PWA Jatim Siapkan Hutan Wakaf SITI KANAYA untuk Berdayakan Perempuan

PWA Jatim Siapkan Hutan Wakaf SITI KANAYA untuk Berdayakan Perempuan
PWA Jatim menerima silaturahmi dan audiensi Eco Bhinneka Muhammadiyah bersama LATIN untuk membahas rencana pengembangan Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan SITI KANAYA di ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur, Pasuruan. Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur (Jatim) bersama Lembaga Alam Tropika Indonesia (LATIN) dan Eco Bhinneka Muhammadiyah menyiapkan Hutan Wakaf SITI KANAYA di ‘Aisyiyah Training Center (ATC) Jawa Timur, Pasuruan. Program ini dirancang sebagai model percontohan yang menggabungkan pelestarian lingkungan dengan pemberdayaan perempuan. 

Hutan wakaf tersebut akan dikembangkan di atas lahan wakaf sekitar 3.300 meter persegi di kawasan ATC. Program yang merupakan singkatan dari Sinergi Inovasi Transformasi dan Inklusi untuk Masyarakat Sejahtera itu mengusung semangat “Perempuan Berdaya, Hutan Lestari, Masyarakat Sejahtera.” 

Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan PWA Jawa Timur, Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PWA Jawa Timur, pengelola ATC, LATIN, dan Eco Bhinneka Muhammadiyah di Pasuruan, Senin (31/8/2026). Sehari sebelumnya, tim LATIN dan Eco Bhinneka Muhammadiyah melakukan koordinasi awal, survei, serta pre-assessment terhadap kondisi lahan.

Pertemuan itu menjadi tahap awal untuk menyamakan persepsi mengenai konsep hutan wakaf, menyusun rencana pengelolaan, sekaligus membagi peran antarunsur yang terlibat.

ATC Pasuruan Jadi Lokasi Percontohan

Ketua PWA Jawa Timur Rukmini Amar menyambut baik inisiatif tersebut. Ia mengarahkan agar pengembangan tahap awal selama lima bulan dipusatkan di ATC Pasuruan sebelum modelnya dikembangkan dan direplikasi ke wilayah lain.

Menurut Rukmini, kawasan ATC memiliki sejumlah potensi yang dapat dihubungkan dengan pengembangan hutan wakaf. Selain berfungsi untuk mendukung kelestarian lingkungan, kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang pembelajaran, edukasi, pemberdayaan perempuan, hingga ekowisata berbasis potensi lokal.

“Harapannya, pengembangan hutan wakaf ini dapat memperkaya pemanfaatan kawasan ATC sehingga keberadaannya semakin memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Rukmini.

Kepala ATC Jawa Timur Aminah Asminingtyas juga melihat program tersebut sebagai peluang untuk mengoptimalkan lahan dan fasilitas yang telah tersedia di kawasan ATC.

“Dengan adanya hutan wakaf ini, mudah-mudahan semakin memperkaya apa yang sudah kita manfaatkan di kawasan ATC, sehingga seluruh fasilitas dan lahan yang ada dapat memberikan manfaat yang lebih luas,” ujar Aminah.

Perempuan Didorong Jadi Penggerak

Selain aspek lingkungan, keterlibatan perempuan menjadi salah satu fokus utama program. Wakil Ketua PWA Jawa Timur Koordinator Bidang LLHPB Nelly Asnifati menilai keberhasilan program sangat bergantung pada keterlibatan ‘Aisyiyah sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan.

Menurut Nelly, pengelola harus memahami kondisi ekologis sekaligus karakter masyarakat di sekitar lokasi. Tim tersebut juga diharapkan mampu menggerakkan kader dan relawan perempuan yang telah ada.

“Yang penting ada orang yang memahami betul kondisi di sini, mulai dari kondisi tanah hingga situasi masyarakat. Tim ini juga harus mampu menggerakkan ibu-ibu, kader, dan relawan yang sudah ada,” ujar Nelly.

Pendekatan tersebut membuat Hutan Wakaf SITI KANAYA tidak hanya diarahkan sebagai ruang penghijauan. Program ini juga dirancang untuk membangun kapasitas masyarakat, terutama perempuan, agar terlibat dalam pengelolaan lingkungan sekaligus memperoleh manfaat sosial dan ekonomi dari kawasan tersebut.

Dikembangkan dengan Pendekatan Bentang Alam

Novan Aji Imron dari LATIN menjelaskan, tahap awal selama lima bulan akan digunakan untuk membangun fondasi pengelolaan hutan wakaf. Tahapannya meliputi penyusunan rencana kerja dan site plan, pengembangan kelembagaan pengelola, penanaman dan perawatan, serta peningkatan kapasitas.

Jenis tanaman yang akan dikembangkan akan mempertimbangkan potensi agroforestri, tanaman pangan, dan tanaman obat. Kawasan tersebut juga dibuka untuk pengembangan kegiatan edukasi dan ekowisata.

LATIN menggunakan pendekatan landscape atau bentang alam. Artinya, manfaat pengelolaan hutan wakaf tidak hanya diarahkan untuk lahan seluas 3.300 meter persegi, tetapi diupayakan terhubung dengan kondisi lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat di sekitarnya.

Pendekatan itu memungkinkan kawasan ATC dikembangkan sebagai bagian dari ekosistem yang lebih luas, termasuk dengan menghubungkannya dengan potensi wisata dan lingkungan di sekitar Pasuruan.

Sumiati Ditunjuk sebagai Koordinator

Direktur Eco Bhinneka Muhammadiyah Hening Parlan mengatakan pengembangan Hutan Wakaf Pemberdayaan Perempuan merupakan bagian dari upaya membangun model pengelolaan hutan wakaf yang memadukan konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, khususnya perempuan.

Untuk memastikan program berjalan di tingkat lokal, Ketua LLHPB PWA Jawa Timur Sumiati ditunjuk sebagai koordinator pengelolaan program. Selanjutnya, akan dibentuk tim kerja lokal yang melibatkan unsur ‘Aisyiyah, pengelola ATC, kader, dan masyarakat setempat.

Model yang dibangun di Pasuruan diharapkan menjadi pembelajaran sebelum diterapkan di daerah lain. Setelah tahap awal di Jawa Timur, Hutan Wakaf SITI KANAYA direncanakan dikembangkan ke Jawa Barat. 

Dengan demikian, lahan wakaf di kawasan ATC tidak hanya dipandang sebagai aset yang harus dipertahankan, tetapi juga sebagai ruang yang dapat menghasilkan manfaat ekologis, sosial, edukatif, dan ekonomi bagi masyarakat.