragama kehilangan dimensi rasa. Menurut dia, keberagamaan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami teks dan menggunakan logika, tetapi juga bagaimana seseorang menghayati nilai-nilai agama dalam kehidupan.

Ia menilai kondisi tersebut antara lain menjadi salah satu alasan munculnya anggapan bahwa Muhammadiyah terlalu rasional dalam menjalankan ajaran agama. Salah satu isu yang kerap muncul adalah anggapan bahwa warga Muhammadiyah tidak mendoakan orang yang telah meninggal.

Haedar menegaskan anggapan tersebut tidak tepat. Menurutnya, mendoakan orang yang meninggal tetap merupakan perbuatan sunah dan dapat dilakukan sesuai dengan tuntunan yang terdapat dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah.

“Kita nggak usah ikut mereka yang punya tradisi-tradisi yang macam-macam tetapi tunaikan sesuai dengan Manhaj Tarjih. Doa itu kan sunnah dan ada kaifiyahnya (tata cara),” ungkap Haedar.

Bagi Haedar, berpegang pada Manhaj Tarjih bukan berarti menghilangkan ekspresi kemanusiaan. Kesedihan ketika kehilangan orang yang dicintai merupakan bagian dari fitrah manusia dan tidak bertentangan dengan prinsip tauhid.

Duka Tidak Bertentangan dengan Tauhid

Haedar juga menolak pandangan bahwa warga Muhammadiyah tidak semestinya menunjukkan kesedihan ketika menghadapi kematian orang yang dicintai. Ia menilai rasa duka justru merupakan bagian dari dimensi batin manusia.

Menurutnya, seseorang tetap dapat bersedih atas kehilangan tanpa kehilangan keyakinan kepada Allah Swt. Karena itu, ekspresi duka tidak semestinya dianggap sebagai bentuk kelemahan dalam beragama.

“Nggak salah orang Muhammadiyah di saat keluarga tercintanya meninggal kita duka. Dan duka tidak menghilangkan jiwa tauhid kita. Dan jangan adjustment mereka yang duka; hallah hidup kok cengeng!,” kata Haedar Nashir.

Pandangan tersebut menempatkan dimensi spiritual dan emosional sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan keberagamaan. Kepekaan terhadap perasaan manusia, menurut Haedar, perlu berjalan bersama keteguhan terhadap prinsip tauhid dan tuntunan agama.

Irfani dalam Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Haedar selanjutnya mengaitkan pendekatan irfani dengan pelaksanaan dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Ia mengingatkan agar dakwah tidak hanya dilakukan dengan pendekatan tekstual (bayani) dan rasional (burhani).

Dakwah, menurut dia, juga membutuhkan kepekaan batin agar pesan yang disampaikan tidak berhenti pada penyampaian benar dan salah secara normatif, tetapi mampu menyentuh kondisi manusia yang menjadi sasaran dakwah.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi warga Muhammadiyah bahwa kekuatan intelektual dalam memahami agama perlu berjalan bersama kedalaman spiritual dan kepekaan kemanusiaan.

Dengan keseimbangan bayani, burhani, dan irfani, keberagamaan diharapkan tidak hanya melahirkan pemahaman yang benar secara dalil dan rasional, tetapi juga menghadirkan sikap yang bijaksana, berempati, dan berakhlak dalam kehidupan sehari-hari.